Pacar Amnesiaku Ternyata CEO

Pacar Amnesiaku Ternyata CEO
BAB 45


__ADS_3

"Ampun sayang ampun, sudah hentikan. Nanti kita bisa celaka. " ujar Arya.


"Eh iya, maafin Dilla ya Bang. " jawab Dilla ketika ia sadar kalau tindakannya itu bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan.


Akhirnya Mobil yang dikendarai oleh Arya dan Dilla itu tiba juga di mansion Sucipto.Ternyata disana sudah ada mobil Papanya dan terdengar didalam sana suara riuh, Dilla dan Arya pun turun dari mobil dan langsung bergegas masuk kedalam Mansion Sucipto.


Ternyata disana sedang terjadi makan siang bareng yang disertai tangis kebahagiaan dari Eyangti yang tak hentinya menangis bahagia sambil memeluk putera tercintanya Pak Yuda.


Bu Ayu yang melihat kedatangan Dilla dan Arya menjadi sumringah,rasa rindunya kepada sang putri tunggal seketika terobati saat anaknya itu berlari kedelapannya.


"Ibu, Dilla kangen sama Ibu. " ucapnya.


"Ibu juga kangen sayang. "ucap Bu Ayu sambil mengelus puncak kepala putrinya.


Selama ini, walaupun mereka sering ber telponan tapi terasa berbeda dengan bertemu langsung


Dilla juga sungkem dan memeluk sang Ayah,rasanya bahagia sekali bisa bertemu dengan orang-orang terkasih.


"Mama senang banget Yuda, akhirnya Mama bisa bertemu sama kamu, istri dan juga anak kamu. Sudah lama Mama menantikan hal ini. " Ucap Eyangti nya Dilla sambil terisak.


Bu Ayu juga dipeluk oleh Ibu mertuanya itu. Tiba-tiba terdengar suara bariton seorang pria, yang tak lain adalah Eyang Pak Adi Sucipto.


"Apakah kalian melupakan aku?. " ujarnya yang baru saja pulang dari kantor.


Sontak saja Pak Yuda dan yang lainnya menjadi tegang, suasana yang tadinya hangat dan melankolis berubah menjadi angker dan menegangkan.


Pak Adi berjalan mendekat ke arah meja makan besar itu.Hal pertama yang ia lakukan adalah mendekati putranya yang dulu sempat dia usir dari rumah besarnya itu.


Pak Yuda tak kuasa menahan buliran bening dari matanya.Akhirnya dengan perlahan Pak Yuda berjalan ke arah sang Ayah yang kini rambutnya sudah dipenuhi dengan warna putih.


Pak Adi yang memiliki sifat keras itu akhirnya luluh juga, ia membuka kedua tangannya lebar-lebar dan menyambut sang Putera ke dalam pelukannya.


"Papa, maafkan Yuda Pa. " rengek Pak Yuda kepada sang Papa.Sebagai anak sudah seharusnya dia yang duluan meminta maaf walaupun dia gak bersalah.


"Justru Papa yang seharusnya meminta maaf sama kamu Yuda.Selama ini Papa sudah terlalu keras sama kamu, Papa juga egois dan tidak memikirkan akibatnya sebelum bertindak.Papa bahkan tidak percaya dengan ucapan putera Papa sendiri karena terlalu dibutakan oleh emosi.Maafkan Papa ya sayang, Papa sudah setua ini,tapi Papa baru bisa mengerti akan semua kesalahan yang sudah Papa lakukan ke kamu, kamu jadi banyak menderita karena Papa. Sekali lagi maafkan Papa ya Nak. " Keduanya kembali saling berpelukan.


"Yuda gak pernah merasa Papa jahat, lagi pula selama ini Yuda juga bisa mendapatkan banyak pelajaran dari segala yang terjadi, Yuda tidak akan menyesalinya Pa.Terimakasih karena Papa sudah mau menerima Yuda dan keluarga Yuda lagi. " ujar Pak Yuda.


