
Arya kembali mengetuk pintu kamar Dilla dan berniat mengajaknya untuk ikut makan malam bersama.
"Dilla,ayo kita turun kebawah.Sudah waktunya makan malam. " ujar Arya sambil mengetuk pintu kamar Dilla.
"Iya Bang, tunggu sebentar. " terdengar suara Dilla yang sepertinya sedang menuju kearah pintu.
Benar saja, gadis itu membuka pintu kamarnya dan menghampiri Arya yang sedang menunggu dirinya.
"Ayo kita makan malam dulu. " ajak Arya.
"Tapi.... " Dilla merasa tidak enak sekaligus takut sama Mamanya Arya, pasti Nyonya Sri tidak akan suka kalau Dilla ikut makan satu meja bersama mereka.
Gadis itu nampak ragu dan Arya juga tau akan hal itu.Diraihnya tangan kekasihnya itu agar bisa menyalurkan sedikit kekuatan pada gadis pujaannya itu.
"Dilla gak usah takut ya, kan ada Abang dan juga Papa. Anggap saja omongan Mamanya Abang itu seperti suara jangkrik di pulau. " ucap Arya sambil tersenyum kepada Dilla.
"Tapi Bang, sebenarnya Dilla juga malu,kalau nanti ada tunangannya Abang gimana?. " tanya gadis itu tidak percaya diri.
"Dengarkan Abang, kamu gak usah merasa Insecure sama gadis yang bernama siapa tuh,,,????" Arya nampak mengingat-ingat nama tunangan pilihan Mamanya.
"Siska Bang. " sahut Dilla.
"Iya, si Siska itu.Abang aja gak ingat sama dia dan Abang rasa hubungan Abang sama dia bukanlah sesuatu yang istimewa." jawab Arya.
"Tapi tetap saja Bang,Pasti dia lebih cantik dan lebih segala-galanya dari pada Dilla Bang" sahut Dilla.
"Kita hadapi bersama-sama ya, Dilla cukup duduk manis aja.Biar Abang yang mengatasi nya ." ujar Arya mencoba meyakinkan gadisnya.
"Kalau begitu, Dilla ganti baju dulu ya Bang. "
"Iya sayang. " jawab Arya.
Ucapan sayang itu membuat bulu kuduk Dilla meremang, bagaimana tidak hari ini sudah berapa kali Arya menyebutnya dengan panggilan sayang, rasanya panggilan itu terlalu nyata untuk Dilla.Sampai-sampai jantung Dilla jadi berpacu dengan cepat dibuatnya. 😁😁
"Dilla, ayo buruan."
Terdengar suara Arya dari luar pintu yang menyadarkan Dilla dari lamunannya.
Secepatnya Dilla berlari ke arah Tas besar yang berisi pakaiannya, dia memang belum menyusunnya ke lemari,karena dia takut kalau-kalau nanti diusir oleh Nyonya Sri yang selalu saja membuat hatinya terluka.
Jadi Dilla fikir sebaiknya barang-barang nya tetap didalam tas saja.
Dilla mengganti bajunya dengan gaun berwarna pink salem yang dulu pernah dibelinya saat tinggal dirumah uwak nya di kota.
Disisir nya rambutnya yang tebal dan halus dan dibiarkannya terurai begitu saja, selama ini Dilla selalu menguncir rambutnya, tapi kali ini dia juga ingin tampil beda.
__ADS_1
Dilla juga memakai cream wajah favoritnya dan sedikit minyak wangi yang selama ini jarang sekali dia pakai, lalu mengoleskan lipgloss tipis-tipis di bibirnya.Setidaknya Dilla tidak akan terlalu terlihat kampungan dihadapan dua wanita yang akan memerangi dirinya.
Dilla membuka pintu kamarnya dan langsung disambut dengan tatapan terpesona dari laki-laki yang sudah memenuhi hatinya itu.
