
"Bagaimana Yud?,kalau anakmu tinggal dirumah ku. Setidaknya rasa bersalah ku padamu akan berkurang Yud. Tolong izinkan putri mu tinggal bersama kami, setidaknya kamu juga bisa berduaan terus dengan istri mu. Kalau perlu kita akan menikahkan mereka. " ujar Pak Bambang.
"Papa, apa- apaan sih??. Makin keenakan nanti gadis ini. "
"Ma, sudah diamlah. Ini sudah jadi keputusan Papa. Kalau Mama masih menentang Papa, sekalian saja Papa juga gak akan pulang lagi kerumah!. "
"Lah kok??!. " Nyonya Sri jadi kena skak Mak.
Mau tak mau akhirnya Nyonya Sri mau juga menerima Dilla dirumah mereka.
Dilla diminta mempersiapkan diri dulu.
"Gak usah banyak-banyak bawa barang.Secukupnya saja,nanti cuma bikin kotor rumah saja!. " ketus Mamanya Arya itu.
"Ma???!. " Arya melototi Mamanya.
Nyonya Sri memalingkan wajahnya.
Dilla masuk ke kamarnya diikuti oleh Bu Ayu, sebenarnya Dilla masih gamang dengan keputusan yang baru saja diambilnya. Tapi kesempatan tak akan datang dua kali, fikirnya.
Dilla memasukkan beberapa baju ke dalam Tas travel nya yang berukuran lumayan besar. Dia juga membawa beberapa buku yang dia anggap penting dan tak lupa buku tabungannya yang sudah ia kumpulkan selama ini.setelah semuanya selesai, Dilla pun keluar dari rumahnya dan berpamitan dengan Ayah dan Ibunya.
"Kami akan mengantarkanmu Nak sampai ke Dermaga. " ujar Pak Yuda.
"O iya, ini ada sedikit uang yang sudah Ayah dan Ibu kumpulkan untuk kuliah kamu.jaga dirimu baik-baik ya, kalau mereka ada yang menyakitimu jangan lupa kasih tau Ayah,Ayah pasti akan menjemputmu sayang."
"Iya Ayah. "
"Kamu gak usah khawatir Yud, aku yang akan menjaga Dilla putrimu seperti putriku sendiri. Lagipula nanti dia juga akan jadi bagian dari keluarga kami, kamu tenang saja ya. "ujar Pak Bambang sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
"Jaga putriku ya Wira, awas kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dengannya disana. Aku pasti akan bikin perhitungan denganmu. Ingat Itu!!. "Ancam Pak Yuda.
__ADS_1
" Iya, aku janji padamu. "Pak Bambang sekali lagi mencoba meyakinkan sahabat lamanya itu.
" Nak Arya, tolong jaga Dilla ya Nak. Ibu titip Dilla sama Nak Arya, selama kalian belum menikah, kalian gak boleh macam-macan ya, Ibu akan percaya sama Nak Arya. "
"Iya Bu, Arya pasti akan jaga Dilla sebaik-baiknya. " jawab Arya.
Dengan berat hati, akhirnya Pak Yuda dan juga Bu Ayu melepaskan kepergian putri tercintanya untuk pergi bersama sahabat lamanya yang pernah dia anggap musuh itu.
Sebelum naik ke kapal,Pak Bambang menyempatkan memeluk dan meminta maaf sekali lagi pada Pak Yuda yang dulu sering membantu dirinya.
Pak Yuda pun memaafkan sahabatnya itu.Tapi muka Nyonya Sri seolah ingin memangsa Dilla hidup-hidup, dari tadi ia terus berfikir, kira-kira ramuan apa yang sudah diberikan oleh keluarga ini kepada suami dan puteranya sampai kedua pria kesayangan nya ini bela-belain membawa gadis kampung itu kerumah mereka.
"Terus hubungi Ibu ya Nak, jangan lupa sholat, jangan lupa main juga sesekali kerumah uwak mu. " ujar Bu Ayu.
"Iya Bu, Dilla usahakan ya. "jawab Dilla.
Kedua Ibu dan anak itu saling berpelukan dan saling menangis, air mata perpisahan tak mampu dibendung oleh Ibu dan anak yang tidak pernah terpisahkan itu.
