
Pak Bambang dan Arya sudah dari tadi menunggu Dilla di parkiran gedung Fakultas Kedokteran,hampir 15 menit lamanya. Tapi kelihatannya gadis itu masih ada mata kuliah.
"Coba kamu telepon Dilla. " ujar Pak Bambang kepada putranya Arya.
"Tapi nanti ngeganggu Dilla belajar Pa, Arya Chat aja ya Pa. "jawab puteranya itu.
"Oke, begitu lebih bagus. " sambung Pak Bambang.
Arya pun mengeluarkan ponselnya, dia baru ganti ponsel, karena ponselnya yang dulu hilang entah kemana.Lalu Arya mengetikkan pesan untuk kekasihnya itu, Arya memberitahukan pada Dilla kalau dia dan Papanya sudah menunggu di parkiran.
Dilla yang ternyata sedang ada diruangan dosen mendengar bunyi ponselnya berdenting.
"Ya sudah, sekarang kamu bisa pergi.Senin depan kamu harus sudah mengumpulkan tugas dari saya. Karena kamu mahasiswi baru, jadi kamu harus banyak mengejar ketinggalan kamu sebelumnya. " ujar Bu Dosen.
"Baik Bu, terimakasih sebelumya. " jawab Dilla.
Dengan wajahnya yang imut dan manis, tak susah bagi Dilla untuk disukai semua orang, bahkan Bu Dosen ini pun sangat terkesan dengan gadis dari desa nelayan itu.
"Saya permisi dulu Bu, terimakasih bimbingannya. " ujar Dilla sambil mengulurkan tangannya untuk salim sama Dosen yang usianya pasti lebih tua dari Uwak nya sendiri.
Setelah keluar dari ruangan dosen, Dilla segera membuka ponselnya karena tadi ia mendengar sepertinya ada sebuah pesan masuk.
Ternyata benar, pesan itu dari Arya yang sudah menunggu dirinya di parkiran. Dilla segera mempercepat langkahnya agar cepat sampai di parkiran, karena dia juga gak enak kalau Arya dan juga Pak Bambang harus menunggu dirinya yang sudah terlalu lama gak keluar-keluar dari kampus.
"Nah itu Dilla Pa. "tunjuk Arya ketika melihat Dilla keluar dan menghampiri mereka.
" Oh iya. "ujar Pak Bambang.
Dilla mengetuk kaca mobil itu, Pak Bambang yang duduk disebelah supir menurunkan kaca jendela sebelahnya.
" Ayo naik Nak, kita segera berangkat. "ujar Pak Bambang.
" Baik Om. "
Supir Pak Bambang segera turun untuk membukakan pintu untuk Dilla.
"Silakan Non. " ujarnya.
"Terimakasih Mang. " jawab Dilla.
Mang ujang hanya mengangguk dan segera menutup pintu mobil lalu dengan cepat masuk ke mobil lagi untuk mengemudi.
Tibalah mereka di sebuah mansion yang halamannya sangat luas,ada air mancur didepannya menambah kesan mewah mansion milik keluarga Adi Sucipto yang tak lain adalah kakeknya Dilla ini.
Dilla berdecak kagum seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Om, apa benar ini rumah Eyangnya Dilla??. " tanya gadis itu.
__ADS_1
"Iya Nak, seharusnya kamu bisa menikmati semua milik keluarga Adi Sucipto ini. Karena kamu adalah putri dari anak laki-laki nya.Nanti juga kamu akan bertemu dengan Eyang mu. " Ujar Pak Bambang.
"Dilla takut Om, bagaimana nanti tanggapan Eyang? . "
"Kamu gak usah khawatirkan soal itu, kan ada Om dan juga Arya.Biar Om saja yang akan bicara duluan, nanti Om akan perkenalkan kamu sama Eyang mu. "ujar Pak Bambang.
" Iya Om. "jawab Dilla dengan anggukan kepalanya.
Ketiga orang itu keluar dari mobil Alphard hitam itu dan sekarang mereka sudah berdiri di depan pintu utama.
Arya memencet bel agar orang didalam tau kalau ada tamu yang datang.Tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka, Dilla tersentak,jantung nya semakin berdetak kencang.Melihat tangan Dilla yang gemetaran Arya dengan sigap menggenggam tangan gadis itu untuk menguatkan Kekasihnya itu.
" Tenang ya,ingat ada aku disini. Kita akan hadapi sama-sama. "ujar Arya sambil menatap mata Dilla dengan penuh keyakinan.
Dilla pun tersenyum dan mengangguk kepalanya.
" Ada perlu apa?? "tanya pelayan itu dengan sopan.
" Kami ingin bertemu dengan Pak Adi, apakah beliau ada dirumah?. "tanya Pak Bambang.
" Sebentar ya Tuan, saya tinggal sebentar, silakan anda semua menunggu di kursi itu. "tunjuk pelayan itu ke set kursi yang ada di teras.
" Baiklah. "ujar Pak Bambang.
Mereka terpaksa menunggu Tuan rumah di teras.
Dilla menatap mata tua itu dengan sendu, ingin rasanya ia berlari dan memeluk laki-laki yang merupakan Eyang nya itu, tapi apalah daya mereka belum saling mengenal.
