
Lama Radit menunggu respont dari Reva namun, yang ia harapkan tak kujung bangun dan membuka matanya. Putus asa sudah mulai menghampiri pemuda itu, "hufff" Radit menghembuskan mafas berat dan mulai beranjak dari tempat Reva terbaring.
"Ra...Radit..." terdengar suara lemah nan berat memanggil nama pemuda tampan itu.
"Ra...Radit, jangan pergi" katanya lagi. Radit menoleh, terlihat Reva mulai membuka matanya dan mengulurkan tangan agar Radit menyambutnya dengan hangat. Radit mendekat dengan langkah yang agak berat. Lalu ia menyambut tangan gadis berambut ikal itu dengan ragu.
"terima kasih Radit kamu sudah datang untuk ku, kamu telah memberikan aku semangat" kata Reva masih dengan suara beratnya.
__ADS_1
"iya sama-sama, kamu harus kuat ya melawan penyakit kamu. Kamu harus bisa mengalahkan itu demi aku" kata pemuda itu lagi memberikan harapan, meski harapan itu palsu karena Radit tidak mencintai Reva. Namun apa salahnya jika ia memberikan harapan hidup sebagai seorang teman, terlebih lagi Reva adalah sahabat kecil gadis yang ia cintai selama ini.
"kamu tau dari mana aku disini" tanya Reva. Radit melihat ke pintu masuk ruangan yang ia tempati bersama Reva. Ada Azkia menyaksikan dan mendengar pembicaraan mereka dari selah-selah pintu. Lalu, Azkia memberikan isyarat agar Radit jangan memberi tahu kepada Reva bahwa ia lah yang telah memberi tahu Radit tentang keadaan Reva. Radit mengerti akan isyarat itu dan langsung beralih pandangan kepads Reva lagi.
"oh, tadi aku menjenguk teman ku yang sakit di sini. Tidak sengaja, aku ketemu kamu di bawa keruangan IGD saat kamu pingsan tadi. Entah kenapa hati ku mempunyai perasaan aneh (aneh yang ia maksud adalah perasaan canggung, kecewa, sedih, semua bercampur jadi satu karena Azkia ingin melepaskan hubungan yang telah mereka bina selama ini).
"mungkin kita mempunyai perasaan yang sama Radit?" tanya Reva penuh harapan.
__ADS_1
"aku menyukai mu, semenjak kita ketemu, aku jatuh hati pada pandangan pertama kepadamu" kata Reva lagi memegang erat tangan pemuda yang macho itu.
"Radit, salahkah jika aku mengungkapkan perasaan ku terlebih dahulu kepadamu" tanya gadis berambut ikal itu lagi.
"ha? hmm" jawab Radit bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Reva, apa harus ia berbohong dan melakukan permitaan Azkia meski menentang dengan hatinya? atau ia harus jujur bahwa ia telah mencintai gadis lain yaitu Azkia sahabat kecil nya Reva? Radit kembali melihat ke pintu dimana tempat Azkia berdiri. Lagi-lagi Azkia memberikan isyarat agar Radit berbohong dan bilang bahwa ia mempunyai perasaan yang sama kepada Reva. Lama Radit menatap Azkia,
"sayang, aku tahu kamu sakit, aku tahu perasaan kamu hancur. Tapi kenapa kamu harus melakukan ini? kenapa kamu menyiksa batin mu sendiri. Disini, aku juga tersiksa sayang" kata Radit dalam hati. Kembali Radit beralih melihat melihat Reva yang masih menunggu dengan penuh harapan akan jawaban Radit.
__ADS_1
"ya Reva, aku juga mempunyai perasaan yang sama. Aku menyukai mu pada pandangan pertama (sebagai teman kata Radit dalam hati)"
"jadi, sekarang kita pacaran?" tanya Reva lagi dengan wajah penuh keceriaan. Radit tidak menjawab, ia hanya mengangguk membenarkan perkataan gadis yang di hadapannya itu.