
Hari pertunangan antara Arya dan Dilla akhirnya datang juga, kabar itu juga sampai ke telinga Satria.Bagaimana tidak, dia adalah salah satu orang yang disibukkan oleh urusan pertunangan ini.
Sebagai sekretaris pribadi Arya, Satria diminta melakukan ini dan itu yang menyangkut urusan pertunangan.Rasa nyesek dihati Satria benar-benar tak tertahankan, ingin rasanya ia membatalkan pertunangan Arya dan Dilla lalu mengakui perasaannya kepada Dilla. Tapi setelah Arya tau kalau ternyata Dilla bukan lagi sama dengan Dilla yang dulu ia kenal di desa, Satria jadi minder.
Satria baru tau saat diminta untuk mengurus soal surat undangan yang tertulis Dilla sebagai cucu perempuan dari Bapak Adi Sucipto. Siapa yang tak kenal dengan Adi Sucipto yang merupakan pengusaha ternama, seorang Konglomerat di Jakarta.
Seketika nyali Satria menciut dan parah nya lagi dia baru tau kalau sekarang Pak Yuda dan juga Bu Ayu sudah pindah dari Pulau ke Jakarta dan sekarang sudah kembali tinggal dirumah keluarga besar Pak Adi Sucipto.
Arya meminta Satria untuk mengantarkan gaun pertunangan dari perancang kepada Dilla dikediaman Eyang nya.
Dari situ Satria jadi tau, dimana Dilla tinggal sekarang.Perasaan Satria benar-benar harus layu sebelum berkembang, menyaksikan Dilla yang terlihat begitu bahagia dengan kehidupan barunya.
Dilla yang sedang bermanja-manja bersama Bu Ayu dan Eyangti nya di teras rumah sangat terkejut karena ternyata yang barusan datang adalah Satria, begitu pula dengan Bu Ayu.
Bu Ayu tahu betul bagaimana perasaan putri nya itu dulu terhadap Satria, laki-laki yang kini ada dihadapan mereka dengan membawakan kotak yang berisi gaun pertunangan putrinya.
Dari sorot mata Satria, Bu Ayu bisa mengetahui kalau saat ini,pemuda itu sedang merasakan kecewa yang amat dalam sehingga kesedihannya terlihat dimatanya yang tak lepas menatap Dilla.
"Eh.. Kak Satria,apa ada yang bisa Dilla bantu?. " sapa Dilla ramah.
"Eeee, ini Dill. Titipan dari Pak Arya.Beliau masih ada rapat, jadi beliau meminta Kakak untuk mengantarkan gaun yang sudah diambilnya dari butik. " ujar Satria.
Tatapan mereka sejenak bertemu.Entah kenapa Dilla juga merasakan apa yang tadi dirasakan oleh Bu Ayu.Kelihatan sekali wajah murung pemuda itu,sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja.
"Kak Satria kenapa?, kok wajah Kakak pucat amat?. " tanya Dilla sambil terus memperhatikan wajah pemuda dihadapannya.
Bu Ayu yang sangat pengertian menyuruh putrinya itu untuk mengajak Satria duduk dulu.Karena Dilla merasa gak ada salahnya kalau dia mendengarkan apa yang dikatakan sang Ibu, Dilla pun mengambil kotak yang dibawa oleh Satria dan menaruhnya di meja, lalu dengan tanpa canggung ia menarik Satria menuju kursi yang ada di taman.
__ADS_1
Satria yang kaget karena gerakan spontan dari Dilla jadi hanya bisa bengong melihat tangannya yang ditarik oleh Dilla.
Dilla mengajak Satria untuk duduk di Kursi yang berbahan besi itu.
"Ada apa sih Kak Satria, kok Dilla lihat wajah kakak sedikit pucat. Apa Kakak lagi gak enak badan ?. " tanya Dilla sambil terus menatap wajah Satria, pria yang dulu pernah mengisi hatinya.
Sementara Satria hanya bisa menundukkan wajahnya ia tak kuat ketika menyadari Dilla Terus menatap dirinya.
"Kak, kok Kak Satria diam aja sih?, Kakak gak lagi sakit kan?. " Tangan Dilla kini berada di dahinya mengecek suhu badannya.
