Pacar Amnesiaku Ternyata CEO

Pacar Amnesiaku Ternyata CEO
BAB 48


__ADS_3

Arya yang sedang berada di kantor terlihat sedang gusar,entah kenapa hatinya merasa kalau Satria menyimpan perasaan kepada calon istrinya itu.


Arya bisa merasakan dari tatapan mata Satria saat pertama kali bertemu kembali pas mereka menjemput Dilla di kampusnya.


Dari mimik wajah Satria saat itu, jelas sekali terlihat kalau dia benar-benar shock saat mengetahui kalau ternyata Dilla lah yang akan menjadi calon istri nya Arya.


Arya menjadi meragukan kesetiaan bawahannya itu,ia pun berfikir untuk menghubungi Dilla sang kekasih hati.


"[Hallo Bang,assalamu'alaikum, ada apa Bang?.]"tanya Dilla.


"[Apa Satria sudah berangkat dari sana?. "]tanya Arya.


Dilla mengernyit, kenapa gak langsung tanya ke Kak Satria saja'Pikir Dilla.


"[Sudah dari tadi Bang, ada apa memang nya?.]"tanya Dilla.


"[Oo, ga ada apa-apa kok sayang.Kamu apa kabar hari ini?, Apakah sudah siap buat acara besok? . ]"tanya Arya mengalihkan pembicaraan.


"[Insya Allah Dilla sudah siap kok Bang, Abang sendiri bagaimana. Sudah siap belum?]"tanya Dilla.


[Tentu sudah siap, bahkan Abang sudah gak sabar untuk bisa menikahi kamu dan menjadikan kamu milik Abang sepenuhnya]"jawab Arya.


Lagi-lagi Dilla merasa kalau sikap dan cara bicara Arya kali ini agak berbeda, seperti diliputi sedikit emosi jiwa.


Dilla menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mencoba menepis setiap pikiran buruk yang menghinggapi otaknya.


"[Abang bisa aja, Dilla jadi malu. ]" ujar Dilla, entah kenapa dia jadi bingung dengan dirinya sendiri saat ini.


"[Sayang, Abang tutup dulu ya. Abang mau beresin kerjaan Abang dulu, habis itu mau makan siang sama Satria.Tinggal nunggu Satria nyampe ke kantor. "]ujar Arya.


" [Oke Bang, selamat makan siang aja untuk Abang, Bye... wassalammualaikum]"Sahut Dilla kemudian.


[Wa'alaikusalam warahmatullahi wabarakatuh]"jawab Arya dengan sepenuh hati.


Akhinya Panggilan itu berakhir, dan kini Arya tinggal menunggu kedatangan Satria yang masih didalam perjalanan.

__ADS_1


Dengan hati kalut Satria mengendarai mobilnya.Dipukul nya setir itu berkali-kali saat pembicaraan nya dengan Dilla tadi kembali terlintas di benaknya.


Seperti sebuah kaset rusak yang berulang-ulang, kepalanya mendadak pusing sampai akhirnya Satria tidak bisa menguasai kemudinya dan ia hampir saja menabrak seorang gadis yang sedang berjalan di trotoar.


Untung saja gadis itu tidak mengalami luka serius, dia hanya terjatuh karena kaget saja. Tapi beberapa bagian lengannya dan juga sikut nya lecet karena berbenturan dengan aspal.


Satria yang shock langsung turun dari mobilnya untuk memastikan keadaan orang yang ia nyaris tambrak,mata keduanya bertemu.


Ternyata gadis yang dia tambrak masih muda, dan sepertinya usianya sama seperti Dilla dan gadis ini juga menggunakan hijab.Tatapan mereka terhenti karena banyaknya suara klakson dari mobil-mobil yang berada dibelakang mobil Satria.


Menyadari akan hal itu, Satria bermaksud secepatnya menyingkirkan mobilnya ke sisi jalan agar tak mengganggu pengguna jalan lainnya.


"Mbaknya jangan Keman-mana dulu ya, saya parkirkan mobil saya dulu. " ujar Satria.


Setelah ia berhasil memarkirkan mobilnya, Satria segera menghampiri gadis itu lagi.


"Sebaiknya Mbak ikut saya periksa kerumah sakit dulu, agar bisa di obati. Saya akan bertanggung jawab atas pengobatan Mbak. " ujar Satria.


