
Arisa sangat kecewa melihat Alex dengan seorang wanita disebuah restoran itu. Ketika Arisa sampai dirumah, ia langsung saja mengurung dirinya dikamar, sesekali pengurus Feng menawarinya makan tetapi ia menolak untuk makan apapun.
Didalam taxsi
Arisa: "Hmmh!" (dengan senyuman sayu)
Arisa: "Ternyata aku terlalu banyak berharap padamu... haha..." (tertawa kecil dan pandangannya terhadap restoran yang dikunjungi Alex bersama wanita itu tiba-tiba teralihkan karena rambu-rambunya sudah menunjukkan lampu hijau)
Sementara itu ditempat restoran yang dikunjungi oleh Alex...
Jessie: "Alex, makanlah makananmu..." (memerintahkannya dengan lembut)
Alex: "Ada kau didepanku, lalu bagaimana aku harus menghabiskan makanan ini?!" (berkata dengan serius dan dingin)
Jessie: "Alex... kau janganlah terlalu dingin kepadaku, bukankah kita sudah..." (dipotong dengan berdirinya Alex dari duduknya)
Srettt...
Suara Alex mendorong kursinya dan menunjukkan ekspresi wajah yang dingin, dan itu sangat membuat Jessie ketakutan.
Alex: "Kita sudah apanya?! Jika kau ingin mengatakan tentang pertunangan yang disepakati oleh ayahmu dan pamanku, mungkin kalian bisa menyetujuinya, tetapi tidak denganku! Dan ya, kau juga harus ingat bahwa aku sudah menikah!" (berkata-kata dengan sangat dingin lalu pergi meninggalkan Jessie)
Jessie: "Alex... kau...!" (ingin menggapai Alex dan berdiri jua dari duduknya, namun Alex sudah berjalan pergi dan menjauhinya)
Jessie: "Hmph, Alex. Kau adalah milikku, jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka tidak ada satupun wanita yang akan mendapatkanmu!" (bergumam dengan senyuman kelicikan)
Paviliun Alex
__ADS_1
Setelah sampainya Arisa dirumah, ia langsung naik kelantai atas dan masuk ke kamarnya untuk mengurung dirinya. Pengurus Feng yang melihat itu hanya bisa menyaksikannya saja, karena ia tidak berani mengganggu Arisa dengan keadaan hatinya tengah kacau.
Kriett...
Suara Arisa membuka pintu kamarnya.
Brakk!!!
Suara Arisa menutup pintu kamarnya dengan keras.
'Didalam kamar'
Duakk!
Suara Arisa melemparkan tasnya entah kemana.
Arisa: "Kau... hiks... Alex kau pembohong! Hiks..."
Arisa: "Selama ini, kupikir... hiks... kau... kau tulus kepadaku... ternyata... hiks... aku... aku yang terlalu banyak berharap... hiks... hiks..." (menangis sejadi-jadinya dan berbicara dengan tersedu-sedu)
Arisa: "Aku... aku sangat membencimu!"
Prangg!!
Arisa melampiaskan emosinya dengan cara ia memecahkan lampu tidur yang ada diatas meja disampingnya.
Kediaman Lawrence
__ADS_1
'Kamar Viola'
Kriettt...
Suara seseorang yang datang membuka pintu kamarnya.
Marian: "Apakah kau gagal lagi?" (sudah mengetahui dari raut wajah Viola)
Viola: "Hmph!" (dengan wajah kesal)
Marian: "Sayang, kau tenanglah. Aku yakin kita pasti bisa menghabisi wanita tak tahu malu itu! Hanya Alex Levana berada dibelakangnya, bukan berarti kita tidak dapat melenyapkannya!" (dengan senyuman kelicikan sambil menatap Viola)
Viola: "Apa rencanamu, ibu?"
Marian: "Bukankah beberapa hari lagi Perusahaan Kane akan mengadakan acara amal? Aku yakin, bahwa Alex Levana pasti membawa wanita tak tahu malu itu untuk hadir keacara itu, dan disaat itulah kita menjalankan rencana kita..." (dengan senyuman kelicikan)
Viola: "Ibu..." (penuh harap akan ibunya memberitahukan kepadanya apa yang sedang ia rencanakan)
Setelah seperti itu, Marian Li mendekatkan dirinya kepada Viola dan membisikkan suatu rencananya yang akan ia jalankan ketika acara amal Perusahaan Kane beberapa hari lagi.
Marian: "Viola, rencananya adalah..." (mendekati Viola lalu membisikkan sesuatu ketelinga Viola)
Setelah beberapa saat, akhirnya Marian Li selesai memberitahukan rencananya kepada Viola.
Marian: "Apakah kau sudah mengerti?"
Viola: "Ya, tetapi ibu ini... rencananya sungguh mengagumkan!" ( puas)
__ADS_1
Marian: "Kau tinggal laksanakan saja peranmu dengan sebaik mungkin, aku yakin kali ini kita akan benar-benar membuat wanita rubah ini merasa sangat malu! Haha!!" (tertawa puas dengan senyuman kelicikannya)