Terpaksa Dilla harus bisa menahan keinginannya untuk entah sampai kapan, mungkin sampai Eyang nya itu mau mengakui dirinya sebagai cucu.
Laki-laki tua itu menatap Pak Bambang dengan tatapan tidak suka.Matanya membulat ketika melihat sahabat lama puteranya itu.
" KAU!!.... WIRA!?. "ujar Pak Adi.
" Eh, iya Om. Saya Wira sahabatnya Yuda."jawab Pak Bambang.
"Ada perlu apa kau kemari, dan siapa dua anak ini?. " tanya Pak Adi Sucipto.Laki-laki itu menatap Dilla dan Arya secara bergantian.
"Sebaiknya Anda duduk dulu Om,ujar Pak Bambang sambil menarikkan kursi untuk Pak Adi.
Untungnya Pak Adi mau duduk dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Pak Bambang.
Dilla semakin gemetar menantikan reaksi Eyangnya.
" Begini Om, maksud kedatangan saya kesini adalah mau meminta maaf atas kekhilafan saya dulu. "ujar Pak Bambang.
" Maksud kamu apa?!. "kening laki-laki tua itu semakin berkerut.
__ADS_1
" Sebenarnya dulu gan*a itu bukan punya Yuda, tapi sayalah yang membawa benda terlarang itu kerumah ini. Maafkan saya. "jelas Pak Bambang.
" Apa???!!!. "pak Adi tersandar di kursinya.
" Maafkan saya Om, saya tidak memang teman yang tak tahu diuntung.Gara-gara saya Yuda sama Om jadi tidak akur dan maksud kedatangan saya kesini yang kedua adalah... "Ucapan Pak Bambang terhenti sejenak.
" Mau apalagi kamu, jadi kamu yang sudah menyebabkan saya dan putera saya satu-satunya jadi bermusuhan selama dua puluh tahun lebih!. "Pak Adi sangat marah dan ingin meninggalkan mereka untuk masuk kedalam.
" Tunggu dulu Om,masih ada yang harus saya sampaikan.Ini mengenai Yuda dan juga cucu Om. "ujar Pak Bambang cepat.
" Cucuku? maksudmu??. "Pak Adi mengedarkan pandangannya pada Arya dan juga Dilla.
Senyum gadis itu mengingatkannya pada Pak Yuda.
" Anda benar Om,gadis cantik ini adalah putrinya Yuda. Dia adalah cucu kandung Om. "jelas Pak Bambang.
" Cucu ku?. "tanyanya meyakinkan dirinya sendiri.
Dilla pun mengangguk,naluri nya menuntunnya untuk memeluk Eyangnya.
" Eyang. "Dilla memeluk sang Eyang yang selama ini belum pernah ia temui.
Tapi Pak Adi sama sekali tidak membalas pelukan gadis itu.
" Lalu siapa pemuda ini? "tanya Pak Adi.
"Kalau yang ini, dia adalah putera saya Om. Namanya Arya,dia calon suaminya Dilla."Jawab Pak Bambang.
" Jadi, maksudmu Kau dan Yuda akan jadi besan??!lalu kemana anak itu? kenapa bukan dia yang datang kerumah ini untuk menjelaskan!. "
"Bukankah Om sendiri yang tidak mau mendengar penjelasan dari Yuda?.Saya mohon agar Om mau memaafkan saya dan juga mau menerima Yuda kembali sebagai anak Om.Saya tidak bisa menanggung beban dosa ini, saya mohon Om." Pak Bambang menautkan kedua tangannya didepan Pak Adi, memohon agar laki-laki itu mau berbelas kasih.
"Apa dia yang menyuruhmu membawa puterinya kemari??. "tanya Pak Adi.
" Tidak sama sekali Om,saya lah yang berinisiatif untuk mengenalkan Dilla sama Eyangnya. "
Sebisa mungkin Pak Bambang ingin menyatukan keluarga itu,agar rasa bersalahnya sama Pak Yuda bisa sedikit lenyap dari hatinya.
Dilla hanya menundukkan kepalanya, karena tadi tanggapan Pak Adi saat dia memeluk Eyangnya itu hanya ditanggapi dengan tatapan datar.
"Tunggu apa lagi sayang, sini peluk Eyangti "
Tiba-tiba keluarlah seorang wanita dengan dandanan anggun dan rambut yang ditata rapi.
Dilla dan semua orang beralih menatap wanita yang menyebut dirinya Eyangti.Wanita itu membuka kedua tangannya lebar-lebar agar cucunya itu bisa memeluk dirinya.
Dengan berderai air mata keduanya berpelukan.Sudah lama sekali wanita itu ingin bertemu dengan cucu perempuan, tapi selalu dihalangi oleh suaminya itu.Karena prinsip Pak Adi tidak bisa dilanggar, suaminya itu terlalu keras dalam mendidik anak.
__ADS_1
Berkali-kali uwak nya Dilla ingin mempertemukan Dilla dan Eyangti nya, tapi selalu saja rencana itu ketahuan dan akhirnya batal.