"Baiklah, saya akan ikut Mas ke Rumah sakit.Kebetulan saya memang ingin pergi kerumah sakit tadinya, karena Ibu saya dirawat disana. " ujar gadis itu.


Gadis yang belum diketahui namanya itu segera masuk kedalam mobil Satria dan Satria memintanya untuk mengenakan sabuk pengaman.Tapi karena tangan gadis itu masih perih dan sakit,maka Satria secara gentleman menawarkan diri untuk memasangkannya.


Gadis itu terlihat memundurkan dirinya karena takut tersentuh oleh tubuh Satria yang akan menarik safety belt. Satria pun menyadari hal itu dan cepat-cepat memasangkannya.


"Maaf, maafkan saya karena tadi saya sedang tidak konsentrasi. " ujar Satria memecahkan keheningan yang tercipta diantara keduanya.


"Tidak masalah,hanya luka kecil kok. " jawab gadis itu.


Satria sekilas melirik lagi kearah wajah gadis itu. "SubhanAllah." ujar Satria didalam hati nya.


Gadis itu air mukanya teduh dan tidak kalah cantik dari Faradilla Cahyani yang selama ini ia cintai.Kulitnya juga putih, dan berhijab menjadi nilai plus nya. Tak dapat di pungkiri kalau saat ini Satria sedikit terpesona melihat nya.


"Ada apa Mas, kok Mas tadi lihatin saya?. " tanya gadis itu.


"Ah, nggak ada apa-apa kok. Saya cuma ingin memastikan apa luka-luka kamu ada yang parah, itu lengan baju kamu sampai robek kena aspal. " dalih Satria.

__ADS_1


"Padahal jelas-jelas tadi saya lihat Mas lihatin wajah saya." ujar gadis itu.


"Ah, maaf ya. Kalau boleh tau nama kamu siapa??. " tanya Satria.


"Nama saya Anggun Mas. " jawab gadis itu singkat.


"Cocok sama orang nya. " jawab Satria.


"Maksudnya?? . " gadis bernama Anggun itu jadi bingung.


"Maksudnya nama sama orang nya cocok banget. Kamu memang Anggun, dan tak cuma Anggun tapi juga cantik dan manis. " Haduh Satria, entah dimana letak otaknya sekarang, dari mana dia mendadak bisa menggombal kepada wanita yang baru saja ia kenal. Entah dorongan dari mana, tapi yang pasti kata-kata itu meluncur dengan sendirinya tanpa ia rancang lebih dulu.


"Mas ini ternyata pintar ngegombal ya. " ujar gadis itu sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Maaf, ini juga pertama kalinya saya menggombal kepada seorang gadis.Tapi apa yang saya katakan tadi itu bukan ngegombal.Kata-kata itu tulus dari hati saya. " jelas Satria, dia tidak mau kalau gadis itu salah paham.


"Gak masalah kok Mas, saya juga memakluminya. " jawab Anggun.


Tiba-tiba ponsel Satria yang terhubung ke monitor bluetooth di mobilnya berdering.Dilayar nampak panggilan itu dari Bos nya, siapa lagi kalau bukan Arya.


Satria mau tak mau langsung mengangkat panggilan dari Arya itu.


"[Ya Hallo, ada apa Pak Arya?]" tanya Satria seperti terburu-buru sampai tak mengucapkan salam.


"[Kamu kok belum sampai kantor juga,kan sudah lama kamu cabut dari rumah Eyangnya Dilla.]" ujar Arya.


"[Maaf Pak Arya, saya baru saja menyerempet orang. Jadi saya harus membawanya kerumah sakit dulu. ]" Satria mencoba meminta izin kepada Arya.


"[Kok gak kasih kabar dari tadi kalau kamu nabrak orang? ]" tanya Arya.


"[Iya Pak, habisnya saya panik sekali. Ini kami masih dalam perjalanan kerumah sakit. Mungkin saya gak bisa balik ke kantor lagi hari ini.?]" jelas Satria.


"[Baiklah kalau begitu, kamu urus dulu korban itu dan pastikan dia dalam tanggung jawab kamu sampai sembuh. ]." ujar Arya.


"[Baik, terimakasih Pak Arya. ]." jawab Satria senang, setidaknya dia bisa fokus mengantarkan korbannya kerumah sakit sehingga fikiran tentang kata-kata Dilla tadi pagi bisa hilang dari ingatannya.

__ADS_1


__ADS_2