
Karena penasaran,Pak Bambang pun menjawab panggilan itu.
Nyonya Sri seketika membelalak menatap suaminya dengan tatapan marah sambil berucap" Pa... Paaaa. "tapi dengan tanpa suara.
Ia sangat terkejut karena suaminya itu tanpa aba-aba sudah menerima panggilan itu.
" Hallo,assalamu'alaikum nak Siska. "sapa Pak Bambang.
" Eh,Om.Tantenya ada Om?. "tanya Siska.
" Ooo tante ya,emmm... tante.. lagi dikamar mandi. Apa ada yang perlu disampaikan ke tante nanti Om sampaikan. "ujar Pak Bambang.
Nyonya Sri terus memberinya aba-aba agar tak memberi tau Siska kalau dirinya ada disana.
" Eeee,, gak ada kok Om,tadi Siska cuma mau curhat aja.Tolong sampaikan saja ke tante kalau tadi Siska telepon. "ujar wanita itu sedikit kagok.
" Ooo gitu, ya nanti Om akan sampaikan ke Tante kalau tadi kamu telepon"Jawab Pak Bambang.
"Baik, terimakasih ya Om. Kalau gitu Siska tutup dulu, assalamu'alaikum. "ujar Siska ramah.
" Sama-sama, wa'alaikumsalam. "jawab Pak Bambang.
Ini pertama kalinya ia mendengar suara Siska lewat telepon.
Suasana seketika menjadi hening,kini gantian Pak Bambang yang melototi istrinya itu dengan sorot mata yang penuh tanda tanya.
" Ada apa sih Ma sebenarnya?. "tanya Pak Bambang penuh selidik.
Nyonya Sri berusaha menghindari tatapan suaminya itu.
" Kok Mama seperti sedang menghindari Siska?? apa yang sebenarnya terjadi??. "lagi-lagi Pak Bambang bertanya.
__ADS_1
" Ya gak ada apa-apa Pa, Mama lagi gak tau aja mau bahas apa sama dia. "jawab Nyonya Sri sambil menghindari tatapan mata suaminya.
" Masa' sih Ma, bukannya kalian berdua itu sangat cocok ya?. "sindir Pak Bambang.
" Ya terserah Mama dong mau jawab atau tidak, mau ngobrol atau tidak."jawab Nyonya Sri sambil menutupi dirinya dengan selimut sampai kesemua tubuhnya sampai kepalanya juga.
"Mama ini, dibilangin malah sewot. Gak biasanya banget, pasti ada apa-apa ini. " ujar Pak Bambang.
Sementara Nyonya Sri didalam selimut hanya menutupi telinganya dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu kamar itu.
Tok... tok... tok....
"Mama, Papa.... Arya mau bicara. " suara putera tunggal mereka terdengar daru arah pintu.
"Arya tuh Ma, kenapa lagi dia?. " tanya Pak Bambang kaget. Nyonya Sri pun keluar dari balik selimutnya.
Sreetttt....
Pintu dibuka, "Ada apa Nak, sudah malam begini kenapa belum tidur?. " tanya Pak Bambang.
"Arya mau minta alamat rumahnya Siska Pa, Ma. " ujar Arya.
"Alamat Siska??, untuk apa kamu pergi kerumah gadis itu?. " tanya Pak Bambang bingung.
"Arya mau memutuskan pertunangan kami Pa,sesuai janji Arya pada Eyang dan Eyangti nya Dilla. Lagipula Arya juga merasa tak punya sedikitpun perasaan pada gadis itu. Arya hanya mencintai Dilla saja. " jawab Arya.
"Besok Mama temenin kesana. " ujar Nyonya Sri memecahkan keheningan.
Spontan saja Arya dan Papanya terkejut bukan kepalang mendengar penuturan Mama dan istrinya itu.
__ADS_1
"Apa Ma???, Papa gak salah dengar kan??. " ujar Pak Bambang yang tak yakin dengan apa yang ia dengar.
"Iya Ma, apa Mama serius?? ".tanya Arya yang tak kalah kagetnya.
" Serius lah!, Mama belum pernah seserius ini kalau menyangkut masa depan putera Mama satu -satunya. "ujar Nyonya Sri dengan yakinnya.
