
Kediaman Lawrence
'Kamar Viola'
Viola: "Cih! Wanita jal*ng itu benar-benar membuatku kesal!! Aku selalu saja gagal menjalankan rencanaku karena dia! Mengapa nasib baik selalu mengiringi wanita jal*ng itu!? Mengapa!?" (kesal)
Marian: "Nasib baik tidak akan selalu mengiringinya, untuk kali ini pasti tidak akan ada yang bisa menolongnya!" (tiba-tiba masuk dan menjawabi kekesalan Viola)
Viola: "Ah?! Ibu?" (terkejut)
Marian: "Kau, berhentilah bersikap konyol seperti itu! Kita memang tidak bisa menyerang angsa ketika ia berada dengan kawanannya, tetapi kita bisa menyerang angsa ketika ia sendirian..." (dengan senyuman liciknya)
Viola: "Ta-tapi, ibu... bagaimana kita akan menghabisinya? Sedangkan ayah saja sudah memperingatkan kita?"
Marian: "Kau tenang saja, pak tua itu hanya mengharapkan beberapa aset berharga dari tuan Alex, maka dari itulah ia berusaha memperbaiki hubungannya dengan Arisa!"
Viola: "Apa rencanamu, ibu?"
Marian: "Kau tenang saja, kali ini pasti kita akan berhasil..."
Kebencian mereka terhadap Arisa sudah sangat dalam. Namun, tidak akan pernah ada yang bisa melukai Arisa karena ia memiliki sebuah tameng yang sangat kuat dihadapannya.
Rumah Brandon Depth
Ajudan: "Tuan, aku baru saja selesai mengerjakan yang kau minta."
__ADS_1
Brandon: "Hm."
Ajudan: "Ini, tuan..." (memberikan sebuah map)
Setelah ajudan itu memberikan sebuah map kepadanya, Brandon Depth langsung saja membuka dan membaca beberapa lembar kertas yang terdapat didalam map tersebut.
Brandon: "Hanya ini yang kau dapatkan?!" (menaikkan nada bicaranya)
Ajudan: "Ya, tu-tuan... Karena, karena identitasnya dibawah umur 10 tahun kebelakang telah dikunci oleh pihak biro intelijen..."
Brandon: "Hm... ini semakin menarik..." (dengan senyuman liciknya)
Kemudian ajudan itu pergi setelah memberikan sebuah map kepada Brandon Depth dan menjelaskan beberapa hal.
Paviliun Alex
Arisa: "Pengurus Feng, bisakah kau membantuku berjalan ketaman?"
Feng: "Baiklah, nona."
Arisa ingin mencari ketenangan ditaman, namun ia tidak kuat berjalan sendirian maka dari itu ia membantu Pengurus Feng untuk membantunya berjalan ke taman.
'Taman'
Arisa: "Kau bisa pergi, pengurus Feng. Terima kasih sudah mengantarku kesini." (dengan nada sayu)
__ADS_1
Feng: "Baik, nona." (berjalan pergi)
Sebenarnya, sudah dua hari Alex tidak pulang ke Paviliun semenjak hari dimana Arisa sadarkan diri dan berdebat dengan Alex.
Arisa khawatir, namun ia juga tidak bisa melakukan lebih karena kondisinya pun belum pulih sepenuhnya.
Arisa: "Andai saja... andai saja aku tidak berlaku seperti itu kepadanya kemarin. Pasti dia tidak akan pergi dan meninggalkan rumah, hiks... ini... ini semua salahku... hiks..." (menangis sambil duduk di bangku taman)
Setelah terduduk sebentar di bangku taman, Arisa berjalan kedepan yang tak lain ia pergi ketepi danau kecil yang ada di Paviliun Alex.
Arisa: "Aku... aku... ahh!!!" (melemparkan batu ke dalam danau sambil berteriak maksud melepaskan emosinya)
Hal yang sama terus-menerus dilakukan oleh Arisa. Selagi ia nyaman, ia terus melakukannya.
Namun, tiba-tiba saja datang seseorang yang membuyarkan lamunannya.
Glepp...
Pria itu datang dan tiba-tiba saja memeluk Arisa yang sedang berdiri ditepi danau.
Arisa: "Siapa kau?! Ah! Lepaskan!!" (sambil memberontak tanpa bisa melihat kearah pria itu)
Alex: "Apakah kau sudah melupakan suamimu?" (membisikkan ditelinga Arisa dengan hangat)
Arisa: "Alex?!!" (seketika ia tertegun dan terkejut kemudian berhenti memberontak terhadap pelukan yang secara tiba-tiba itu)
__ADS_1