Pacar Amnesiaku Ternyata CEO

Pacar Amnesiaku Ternyata CEO
BAB 41


__ADS_3

Nyonya Sri terus melihat ke arah Pak Bambang, suaminya itu sedang berjalan menghampiri dirinya dan juga Arya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Ada apa sih Pa, pake nangis tapi kok sambil senyum-senyum gitu, kayaknya senang banget, abis menang lotre??. " tanya Nyonya Sri.


"Papa senang banget Ma, akhirnya Yuda setuju untuk pulang ke Mansion Sucipto Ma.Papa sedikit bisa bernafas lega, karena bisa bebas dari rasa bersalah yang sudah menghantui Papa belakangan ini. "


"Jadi kalau begitu, kita bisa langsung membicarakan tentang pernikahan mereka Arya dan Dilla dong Pa. " ujar Nyonya Sri.


"Mama ini maunya tho the point aja. Nanti dulu dong Ma. Arya kita kan juga belum pulih benar.Tunggu sampai Arya siap, baru kita nikahkan mereka. "sahut Pak Bambang.


" Tapi kalau dari pihak sana minta dipercepat, gimana?. "tanya Nyonya Sri,tentunya ada berbagai kemungkinan kan 'fikir nya.


" Kayaknya gak mungkin begitu Ma,kan berita putusnya pertunangan Arya sama si Siska itu juga baru diketahui masayarakat luas.Masa sudah mau membahas soal pernikahan dengan gadis lain lagi. Nanti apa kata semua orang Ma, yang ada anak kita. "


"Iya juga ya Pa.Kalau begitu ditunda dulu lah soal itu.Kita kelarin dulu urusan sakitnya Arya juga masalah kasus dengan Siska. Pasti kita juga akan dipanggil dipersidangan kan.Pokoknya Mama ingin wanita itu dan juga pacarnya dihukum seberat-beratnya.Selama ini Mama sudah terlalu baik dan memanjakan dia,tak perduli berapapun uang yang ia habiskan.Tapi ternyata dia hanya memanfaatkan ketulusan Mama, kasih sayang Mama.Mama gak akan kasih ampun kali ini. " Nyonya Sri benar-benar geram kalau ingat sama Siska dan penghianatan nya.


Sebenarnya sejak kejadian di pinggir jalan itu,nyonya Sri diam-diam menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang hubungan Siska dengan Pemuda yang ia temui sedang bersama Siska waktu itu. Nyonya Sri juga menyelidiki akun media sosial Siska, dan betapa terkejutnya dia saat melihat begitu banyak foto laki-laki yang berfose mesra bersama Siska.Dan laki-laki itu adalah Ringgo yang ia temui kemaren.Nyonya Sri baru menyadari hal itu sekarang.


"Alhamdulillah, satu masalah yang besar sudah selesai Ma. "


"Iya Pa, sekarang kita harus fokus untuk memperbaiki diri. Mama besok pengen banget ikut Papa ketemu orang tuanya Dilla.Sekalian Mama juga mau minta maaf sama Bu Ayu dan Pak Yuda atas sikap Mama selama ini sama mereka."

__ADS_1


"Arya juga Pa, Arya udah kangen sama Dilla. " sambung Arya.


"Kalau Papa mau antar mereka ke kediaman Sucipto, Mama juga mau ikut ya Pa,Mama juga mau minta maaf sama Dilla Pa, karena selama ini Mama selalu bersikap kasar dan selalu menyakiti hatinya.Kali ini Mama pengen banget bisa dekat dengan calon mantu Mama itu. "


"Alhamdulillah kalau begitu Ma,Papa setuju sama sikap Mama.Besok Mama dan kamu juga Arya, kita sama-sama menjemput Yuda ke dermaga ya.Papa sangat senang sekali kalau Mama bisa berubah jadi lebih baik dari sebelumnya, bukan berarti selama ini Mama gak baik, bukan. Tapi Papa sangat senang sekali karena perlahan-lahan keluarga kita yang dulunya jarang banget ngumpul akhirnya bisa bersatu dan kembali hangat seperti keluarga pada umumnya.Semoga kedepannya keluarga kita akan terus dan selalu seperti ini ya Ma. " Pak Bambang menarik tubuh istrinya agar mendekat ke arah nya dan dipeluk nya tubuh istrinya itu, begitu pula dengan Nyonya Sri, ia pun membalas pelukan suaminya.


