Pacar Amnesiaku Ternyata CEO

Pacar Amnesiaku Ternyata CEO
BAB 23


__ADS_3

Arya mengajak Dilla kebawah sesuai perintah Papanya dan membawa gadis itu menuju ke arah dapur.


"Mbak,tolong sediain gorengannya sama teh manis.Nanti bawakan ke teras samping ya. " ujar Arya sopan.Lalu pemuda itu menggandeng tangan Dilla dan membawanya duduk dikursi santai yang ada diteras samping rumah.


"Iya Den. " sahut Mbak pelayan bagian dapur yang bernama Cici.


Tapi Arya tidak hafal namanya,maklumlah dia kan amnesia.


"Tumben ya Den Arya sekarang jadi lebih sopan ngomongnya,biasanya dia gak jauh beda kayak Mamanya yang kayak mulut Srigala.Kalau merintah orang gak pernah pake kata-kata yang baik. " batin Mbak Cici.


Mbak Cici pun menghidangkan sepiring gorengan dan juga dua gelas teh manis dimeja yang ada di hadapan Dilla dan Arya.


Sepasang sejoli itu kini sedang menikmati makan gorengan sambil ngobrol dan minum teh manis buatan Mbak Cici.Mbak Cici orangnya tak terlalu tua, mungkin baru 30 an.


Asyik mengobrol, Arya dan Dilla tidak sadar kalau sekarang sudah hampir magrib,tapi karena melihat langit yang mulai menggelap Dilla jadi sadar kalau sekarang sudah waktunya masuk kedalam rumah dan bersiap sholat Magrib.


"Bang, masuk yuk. Ini sudah hampir Magrib loh,ayo kita siap-siap untuk sholat. " ajak Dilla sambil mengangkat nampan berisi piring gorengan dan juga gelas teh manis yang sudah kosong.


"Eh, iya udah mau Magrib Biasanya kalau di kampung kan ada suara masjid yang sudah memutar radio pengajian.Tapi disini jauh dari masjid. "jawab Arya.


Maklumlah,mansion mereka memang terletak di tengah-tengah lahan yang sangat luas, dikelilingi pepohonan yang rindang dan juga rerumputan hijau bak safana.


Dilla berjalan terlebih dahulu dan masuk kedalam rumah bermaksud menaruh nampan itu di dapur, tapi sayang sekali,dia dicegat oleh Mamanya Arya.


" Hey gadis kampung,apa yang sedang kamu lakukan?!."tanya Nyonya Sri ketus.


"Saya sedang menaruh nampan dan piring kotor Tante, eh Nyonya. "


"Jangan lupa kamu itu numpang disini, jadi kamu juga harus mencuci piring bekas kamu makan. " ujar Nyonya Sri lagi.


"Ada apa lagi sih Ma??, kenapa Mama selalu kasar sama Dilla. Mama lupa ya kalau dia adalah calon istri Arya."


" Calon istri,calon istri.Jangan mentang-mentang Papa mu mengizinkan dia tinggal disini, kamu mengira dia bisa jadi menantu dirumah ini ya. "ujar Nyonya Sri ketus.


Rasanya ingin sekali Dilla membalas ucapan wanita itu,namun sebisa mungkin ia menahan bara amarah didadanya.Dilla hanya bisa meremas ujung baju yang ia kenakan sambil menundukkan kepalanya karena tak sanggup melihat wajah Nyonya Sri yang penuh amarah.

__ADS_1


" Sudahlah Ma,sampai kapan Mama mau marah-marah sama Dilla.Kasihan Dilla Ma, Arya yang mengajak dia tinggal disini, bukan Dilla yang mau awalnya. "jelas Arya.


"Halllah, memang itulah muslihat wanita ini. Pasti dia memang mengharapkan balasan dari kebaikannya sama kamu,mana ada didunia ini yang benar-benar tulus.Pasti dia sangat ingin jadi menantu orang kaya seperti Papa dan Mama mu ini. " tukas Nyonya Sri.


Entah berapa banyak lagi hujatan yang akan diterima Dilla dirumah itu,setiap bertemu dengan calon Mama mertuanya itu Dilla selalu saja mendapatkan luka dihatinya.