Arya tak pernah melihat Dilla yang seperti ini, gadis itu seakan menghipnotis dirinya,mata Arya sampai tak berkedip sedikitpun melihat ke arah Dilla yang tampil cantik dan anggun walaupun sederhana.
"Abang, ayo katanya mau ngajak turun kebawah?. " ujar Dilla.
Ucapan Dilla ini mampu membuat Arya jadi gelagapan.
"Eeee,,, iya, sampai lupa Abang. " sahut Arya sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Abang kenapa?. " tanya Dilla bingung dengan sikap Arya.
"Ooo,itu... e.. Abang tadi terpesona sama kecantikan kamu sayang. Kamu kelihatan beda banget malam ini,ternyata kalau Dilla dandan kecantikan Dilla jadi berkali-kali lipat." puji Arya.
"Ah Abang bisa aja, Dilla cuma gak mau bikin Abang malu karena sudah membawa Dilla kemari. " jawab Dilla dengan wajah tersipu.
"Abang gak masalah kok, mau seperti apapun Dilla. Abang pasti akan terima dengan sepenuh hati Abang. "
"Abang janji tidak akan berubah pikiran?. " tanya Dilla.
"Tentu saja. " Jawab Arya dengan yakin sepenuh hati.
Arya menggenggam tangan Dilla dan membawanya turun ke bawah.Saat mereka melangkahkan kaki menuruni anak tangga, Siska menoleh ke arah tangga dan ia langsung terkejut melihat Arya yang segar bugar dan sedang menggandeng gadis yang katanya gadis dari desa nelayan, tapi ini kok bisa dandan dan wajahnya juga bentuk tubuhnya juga tidaknya kalah darinya.
Setelah tiba dibawah, pasangan itu langsung menuju ke meja makan. Disana sudah ada Nyonya Sri yang sedari tadi tersenyum sinis ke arah gadis yang datang bersama puteranya itu.
"Pelayan... pelayan.. "teriak Nyonya Sri.
Mbak Cici yang bertugas di bagian dapur dan penyajian makanan pun datang secepat kilat.
" Ada apa Nyonya?. "
Wajah Mbak Cici sampai keringat dingin.
"Tambahkan satu piring lagi,ada tamu yang tak diundang mau ikutan bergabung di meja makan ini!!. " ujar Nyonya Sri dengan nada merendahkan,dan tentu saja orang yang dimaksudkan adalah Dilla.
Sontak saja Arya dan Dilla saling berpandangan mendengarnya.Apalagi saat ini Nyonya Sri juga menatap Dilla nanar dengan tatapan tidak suka.
Tapi Arya menguatkan genggamannya pada tangan Dilla, seolah sedang menyalurkan kekuatannya agar Dilla bisa lebih tegar.
Arya membawa Dilla lebih mendekat ke meja makan, sekilas matanya melihat kearah Siska, gadis yang digadang-gadang akan dijadikan Mamanya menantu dirumah ini. Sepintas Arya seperti melihat sebuah bayangan sebuah peristiwa di benaknya.
Mata Arya sejenak terpejam dan mencoba mengingat-ingat sampai kepalanya terasa pusing.
__ADS_1
Arya kembali membuka matanya dan ia sadar kalau Dilla masih juga berdiri bersamanya, sehingga dia pun mencoba menepis bayangan itu.
Arya menarikkan kursi untuk gadisnya dan mempersilahkan Dilla untuk duduk disana.Setelah Dilla duduk dengan wajah terus tertunduk,Arya pun duduk di kursi sebelah nya.
Siska berpura-pura memasang wajah cemburu melihat pasangan itu,bibirnya bersungut-sungut seolah tidak terima karena Arya sudah berpaling darinya.
"Tante... " rengek Siska dengan wajah memelas sambil memegangi tangan Nyonya Sri.