Pak Adi tiba-tiba melepaskan pelukannya,Pak Yuda jadi bingung kenapa sang Papa akhirnya melepaskan pelukan mereka setelah mendengar kata-kata keluarga yang diucapkan oleh Pak Yuda.

__ADS_1


"Iya, Papa juga bersalah pada istrimu. Dimana dia Yuda, Papa ingin bertemu dan meminta maaf. " ucap Pak Adi.


Mendengar itu, Bu Ayu menjadi gemeteran.perlahan Pak Yuda menghampiri istrinya dan membawanya kehadapan sang Papa.


"Ini istri Yuda Pa,Papa mungkin sudah tau namanya Ayudia. " Pak Yuda memperkenalkan Bu Ayu kepada Papa mertua.


"Kamu Ayu, istrinya Yuda?. " tanya Pak Adi.


Bu Ayu dengan sedikit takut ,menganggukkan kepalanya dihadapan Papa mertua.


"Jangan takut Nak, maafkan Papa.Mulai hari ini keluarga kita akan berkumpul sebagai keluarga besar yang utuh." ujar Pak Yuda.


Bu Ayu hanya bisa tertunduk mengangguk dan mencoba menyalami Papa mertuanya. Tanpa diduga, Pak Adi pun menyambut uluran tangan sang menantu dengan hangat. Semua yang ada disana jadi terharu, akhirnya gunung es itu mencair juga.


Suasana yang tadinya menegangkan kini berubah seketika menjadi hangat kembali.


"Sudah.. sudah, kita lupakan semua hal yang menyakitkan itu.Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita nikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan. " ajak Eyangti.


Dilla mengajak Arya duduk dikursi makan. Tapi kali ini Dilla duduk ditengah-tengah kedua orang tuanya,begitu juga dengan Arya, ia duduk diantara Mama dan Papa nya. Sementara Eyangti dan juga Eyang duduk berseberangan.


"Ayo silakan dinikmati. " ujar Pak Adi.


Pak Bambang dan Nyonya Sri pun tersenyum bahagia melihat calon besannya itu akhirnya bisa berbaikan lagi dengan orang tuanya.


Setelah acara makan bersama, para pelayan dirumah itu dengan sigap membersihkan meja makan, dan kini mereka semua sedang duduk di sofa besar yang melingkar diruang keluarga sambil berbincang hangat.


Tentu saja bahasan yang akan dibahas tak lain dan tak bukan adalah masalah pasangan muda yang masih belum ada kejelasan yang pasti itu.


"Jadi sekalian mumpung kita sedang berkumpul disini,bagaimana kalau kita sekalian membahas soal hubungan Dilla cucu saya dan juga putra mu itu Wira. " ujar Pak Adi.


Pak Bambang dan Nyonya Sri saling bertatapan sesaat dan keduanya pun tersenyum bahagia, apalagi Arya, dia jadi deg-degan.Entah apa yang akan dibicarakan sama Eyang dari kekasihnya itu.


"Bagaimana maksudnya Om,apakah kita akan segera melakukan proses lamaran?. " tanya Pak Bambang yang dikenal dikeluarga Pak Adi dengan nama Wiraguna.


"Bagaimana kalau kita melaksanakan pertunangan mereka dulu saja. Pernikahan kan bisa setelah Dilla lulus kuliah. " ujar Pak Adi.


Semua orang jadi ternganga,ada raut kecewa di wajah mereka semua. Terutama Arya dan juga Pak Yuda.


"Maaf Pa, kalau menunggu Dilla lulus dari kuliahnya dulu, apa itu tidak terlalu lama.Yuda hanya khawatir kalau nanti Nak Arya akan terlalu lama menunggu. " Arya merasa kalau calon mertuanya itu sangat mengerti apa yang ada didalam benaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu,bagaimana menurut kamu Wira?. " tanya Pak Adi.


"Kalau menurut saya nih Om,saya setuju sama Yuda.Bagaimana kalau mereka bertunangan yaaa mungkin selama satu tahun untuk saling mengenal lagi dan juga menunggu gosip yang menerpa Arya reda mengenai mantan tunangnya, barulah kita nikahkan mereka. " ujar Pak Bambang.