Luka fisik mungkin masih bisa diobati,tapi luka bathin akan sulit sekali untuk dihapuskan.


Arya menggenggam tangan Dilla dan membawa gadis itu berlalu ke atas,dia tidak mau kalau Mamanya terus saja memojokkan Dilla, gadis yang sangat di cintainya itu.


Sesampainya di lantai atas,Arya menggenggam kedua tangan Dilla dan menghadapkan tubuh gadis itu kearahnya.Dilla masih tertunduk pilu menahan kesedihan di matanya.


"Dilla,tolong maafkan Mamanya Abang ya. Abang juga akan berusaha meyakinkan Mama agar dia bisa menerima hubungan kita" ujar Arya sambil membelai rambut gadis itu.


"Dilla ngerti kok Bang, tapi Dilla gak janji kalau Dilla akan tahan dengan sikap Mamanya Abang yang menurut Dilla sangat membenci Dilla Bang. "


"Abang tau sayang,tapi Abang harap Dilla bisa bersabar ya dengan sikapnya Mama.".


" Iya Bang, Dilla akan usahakan. "


Magrib sudah berlalu bahkan hampir Isya, Dilla sengaja tidak turun karena belum ada yang memanggilnya untuk turun kebawah,lagian perutnya masih terasa kenyang karena tadi makan gorengan.Lebih baik dia mengaji saja dari pada turun dan mendengarkan ocehan Nyonya Sri.


***


Sudah jam 7 malam,Dilla sedang mengerjakan sholat Isya dikamarnya.Tapi dilantai bawah sudah banyak keceriaan yang terjadi yang Dilla lewatkan.


Ternyata sekarang Siska sudah tiba dirumah itu,dengan penuh percaya diri ia memasuki Mansion keluarga Sudjatmiko.Siska menggunakan pakaian seksi yang membentuk lekukan tubuhnya.


Gaun berwarna cream dengan belahan panjang sampai kepaha melekat ditubuhnya.


Dengan penuh suka cita Nyonya Sri menyambut kedatangan calon mantu kesayangannya itu.


"Sayang." sambut Nyonya Sri sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Siska.


"Tante, dimana Arya?. Siska kangen. " ujarnya manja kepada Nyonya Sri.

__ADS_1


"Ada di atas,nanti Tante akan suruh Rahmi memanggilnya. " ujar Nyonya Sri.


Lalu dengan lembut Nyonya Sri mengajak calon mantunya itu langsung meja makan dan mempersilahkan Siska duduk dengan nyaman.


"Rahmi, coba kamu panggilkan Arya agar secepatnya dia turun dan makan malam bersama.Jangan bilang kalau ada Nona Siska ya,biar Surprise."ucap Nyonya Sri.


" Baik Nyonya. "


Bik Rahmi sampai berlari menaiki tangga saking semangatnya.


"Den... Den.. Arya. " panggil Bik Rahmi sambil mengetuk pintu kamar Arya.


"Iya."


Arya membuka pintu dan mendapatkan salah satu asisten rumah tangganya ada di depan pintu sambil cengengesan.


"Ada apa?. "


"Kata Nyonya, Den Arya disuruh turun kebawah buat makan malam. "jawab Bik Rahmi.


" Nama Bibik siapa?. "tanya Arya.


" Saya Rahmi Den. "


"Oh Bik Rahmi, maaf ya saya belum bisa mengingat nama Bibik."


"Ah gak masalah kok Den,ayo Den kita turun.Takutnya nanti saya dimarahin Nyonya.


" Bibik turun aja duluan, saya mau panggil calon istri saya dulu biar saya bareng Dilla aja"jawab Arya.


"Ha???, tapi....tadi Nyonya nyuruhnya Den Arya aja. " ujar Bik Rahmi kebingungan.


"Udah Bibik turun aja, masa' Mama gak bolehin Dilla makan bareng kita." Arya menggaruk lehernya yang tak gatal.


'Masa iya sih, Mama setega itu.Aku harus bicara sama Mama soal ini.Kalau sampai Mama tidak bisa bersikap baik kepada Dilla, maka aku akan memilih pergi dari rumah ini.'pikir Arya.

__ADS_1


"


__ADS_2