" Tapi kan?? tumben sekali Mama berubah 180° seperti ini.Biasanya Mama kan... "Ucapan Pak Bambang terhenti, karena istrinya itu sudah memotong ucapannya.
" Sangat membela dan menyayangi Siska, begitu?. "tanya Nyonya Sri.
" Iya Ma, kenapa tiba-tiba saja Mama setuju kalau Arya sama Siska udahan?. "tanya Arya bingung.
" Yaaa, Mama rasa gadis itu tak begitu cocok dengan kamu sayang,apalagi dari dulu kamu memang tidak menyukai Siska sebagai pasangan tersebut kamu, kamu hanya menganggap dia seperti saudara kamu.Mama sudah memutuskan akan mencoba belajar menerima gadis pilihan kamu sebagai calon menantu Mama. "ujar Nyonya Sri.
Pak Bambang dan Arya lagi-lagi dibuat heran dengan sikap Nyonya Sri itu.
"Aduh, kenapa perasaan Papa jadi tidak enak ya??. " ujar Pak Bambang dengan maksud menyindir istrinya.
"Apa kalian gak senang kalau Mama sekarang mencoba untuk merestui hubungan Arya dengan gadis dari desa nelayan itu?. " tanya Nyonya Sri.
"Ya senang banget lah Ma,tapi kenapa Mama tiba-tiba berubah??. " tanya Arya.
Sebenarnya ingin sekali Nyonya Sri menceritakan apa yang sudah ia lihat dan ia dengar dengan mata dan telinganya sendiri, tapi dia masih butuh bukti yang kuat untuk mengungkapkan semuanya agar kecurigaannya tak terbantahkan.
Semula Nyonya Sri masih bisa menepis keraguan yang ada dihatinya pada Siska,tapi setelah membandingkan dan menimbang-nimbang antara Siska dan juga Dilla, sepertinya hatinya sekarang lebih berat ke Dilla yang jauh lebih baik dan rajin,tidak suka berpura-pura, jujur, dan terlebih lagi sekarang gadis itu sudah diakui oleh keluarganya yang konglomerat,tapi diluar dari itu semua Nyonya Sri juga sangat bersyukur karena putera nya Arya bisa selamat dari maut karena pertolongan dari Dilla. Saat dirumah sakit, setelah mendengar penjelasan dari dokter spesialis yang menangani Arya, Nyonya Sri terus saja terfikir soal Dilla. Rasanya tidak adil apa yang sudah ia lakukan selama ini pada gadis itu,gadis itu sudah menyelamatkan puteranya dan seharusnya ia berterimakasih bukannya malah bersikap kasar. Apalagi setelah apa yang ia saksikan mengenai Siska kemaren, rasa sayangnya kepada Siska perlahan mulai luntur, selama ini apa sih yang tidak ia lakukan untuk Siska?? .
Diam-diam sore ini Nyonya Sri sudah memblokir kartu kredit yang ia berikan pada calon menantunya itu.Nyonya Sri sengaja, karena ia ingin melihat bagaimana tanggapan dan sikap yang akan dilakukan Siska setelah tau kalau ada kartu nya di blokir.
Ternyata belum sampai dua jam,gadis itu sudah tak henti-hentinya menelepon dirinya.Walaupun selama ini Nyonya Sri tak pernah mempermasalahkan berapa pun tagihan kartu kredit yang masuk dari kartu yang ia berikan kepada Siska, selama yang menggunakannya adalah Siska si calon mantu kesayangannya, dia enjoy-enjoy aja.Meski terkadang nafsu belanja Siska jauh melebihi dirinya, dia rasa itu cukup wajar untuk anak muda.Bahkan pernah dalam satu bulan saja Siska bisa menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk fota-foya, beli tas branded,ke salon, dan berpesta, Nyonya Sri tetap memakluminya karena dirinya sendiri lah yang sudah memberikan kartu kredit itu dan meminta Siska untuk menggunakan nya dengan nyaman.
Kini dia baru sadar kalau sikap nya selama ini sudah terlalu baik pada wanita itu, padahal puteranya sendiri dari dulu juga tidak tertarik sama sekali untuk menyukai wanita pilihannya itu.
__ADS_1