Arya pun jadi tersenyum bahagia menyaksikan kedua orang tuanya bahagia.


*****


Arya sudah kembali ke kamarnya.Bolak-balik ia mengecek ponselnya berharap akan ada pesan dari Dilla sang kekasih.sudah dua hari mereka tidak bertemu.Rasa rindunya pada pujaan hatinya itu mulai menggunung, beruntung sekali walaupun ingatan lamanya sudah kembali, tapi dia tidak melupakan ingatannya pada waktu yang belum lama terjadi, bisa dibilang kalau ingatan Arya sudah pulih total. Tapi dia masih harus memeriksakan dirinya sekali lagi agar lebih pasti.


Tetapi lama sekali tidak diangkat-angkat, Arya mulai frustasi, ada apakah gerangan. Kenapa Dilla tak kunjung mengangkat telepon dari dirinya.


Sedangkan di tempat berbeda, tepatnya di Mansion Sucipto.Dilla tengah disibukkan dengan kertas-kertas, buku-buku tebal dan juga laptop di hadapannya.


Dilla tengah sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya kemaren.Saking sibuknya Dilla sampai tidak tau kalau ada telepon dari Arya dari tadi.


"Apa dia lagi sibuk ya, gak biasanya dia gak angkat telepon dari aku. " gumam Tsabit.


"Ah, sudahlah besok saja aku temui Dilla dikampus nya. Aku juga sekalian akan beritahu dia kalau aku sudah mengingat semua masalalu aku.Tapiii jangan-jangan dia sudah melihat beritanya di TV. Apa karena itu dia tidak mau menjawab telepon dariku?.Bukankah seharusnya dia senang kalau aku dan Siska sudah selesai, Arghhhh... " Arya menyugar rambutnya. Dia benar-benar bingung sekarang.

__ADS_1


*****


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Pak Yuda dan istrinya Bu Ayu sudah siap-siap untuk berangkat ke kota.Untuk sementara usaha kapal nelayan milik Pak Yuda ia percayakan pada salah satu anak buah kapalnya untuk merawat dan menggunakannya selama ia ke Kota.Karena Pak Yuda sendiri belum begitu yakin apakah Papa nya serius ingin menerimanya kembali ke keluarga Sucipto atau hanya bualan Pak Bambang semata. Oleh sebab itu, Pak Yuda hanya menyuruh Bu Ayu untuk membawa beberapa setel pakaian saja didalam tas travel jinjingnya.


Sementara untuk rumahnya ia titipkan langsung pada Pak kadus dan istrinya yang sudah ia kenal dekat selama ini.


Pak Yuda dan Bu Ayu sudah sampai di dermaga dan ternyata kapal yang akan menjemput mereka sudah mendarat di sana.


Sebenarnya Bu Ayu sempat ragu untuk ikut, ia takut kalau bertemu dengan mertuanya, apalagi Papa dari suaminya itu terang-terangan tidak merestui pernikahan mereka.


Bu Ayu ingat betul saat meminta restu setelah pernikahan mereka waktu itu, Pak Adi Sucipto malah meminta Pak Yuda suaminya untuk membawa istrinya keluar dan jangan kembali lagi kerumah itu.Ucapan mertuanya itu kini kembali terngiang-ngiang ditelinga Bu Ayudia.


"Bu,ayo naik ke kapal. " ajak Pak Yuda sambil mengulurkan tangannya kepada istrinya yang membeku tak mau beranjak.


"Kenapa Ibu malah bengong disitu?." tanya ujar Pak Yuda.


"Ah,iya mas. " Bu Ayu tersadar dari lamunannya dan berkata dalam hatinya."Demi Dilla Ayu, demi Dilla.."ujarnya pada diri sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2