Pak Presdir, Aku Benci Kamu

Pak Presdir, Aku Benci Kamu
Episode 59


__ADS_3

Setelah hari berikutnya akhirnya Arisa tersadar yang bisa dibilang ia sedang melalui masa-masa kritisnya.


Setelah Arisa sadar ia sangat terkejut dengan infus ditangan kirinya dan ia dalam keadaan terbaring lemah diatas kasur.


Pukul 14:00 siang, Paviliun Alex


'Kamar tidur'


Arisa: "Ahh..." (perlahan mencoba membuka matanya dan memegangi kepalanya)


Arisa: "Ini...?" (sambil melihat kearah tangan kirinya yang tengah dipasangi infus)


Arisa: "Sendiri? Rupanya Alex masih marah tentang hal kemarin." (didalam hati Arisa sedih)


Setelah beberapa saat Arisa terduduk bangun diatas kasurnya dan setelah ia mengucapkan kata-kata itu didalam hatinya, tiba-tiba Alex datang...


Kriett...


Alex membuka pintu.


Klikk!


Alex menutup pintunya dengan pelan.


Alex: "Kau sudah bangun? Ini, aku baru saja dari dapur dan meminta koki untuk menyiapkan bubur untukmu." (sambil berjalan menuju Arisa dengan membawa semangkuk bubur)


Alex: "Cepatlah makan selagi masih hangat, aku tidak akan merawatmu jika kau tidak sakit." (dingin lalu berjalan pergi setelah meletakkan semangkuk bubur diatas meja kecil samping tempat tidur)

__ADS_1


Setelah beberapa langkah Alex dari Arisa, tiba-tiba Arisa memanggilnya dan membuatnya menghentikan langkahnya.


Arisa: "Alex!!" (dengan keras dan Alex pun menghentikan langkahnya)


Setelah Alex berhenti, tanpa pikir panjang Arisa melepaskan infus yang tengah menempel ditangannya dan berlarian kearah Alex dengan cepat lalu memeluknya.


Alex: "Apa-apaan ini?!" (dengan dinginnya setelah Arisa memeluk eratnya dari belakang)


Arisa: "A-aku... aku sudah mengerti semuanya... ma...maafkan aku... hiks..." (menangis sambil memeluk Alex)


Alex: "..." (tetap dingin dan tanpa jawaban)


Arisa: "Ya, kau tidak perlu mengatakan apapun, tetapi setidaknya aku telah mengakui kesalahanku...hiks..." (dengan tulus)


Alex: "Jika kau telah mengetahui dimana kesalahanmu, itu bagus. Sebaiknya kau makan buburmu lalu istirahat, dan lepaskan aku." (dengan dinginnya dan melepaskan pelukan Arisa terhadapnya kemudian pergi meninggalkannya)


Sekeras apapun Arisa memanggilnya, Alex tidak akan menghentikan langkahnya kembali. Alex masih sangat tersinggung dengan pengakuan yang diucapkan Arisa kepadanya kemarin.


Setelah itu, Arisa tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Alex bisa menerima dan memaafkannya kembali.


Arisa pun turun kebawah untuk bertemu dengan pengurus Feng.


Takk...Takk...Takk...


Arisa menuruni tangga dengan jalan yang tidak stabil.


Arisa: "Pengurus Feng?!! Pengurus Feng?!!" (memanggil-manggil dengan suara yang lemah)

__ADS_1


Feng: "Ah! Nona!! Kau?! Kau mengapa turun?! Bukankah seharusnya beristirahat diatas?!" (langsung memapah Arisa setelah ia menuruni tangga)


Arisa: "Aku, aku tidak apa-apa." (berusaha kuat)


Feng: "Tapi, nona, kau..." (dipotong)


Arisa: "Aku tidak apa-apa, sudah kubilang bukan?"


Arisa: "Pengurus Feng, dimana Alex?" (bertanya setelah pengurus Feng memapahnya kemeja makan)


Feng: "Tuan, dia... dia pergi..."


Arisa: "Kemana?"


Feng: "Ini... aku kurang mengetahuinya..."


Arisa: "Apakah biasanya ketika suasana hatinya kurang baik dia akan pergi minum?"


Feng: "Ya... tuan biasanya seperti itu ia akan minum dengan teman-temannya..."


Arisa: "Bagaimana biasanya suasana hatinya akan kembali seperti semula? Apakah aku harus melakukan sesuatu? Sepertinya ia sudah sangat marah terhadapku..." (sedih)


Feng: "Ini... tuan adalah lelaki yang keras kepala, aku tidak memiliki cara untuk membuat suasana hatinya kembali seperti semula."


Arisa: "Lalu seperti apa biasanya kau mengembalikan suasana hatinya ketika ia marah denganmu?"


Feng: "Sejauh apapun usahaku mencoba membujuknya, semuanya akan menjadi sia-sia. Dia adalah tipe orang yang apabila ia membutuhkan orang itu maka ia akan menegurnya."

__ADS_1


Arisa: "Dia membutuhkanku? Kurasa tidak pernah." (didalam hatinya sedih)


__ADS_2