Satria menatap wajah Dilla yang terlihat cemas, tangannya menangkap tangan gadis itu yang sedang berada di keningnya.
Tiba-tiba Dilla terhenyak dengan apa yang sedang dilakukan oleh Satria.Tak berniat berontak, tapi matanya penuh tanda tanya pada pria itu.
"Kenapa aku merasa kalau tatapan Kak Satria kali ini sangat berbeda?. " gumamnya didalam hati.
"Kakak mau bicara soal apa?, Apakah ini ada hubungannya dengan Bang Arya?. " tanyanya.
"Bukan Dilla, ini mengenai aku.. dan juga..
kamu Dilla. " tukas Satria, ia ingin jujur sebelum terlambat.
"Katakan saja Kak ada apa?. " tangan Dilla yang ingin melepaskan diri dari tangan Satria mendadak di tahan oleh Satria.
"Apa kamu bahagia bersama dengan Pak Arya, Dilla?. "tanya Satria.
Di hatinya yang paling dalam Satria sangat berharap agar Dilla menjawab bahwa dia tak bahagia dengan pertunangan ini.
__ADS_1
Tapi sayang sekali, jawaban Dilla malah sebaliknya." Tentu saja aku sangat bahagia Kak.Rasanya aku belum pernah sebahagia ini sebelumnya. "ujar Dilla.
" Sungguh??. "Arya bertanya lagi karena ingin memastikan.
" Sungguh, emangnya ada apa Kak. Kok kakak nanyanya begitu??. "Dilla bertanya sambil mengerutkan keningnya, dia sungguh penasaran akan jawaban yang akan diberikan Satria.
Satria jadi bingung,apakah dia bisa menyatakan perasaannya kepada Dilla sedangkan Dilla sendiri sudah memiliki Arya dihatinya.Tapi satu sisi hatinya lagi dia sangat ingin menyatakan semuanya yang ia rasakan kepada Dilla.
'Mungkin ini waktu yang tepat'fikirnya.
" Dilla. "Panggil Satria.
"Iya Kak, kenapa??. "
"Apakah kamu pernah punya rasa buat aku? rasa yang lebih dari perasaan persahabatan. "
Pertanyaan Satria ini sukses membuat Dilla terkejut, tiba-tiba dihatinya ada desiran yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
"Kak Satria??. " Dilla menatap Satria dengan gelegar aneh,kali ini bukan dengan perasaan cinta seorang gadis kepada seorang pria, tapi lebih ke perasaan persahabatan yang seperti adek dan Kakak.
"Kalau kamu gak mau jawab juga gak pa pa kok Dill,Kakak ngerti. Kamu kan sekarang sudah akan bertunangan dengan Bos Arya,lagipula Kakak sadar diri kok, kamu gak mungkin bisa suka sama Kakak yang cuma anak Kepala Desa di pulau terpencil. " ucap Satria merendah.
"Kak Satria ngomong apa sih?,Dilla masih sama kayak dulu kok Kak. Tempat tinggalnya saja yang berubah, kalau Kakak beneran pengen tau tentang perasaan Dilla dulu, Dilla akan jawab Kak. " Ujar Dilla sambil sedikit gemeteran, karena walau bagaimana pun ini sama saja halnya kalau Dilla akan mengungkapkan perasaannya terdahulu kepada Satria.
Ya, perasaan itu memang sudah lama mati, sejak Arya menggeser posisi Satria dihatinya.
"Kalau boleh jujur, dulu Dilla memang pernah ingin mengungkapkan semuanya... Iya, memang dulu Dilla punya rasa yang spesial sama Kak Satria.Dilla juga yakin sekali kalau Kak Satria jg sudah tau" Sejenak Dilla menghela nafas.
__ADS_1
"Ya, setidaknya dulu kamu sudah pernah mencintai Pak Bos.Itu semua sudah cukup kok buat Kakak.Mungkin memang kita gak ada jodohnya, tapi kelak kalau kamu tidak bahagia hidup bersamanya.Aku siap memberikan kebahagiaan untuk kamu. " Sangat disayangkan orang yang dia jaga selama ini ternyata akan menjadi milik pria lain yang tak3 lain adalah bos nya sendiri. 😁😢