"Sabar ya sayang, ayo kamu sapa Arya dulu. Kamu pasti kangen sama tunangan kamu kan?. "ujar Nyonya Sri dengan sengaja untuk memprovokasi Dilla.
Jelas saja Dilla merasa sakit hati dengan sikap yang ditunjukkan Nyonya Sri itu,tapi Dilla juga tidak mau terlihat lemah.Dilla mencoba untuk tetap tegar dan tersenyum.
Siska menghampiri Arya di kursi yang berseberangan dengan nya, dengan santai ia memeluk Arya dari belakang seolah dia sangat merindukan laki-laki itu.
Tentu saja sandiwara Siska ini membuat Dilla terluka, siapa yang tidak akan sedih ketika melihat orang yang dicintai dipeluk oleh wanita lain.
Namun sekuat hati Dilla harus bisa menahan emosi nya,apalagi Dilla juga melihat Arya yang sama sekali tidak menanggapi apa yang dilakukan Siska padanya ,Arya malah mencoba menghindari pelukan wanita itu dan mencoba melepaskan tautan tangan Siska di lehernya.
Dilla jadi merasa geli melihat kelakuan wanita itu,timbul senyum kecil disudut bibirnya.
" Mas Arya,kok kamu malah mau ngelepasin tangan aku sih??. "tanya Siska.
Wanita itu masih pura-pura tersakiti.
"Maaf,saya tidak merasakan getaran apapun saat kamu memeluk saya.tapi tadi sekilas saya malah terlintas bayangan yang sering menghantui saya belakangan ini. " ujar Arya.
"Apa maksud kamu Arya?!, kenapa kamu malah bersikap seperti itu sama tunangan kamu sendiri!. "sergah Mamanya.
"Maaf Ma, tapi Arya tidak merasakan apapun sama dia.Mungkin karena antara Arya dan dia memang tidak memiliki Ikatan perasaan apapun selama ini seperti apa yang Papa bilang kemaren. " jawab Arya tegas.
"Besok kamu harus ikut Mama ke dokter spesialis syaraf.Supaya kamu bisa di obati dan kamu jadi bisa mengingat kembali masalalu kamu bersama Siska. " perintah Nyonya Sri.
Mendengar itu, bukan hanya Arya dan Dilla yang terkejut, tapi Siska juga tak kalah kaget nya.
Tentu saja dia lebih khawatir kalau Arya bisa mengingat semuanya. Itu akan sangat berbahaya bagi dirinya dan juga kekasihnya Ringgo.
Wajah Siska mendadak berubah menjadi pucat pasih,ia jadi ketakutan, dan gemeteran. Walaupun ia mencoba menyembunyikan semua itu dari semuanya, tapi tetap saja wajah cemas dan khawatirnya itu bisa dibaca oleh Nyonya Sri yang duduk berhadapan kursi dengan Arya dan Dilla,dimana sekarang Siska juga berdiri disamping Arya.
"Ada apa sayang, kenapa muka kamu jadi tegang begitu? ".tanya Nyonya Sri sambil menatap Siska.
Arya dan Dilla jadi ikut kompak menoleh ke arah Siska.
"Ah gak da apa-apa tan-te, Siska cuma jadi bersemangat aja karena pengen Mas Arya cepat sembuh dan ingat sama Siska lagi. " jawabnya gagap.
"Sama, tante juga sayang.Ayo duduk lagi disebelah tante, gak usah dekat-dekat sama gadis dari desa nelayan itu,nanti kamu ketularan amisnya."
__ADS_1
'Entah dari mana dia bisa mendapatkan gaun itu, dan kenapa tampilannya jadi lebih modis seperti ini?. 'batin Nyonya Sri.
Lagi dan lagi ucapan Nyonya Sri ini sangat menyakitkan hati Dilla,ingin rasanya dia menjawab dan membalas, tapi untungnya Arya dengan sigap menggenggam tangan Dilla dan mengelus nya agar tidak terpancing.