Pacar Amnesiaku Ternyata CEO

Pacar Amnesiaku Ternyata CEO
BAB 42


__ADS_3

Pak Yuda dan Bu Ayu pun diberangkatkan menuju pelabuhan yang terletak dipinggir kota Jakarta.


Sementara itu Nyonya Sri dengan antusias menunggu kedatangan mereka di dermaga yang terletak dipinggir kota Jakarta bersama suaminya, Pak Bambang.Mamanya Arya ini sibuk mondar-mandir sambil merangkai-rangkai kata untuk menyambut calon besannya.


"Aduh Pa,nanti Mama harus bilang apa dulu sama mereka,Mama bingung??."ujar Nyonya Sri kebingungan.


" Sudahlah Ma, sebaiknya Mama duduk dulu daripada mondar-mandir begitu.Rileks Ma, Tarik nafas, terus buang nafas pelan-pelan. "Pak Bambang mengajari istrinya agar rileks.Ia mengajak istrinya untuk duduk di kursi yang ada di dekat dermaga.


" Ah Papa,Mama masih gugup Pa, nih jantung Mama deg-degan."jawab istrinya itu.


"Ya nanti biarkan semuanya terjadi seperti air yang mengalir saja Ma.Mama gak usah khawatir,kan ada Papa.Mama cukup jaga sikap dan terus tersenyum saja kepada mereka." ujar Pak Bambang.


"Ih, Papa sih enak gak punya salah sama mereka lagi." sahut Nyonya Sri.


"Kata siapa Ma? ,justru salah Papa ke mereka itu yang paling kelewatan.Papa sudah buat Yuda dan orang tuanya berpisah puluhan tahun. " jelas Pak Bambang.


"Tapi salah Mama juga banyak.Mama udah sok dan sombong di hadapan mereka, terlebih lagi Mama selalu berkata-kata kasar sama putri mereka Pa. " rengek Nyonya Sri.


Pak Bambang malah tersenyum,ia senang jika Nyonya Sri sekarang sudah menyadari akan kesalahannya.


Satu jam kemudian,kapal yang mereka suruh menjemput calon besannya sudah tiba di Dermaga.Sambil menunggu Pak Yuda dan Bu Ayu keluar ,Nyonya Sri berusaha bersikap setenang dan seramah mungkin.


Setelah kapal bersandar, Pak Bambang segera menyambut calon besannya yang sudah ia nantikan itu.


Keduanya salaman dan disertai pelukan "Apa kabar Bro?. " sapa Pak Bambang.

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat Wira. Aku baik-baik saja. "jawab sahabatnya itu.


Sementara Nyonya Sri berusaha juga menyapa Bu Ayu. " Apa kabar Bu Ayu?."tanyanya dengan mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Bu Ayu sampai tertegun sejenak, seakan tak percaya kalau yang berada didepan nya saat ini adalah Nyonya Sri yang dulunya jutek itu. 😅😅Tumben banget kata-kata manis dan lembut itu keluar dari mulut Nyonya Sri yang sombong.


" Ah, maaf. Saya sampai tak percaya kalau ini Mbak yu.Kabar saya baik Mbak yu."Jawab Bu Ayu.


"Panggil saya Jeng aja,jangan Mbak yu . " ujar Nyonya Sri.


"Ba-baik ,Jeng Sri."Bu Ayu lagi-lagi di buat heran oleh sikap Nyonya Sri kepadanya yang berubah 180°.


Nyonya Sri meraih tangan kanan Bu Ayu dan menggenggam nya seraya mengelusnya pelan." Saya harap Jeng Ayu mau memaafkan semua kekhilafan dan sikap saya selama ini,saya benar-benar minta maaf Jeng.Kalau ingat sikap saya terdahulu terhadap Jeng Ayu dan keluarga, saya rasanya malu. "Wajah Nyonya Sri tertunduk didepan Bu Ayu.


" Sudahlah Jeng, sudah saya maafkan kok. Saya juga mau minta maaf sama Jeng Sri kalau saya juga ada salah sama Jeng baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. "ujar Bu Ayu.


" O iya,dimana Dilla dan Nak Arya, kok mereka gak kelihatan?. "tanya Bu Ayu, dia sudah kangen banget sama putrinya itu.


