Pak Presdir, Aku Benci Kamu

Pak Presdir, Aku Benci Kamu
Episode 63


__ADS_3

Alex: "Mengapa kau repot-repot datang kesini? Seharusnya kau beristirahat saja dirumah." (sambil berjalan mendekati Arisa)


Arisa: "Tidak, aku tidak apa-apa. Apakah... aku mengganggu waktumu?"


Jessie: "Ya! Tentu saja kau mengganggu kami! Kau hanya istri diatas kertasnya sedangkan aku adalah tunangannya yang resmi!"


Arisa: "Aiyaa! Sayang, mengapa ada rubah yang sangat pandai berbicara di ruanganmu? Ah, nona, maafkan aku karena tidak menyapamu!" (bertanya dengan nada mengejek dan tersenyum agak muak)


Alex: "Kau tidak perlu memikirkan dia, dia memang liar seperti itu." (berbicara kepada Arisa)


Jessie: "Ah, Alex! Kau..."


Alex: "Cukup!" (dengan keras dan tegas)


Alex: "Sekarang kau pergilah dari sini sebelum petugas keamanan yang mengantarmu keluar!"


Jessie: "Tapi, Alex aku..."


Alex: "Aku tidak mengulangi kata-kata ku dua kali!"


Jessie: "Agrrhhh! Lihat saja nanti kau rubah betina! Kau bahkan sangat pandai menggoda Alex!" (pergi dengan perasaan kesal dan mengucapkan kata-kata itu didalam hatinya ketika berpapasan dengan Arisa)


Arisa: "Berhati-hatilah, nona!" (memberikannya sedikit rasa hormat)


Jessie: "Cih!!" (kesal)


Setelah itu, Jessie pun akhirnya pergi...


Alex: "Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini... Kau sedang hamil, dengan ini akan membuatmu lelah..." (sambil memandangi wajah Arisa)


Arisa: "Sudahlah, aku kesini hanya untuk mengantarkanmu makanan. Bukankah kau pergi tadi tidak sarapan apapun?" (sambil berjalan kearah sofa)


Arisa: "Sekarang, cepatlah makan." (setelah duduk dan menyiapkan sarapan untuk Alex, lalu Alex pun mendekatinya)


Alex: "Apakah kau tidak marah padaku?"

__ADS_1


Arisa: "Untuk apa aku marah padamu?" (melemparkan kembali pertanyaan)


Alex: "Aku..." (dipotong)


Arisa: "Sudahlah, aku mengerti. Pertunangan itu telah diatur oleh pamanmu. Dan sejauh ini yang ku tahu kau juga menolak itu, bukan?"


Alex: "Kau tahu itu..." (sambil membelai rambut Arisa)


Arisa: "Cepatlah makan sebelum makanannya benar-benar dingin."


Alex: "Ya..."


Kemudian Alex pun segera memakan sarapan yang telah dibawakan oleh Arisa.


Setelah Alex selesai memakan sarapannya, Arisa pun segera pergi dari ruangan Alex. Dan Alex meminta Juan untuk mengantarnya pulang.


Namun, ketika hendak pergi menuruni anak tangga, Arisa bertemu dengan Jessie yang menghadangnya disana. Rupanya, Jessie tidak benar-benar pergi ketika ia disuruh Alex untuk pergi. Dan kelihatannya ia masih memiliki dendam dengan Arisa.


Takk...Takk...Takk...


Jessie: "Berhentilah bertaruh denganku, sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menang melawanku!" (mengehentikan langkah Arisa dengan bicaranya)


Arisa: "Ah! Nona... Jessie?! Maafkan aku, karena aku tidak melihatmu!" (berpura-pura tidak melihat)


Jessie: "Berhentilah berpura-pura dasar kau jal*ng!!" (mengayunkan tangannya untuk menampar Arisa)


Plakk!!


Dengan sigap Arisa menangkap tangan Jessie yang segera akan melayang ke wajahnya.


Arisa: "Nona, kau tidak bisa bertindak semena-mena terhadapku, kau juga tidak akan mudah untuk menindas ku! Jika kau memiliki seratus cara untuk melukaiku, maka aku memiliki seribu cara untuk mengalahkanmu!!" (dengan tegas dan tatapan mata yang dingin seperti ingin membunuh sama dengan seperti Alex ketika ia marah)


Jessie: "Kau...!" (sambil menghempaskan tangannya yang tengah dipegangi Arisa)


Jessie: "Mengapa... mengapa tatapannya sangat mirip dengan Alex ketika ia sedang marah...?!" (berucap didalam hati)

__ADS_1


Jessie: "Cih! Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan permainan ini!"


Arisa: "Nona... sebelumnya perlu ku tegaskan padamu bahwa Alex adalah suamiku, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Bukankah kau sudah melihatnya? Dan kau sudah mengetahui hasilnya namun kau masih bersikeras untuk menerobosnya? Ingatlah, nona, bahwa kau hanya tunangannya dan aku adalah istri sahnya. Dan dia pun bahkan tidak mengakuimu, hmph!! Waspadailah, nona, kau nantinya akan merasakan hingga titik dimana kau lebih baik memilih mati daripada hidup..." (sambil membisikkannya ditelinga Jessie dan berjalan pergi ingin menuruni tangga)


Jessie: "Cukup! Dasar kau jal*ng tidak tahu malu!!!" (berjalan dengan cepat mendekati Arisa dan mendorong bahunya hingga Arisa tersungkur jatuh dari tangga)


Arisa: "Ah!!" (berteriak)


Ketika sampai di penghujung anak tangga ia terguling, tiba-tiba Jessie melihat banyak darah yang mengalir dari Arisa. Karena takut, ia pun segera melarikan diri.


Arisa: "Ah!! Ah, anakku... Ah!! Sakit... ahh!!!" (dipenghujung anak tangga ia berteriak kesakitan hingga Alex mendengarnya)


Jessie: "Ah?! Bukankah aku hanya mendorongnya? Bagaimana dia bisa berdarah hingga sebanyak itu?!!" (terkejut)


Jessie: "Tidak! Ini tidak baik! Aku harus segera melarikan diri sebelum seseorang datang kesini!" (bergegas menuruni tangga dan pergi)


Arisa: "Ah!! Alex!!! Ah,ha!! Anakku..." (berteriak dengan keras dan sambil memegangi perutnya karena teriakannya yang keras itu pun akhirnya membuat Alex keluar dari ruangannya)


Dengan sigap Alex pun segera keluar dari ruangannya, dan ketika Alex berada diatas tangga ia mendapati Arisa yang terbaring lemah dipenghujung tangga dengan bersimbah darah.


Alex: "Arisa!!!" (berteriak dan bergegas menuruni tangga untuk menolong Arisa)


Alex: "Arisa... sayang... kau, kau bertahanlah... aku akan segera membawamu kerumah sakit..." (sambil memangku kepala Arisa)


Arisa: "Alex, ini kau..." (dengan pelan karena lemah)


Alex: "Ya, ya! Ini aku..."


Arisa: "Alex... aku... aku sudah, tidak tahan lagi..." (dengan lemas mengatakannya dan setelah yang ia katakan selesai Arisa pun pingsan dan tak sadarkan diri)


Alex: "Arisa! Arisa!!! Bangunlah! Bangunlah!!!" (berteriak sambil menepuk-nepuk pipi Arisa)


Alex: "Sayang, bertahanlah! Aku akan segera membawamu kerumah sakit!" (bangun dan menggendong Arisa)


Setelah sampai di lobi, Alex langsung bergegas menyuruh Juan menyiapkan mobil untuk segera membawa Arisa kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2