Ini pertama kalinya selama hidup Dilla harus berpisah lama dengan orang tuanya, selama ini ia hanya kadang-kadang menginap dirumah uwak nya di kota, tapi tidak lama paling dua atau tiga hari saja, tapi kali ini dia akan tinggal dirumah keluarga yang sama sekali belum ia kenal sebelumnya. Dilla merasa agak sedikit takut ketika kapal itu mulai membawanya menjauh dari bibir pantai kampung halamannya.
Dilla jadi terkejut dan tersadar dari lamunannya.
" Eh, Arya. "
"Sudah jangan sedih lagi, yuk kita duduk disana dekat Mama dan Papa. "ajak Arya.
" Tapi, aku agak gak enak. "Dilla merasa insecure.
" Kamu pasti takut sama Mama kan?."
Dilla hanya mengangguk kecil,dia tidak mau Nyonya Sri merasa kesal lagi padanya.
__ADS_1
"Lihat Pa,apa gadis seperti itu yang Papa inginkan untuk jadi menantu kita?. " tanya Nyonya Sri sambil menyindir suaminya.
"Mama itu belum tau saja siapa kakeknya Dilla itu?. Kalau Mama tau juga pasti mata Mama jadi Ijo. "
"Maksud Papa apa??, memangnya siapa orang tuanya Pak Yuda itu?. "
"Dia itu cucu seorang konglomerat, Adi Sucipto. "
"Apa??,yang benar Pa. Pak Adi Sucipto yang pengusaha tambang batubara juga, pengusaha properti juga dan punya banyak perkebunan dimana-mana?. "
"Iya Ma. ".
" Tapi keluarga kita juga gak kalah kaya Pa sama mereka. "
"Terserah Mama mau percaya atau gak. " ujar Pak Bambang sambil membaca surat kabar di tangannya.
"Yang kaya kan kakeknya, belum tentu harta kekayaannya akan diwariskan kepada si Dilla itu, apalagi Papa tadi bilang kalau usaha keluarga mereka itu sedang dalam masalah, iya aku kan Pa. "
"Oo soal itu, Papa cuma manasin si Yuda aja,agar dia mau kembali kerumah orang tuanya. Kasihan juga Pak Adi Sucipto, selama ini dia sudah salah paham kepada puteranya sendiri, dan itu semua karena kesalahan Papa, padahal dulu mereka selalu bantuin Papa saat Papa masih kuliah, Pak Adi dan Yuda sering bantuin Papa membayar uang semesteran karena Papa gak punya cukup uang. Papa jadi merasa bersalah sekali pada Yuda, apalagi setelah tau keadaan dirinya sekarang. Papa berharap dia akan kembali ke keluarganya dan bisa berdamai dengan orang tuanya, mumpung orang tuanya masih sehat wal'afiat." jelas Pak Bambang.
"Ya udah, Mama akan coba menerima Dilla dirumah kita, tapi kalau untuk jadi menantu kita jangan berharap Mama akan sudi, karena mau bagaimana pun Dilla tetaplah hanya gadis kampung pembuat ikan asin. " ujar Nyonya Sri.
"Terserah Mama, asal Mama Jangan pernah berlaku buruk terhadap Dilla. Karena Papa akan langsung turun tangan. " ancam Pak Bambang.
"Bodoamat!. " jawab Nyonya Sri.
Wajah nya langsung ia buang saat melihat Dilla dan juga Arya memasuki area tempat duduk di dalam kapal.
"Pa, Ma lagi ngomongin apa?. " Arya juga agak kikuk ketika berada di dekat orang tuanya sendiri. Karena amnesia yang ia derita, rasanya kebersamaan mereka jadi masih terasa canggung.
"Gak ada apa-apa kok Nak,Mama mu lagi pengen cepat sampai aja kerumah. Maklumlah dia kurang suka dengan angin laut, bikin dia mual.Kamu pasti lupa Kalau Mama mu suka mabuk laut. "
__ADS_1
"Apa iya Ma?. " tanya Arya.
"Hemmm." jawab Nyonya Sri sambil mengangguk, padahal dihati ia Gedeg banget ketika melihat Arya terus saja menggenggam tangan gadis yang tak disukainya itu.