"Kalau jam segini Nak Dilla pasti sedang kuliah, kalau Arya, dia tadi pergi ke kantor dulu. Katanya dia akan jemput Dilla nanti dan mengantarnya kerumah keluarga Sucipto untuk bertemu dengan kalian. "jawab Nyonya Sri.


" Bagaimana kalau kalian main kerumah kami dulu,kalau pagi begini kan di Mansion Sucipto cuma Mama mu Yud,abis makan siang nanti baru kita kerumah Papa mu. "ajak Pak Bambang.


" Nanti ajalah Wira kerumah mu, aku pengen cepet ketemu sama Mama ku. Sudah lama sekali kami gak ketemu, mumpung Papa ku belum ada dirumah di jam segini, aku pengen ketemu sama beliau dulu. "ujar Pak Yuda.


" Kalau itu mau mu, oke aja."Pak Bambang mengajak suami istri itu menaiki mobil Alphard hitam miliknya."

__ADS_1


"Ujang,kita langsung menuju Mansion Sucipto ya?!."ujar Pak Bambang kepada supirnya Mang Ujang.


Bu Ayu dan Nyonya Sri duduk di kursi belakang, sedangkan Pak Yuda dan Pak Bambang duduk di kursi bagian tengah.


"Jeng pasti sudah gak sabar ya pengen ketemu Nak Dilla, sekarang dia sudah kuliah di Fakultas Kedokteran.Jeng Ayu pasti akan bangga punya anak sebaik Nak Dilla. " ujar Nyonya Sri lagi.


"Benar sekali Jeng, saya kangen banget, kami belum pernah berpisah selama ini dengannya. " jawab Bu Ayu.


"Sama Jeng, saya juga kangen.Sejak Nak Dilla tinggal dirumah Eyangnya saya merasa rumah kami menjadi sunyi. Saya jadi merasa kehilangan,Nak Dilla memang banyak membawa efek positif buat keluarga kami Jeng.Semoga nanti kami cepat-cepat bisa melamar Nak Dilla untuk Arya secara resmi dan memboyongnya kembali kerumah kami. " ucap Nyonya Sri.


Bu Ayu hanya menanggapinya dengan senyuman,karena didalam hatinya masih belum yakin seratus persen kalau perubahan sikap Nyonya Sri ini akan bertahan lama.


Bu Ayu juga bingung mau menggapainya bagaimana,ia hanya menoleh kearah suaminya seakan minta pendapat dari Suaminya, Pak Yuda.


"Soal itu nanti kita bahasnya dirumah Papa saya saja Jeng Sri,takutnya nanti Papa tidak suka dengan keputusan saya.Mari kita sama-sama bicarakan sama beliau. " ucap Pak Yuda.


Bu Ayu merasa lega dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya.


"Iya, baiklah Pak Yuda.Ini kita juga hampir sampai kayaknya, sudah belokan. " ujar Nyonya Sri.


"Mama tau dimana Mansion Sucipto?. "tanya Pak Bambang.


" Ya taulah Pa, keluarga Sucipto kan terkenal di Jakarta.Rumah yang paling luas dan paling besar dikawasan ini ya Mansion Sucipto ini. "jawab Nyonya Sri sambil sedikit gelagapan. Dia gak mau ketahuan kalau dia diam-diam sudah mencari semua informasi mengenai keluarga Sucipto semalam saat suaminya tertidur.


" O ya, kok kalian cuma bawa tas kecil Yuda?"tanya Pak Bambang, ketika melihat Tas travel jinjing yang dibawa oleh Ayahnya Dilla itu.

__ADS_1


"Iya,sengaja Wira,kami harus memastikan dulu apa maunya Papa sebenarnya. Takutnya kami sudah mengemasi semua barang kami dan membawanya kemari,tapi dia malah menyuruh kami untuk pergi lagi dari rumahnya." jawab Pak Yuda santai.


"Itu tidak mungkin Yud,aku yakin sekali Papa mu serius, beliau ingin kamu dan istrimu memang diminta untuk tinggal disana bersama putri kalian.apalagi kan sekarang beliau memang sudah tak muda lagi.Beliau juga bilang kalau beliau ingin istirahat dan memintamu untuk menggantikan dia memimpin perusahaan keluarga mu." ujar Pak Bambang dengan seyakin-yakinnya.


__ADS_2