"Justru karena gosip itu,aku ingin pernikahan mereka setelah Dilla lulus saja.Lagi pula usia Dilla kan masih sangat muda untuk berumah tangga. " ujar Pak Adi.


Semua nampak berfikir , benar juga apa yang dikatakan oleh Eyang nya Dilla itu.Arya memang sudah dewasa, tapi Dilla dia masih sangat muda sekali.


"Kita ambil jalan tengah nya saja,gosip yang beredar lambat laun juga akan hilang juga.Mereka ini masih muda,tapi memang sebaiknya kita tidak menunda-nunda hal baik hanya karena sebuah gosip. Lagipula disini Nak Arya kan adalah korban,dan kasus ini juga hampir disidangkan.Tidak salah kalau kita membuat berita kalau Arya dan Dilla kita tukangkan atau kita jodohkan. Apalagi Yuda dan juga Wira kan memang teman lama,setidaknya tidak akan ada yang akan menyalahkan Arya. Karena memang Arya gak bersalah, bukan Arya yang berkhianat, tapi wanita itu. " ujar Nyonya Sri.


"Eh,Mama tumben pinter.Kemarin Mama bilang tunda dulu." bisik Pak Bambang ditelinga istrinya.


"Benar apa kata Jeng Sri, untuk apa kita menunda hal baik. Saya selaku Ibu dari pihak perempuan, lebih merasa nyaman dan aman kalau mereka benar-benar sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan. Iya kan Jeng Sri. " ujar Bu Ayu.


Pak Adi menghela nafas panjang mendengar penolakan dari menantunya itu, dia tak menyangka kalau istrinya Pak Yuda yang berasal dari kampung bisa juga berkata sebijak sebijak itu dan sangat berani.


"Baiklah, bagaimana dengan pendapat kamu Arya?. " tanya Pak Yuda.


"Kalau Arya sih, pengennya cepet nikahin Dilla Om.Soalnya sehari saja tak bertemu Dilla, Arya rasanya gak sanggup. " seloroh Arya.


"Bisa saja kamu Nak. " Pak Yuda tersenyum puas mendengar jawaban Arya.Namun tidak dengan Papanya Pak Adi Sucipto yang sekarang wajahnya kembali di tekuk.


Ternyata tak ada seorangpun disana yang mendukung keputusannya.


Dilla hanya tertunduk malu sambil sesekali melirik kearah Arya yang duduk berseberangan dengan dirinya.


"Tuh lihat, calon mempelainya malu-malu saling menatap. " ujar Eyangti.


"Ya sudah kalau begitu, kali ini Papa rasa apa yang kalian semua bilang ada benarnya. Memang sebaiknya mereka segera melakukan acara lamaran dan lanjut tunangan, lalu tahun depan kita akan menikahkan mereka.Setidaknya mereka punya waktu untuk saling penjajakan. " ujar Eyang.


"Tapi ingat, dimasa setahun pertunangan kalian, Dilla akan dikawal kemana-mana dengan dua orang bodyguard.Jadi kamu gak akan bisa macam-macam sama cucu saya, ingat itu Arya. " sambung Pak Adi.


"Iya Eyang, Arya akan menjaga Dilla sebaik mungkin, karena Dilla memang adalah satu-satunya wanita yang ingin Arya nikahin. Arya janji sama Eyang, Arya tidak akan pernah mengecewakan Eyang dan semuanya. " janji Arya dengan mantap.


"Baiklah, kalau begitu kalian lanjutkan saja ngobrolnya, saya mau kekamar dulu. Mau bersih-bersih. " Ujar Pak Adi, dan ia pun berlalu ke kamarnya setelah mendapatkan anggukan dari semua orang.


Dilla dan Arya saling tersenyum dengan wajah berbinar dan saling lempar kedipan mata.


"Tuh, lihat Jeng. Mereka kayaknya udah gak tahan ingin cepat setahun aja. " ujar Nyonya Sri kepada Bu Ayu Yang duduk tak jauh darinya.

__ADS_1


"Iya Jeng.Jeng benar. " sahut Bu Ayu kompak.


__ADS_2