Pelangi Di Ujung Kehidupan

Pelangi Di Ujung Kehidupan
Maaf kan aku


__ADS_3

"kenapa kamu melakukan itu Yuli? tanpa sengaja kamu akan membunuh Azkia, kamu ingin menjadi seorang pembunuh?" tanya kepala sekolah saat Radit dan Yuli sudah ada di kantor.


"sa...saya.." jawab Yuli tebata-bata.


"perbuatan kamu memang tidak bisa di maafkan, bapak tidak ingin siswa bapak menjadi seorang pembunuh. Mulai sekarang, kamu keluar dari sekolah ini. Bapak akan panggil orang tua kamu dan menjelaskan perbuatan kamu terhadap Azkia." kata kepala sekolah itu lagi. Yuli terkejut dan berusaha merayu kepala sekolah agar mencabut perkataannya tadi. Namun, apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Dirinya sudah tidak bisa di maafkan lagi.


"silahkan kamu keluar Radit."perintah kepala sekolah itu dengan suara datar.

__ADS_1


"dan kamu Yuli, tunggu disini sampai orang tua kamu datang" tambahnya lagi.


Yuli hanga terdiam menyesali perbuatannya. Entah apa yang nantinya akan terjadu saat orang tua nya mengetahui apa yang ia lakukan terhadap Azkia. Apakah dia akan di marah habis-habisan? Atau hanya di diamkan saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Entahlah tidak ada yang yau apa yang akan terjadi nantinya kepada Yuli.


"maafkan aku Kia, karena ku, kamu menjadi seperti ini." kata Radit penuh rasa bersalah saat mengunjungi Azkia di puskesmas.


"aku gak apa-apa Radit, kamu tenang aja. Dan terima kasih kamu telah menolong ku tadi."

__ADS_1


"tadi kamu hampir mati Kia, aku sungguh tidak akan bisa memaafkan diriku jika sesuatu hal buruk terjadi kepadamu. sungguh itu akan membuatku gila. Apa lagi kamu begini karena ku. Aku yang telah membuat hati Yuli sakit, tapi kamu yang mendapat balasan nya. Sungguh ini tidak adil Kia" katanya lagi menyesal atas apa yang terjadi tertunduk lesu tak berdaya di hadapan gadis keayuan itu.


"terima kasih Radit. sungguh aku begitu tersentuh dan merasa gadis yang paling beruntung di dunia ini karena di cintai oleh kamu." kata Azkia dalam hati. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca melihat pemuda di hadapanya tertunduk lesu tak berdaya. Seolah-olah separuh dari nyawanya terbang entah kemana.


"sudah lah Radit, jangan di sesali lagi. Toh sekarang aku tidak apa-apa kan? Semua nya sudah beralu." kata Azkia memberanikan diri menepuk lembut pundak Radit sebagai tandan semangat.


"pokoknya aku janji Kia, tidak ada yang bisa menyakiti kamu lagi. Bahkan nyawapun sanggup aku korbankan untuk mu. Ya kamu gadis yang aku cintai." kata Radit mantap meyakinkan Azkia sambari memegang lembut pipi mulusnya itu. Azkia hanya tersenyum menanggapi. Jujur saja hati nya terbang melayang menyusuri taman indah di penuhi oleh berbagai macam bunga warna warnu mendengar perkataan pemuda yang ia cintai dalam diam itu. Ingin Rasanya ia memeluk dan menangis bahagia di dada bidang pemuda itu sebagai ungkapan bahwa dia sungguh bahagia di cintai oleh pemuda seperti Radit. Namun, ia menahan diri karena perkataan Nita masih terniang-niang di telinganya. "Radit itu playboy".

__ADS_1


__ADS_2