
"Nita, lebih baik sekarang kamu hubungi orang tua nya Radit" kata Azkia ketika mereka telah sampai di rumah sakit dan Radit di bawa keruang UGD. Azkia tampak gelisah menunggu Radit.
"ya ALLAH, tolong selamatkan Radit ya ALLAH. Aku gak mau dia kenapa-kenapa kerena ku." doa gadis manis itu dengan deraian air mata tertumpah di pipinya.
"Kia, aku udah hubungin mamanya Radit, sebentar lagi dka bakal ke sini kok" kata Nita setelah selesai menelefon mamanya Radit.
"Nit, aku harus bagaimana? Aku bingung Nita, apa yang harus aku lakuin? Aku takut, aku takut Radit kenapa-kenapa karena ku" ucap gadis manis itu, pandangan nya lurus kedepan, perasaan gelisah tampak di bola matanya.
"udah ya Kia, kamu jangan mikir yang macam-macam. Kita doain aja semoga Radit baik-baik saja" jawab gadis berkacamata itu menenangkan sahabatnya yang sedang gelisah.
"Nita, gimana Radit? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Radit bisa seperti ini?" tanya Vina mamanya Radit penuh dengan kecemasan.
__ADS_1
"Radit masih di ruang UGD tante, dokter yang memeriksa Radit belum keluar dari" jawab Nita.
"maafkan saya tante, Radit seperti ini karena saya. Jika dia tidak menolong saya, semua ini tidak akan terjadi tante. Saya benar-benar minta maaf tante." kata Azkia menundukan kepalanya menandakan dia sangat bersalah. Sehingga tidak berani menatap mata wanita paruh baya itu.
"Nita, dia siapa?"tanya Vina dengan kebingungan. Mendengar pertanyaan Vina, membuat Azkia semakin ketakutan. Takut akan mamanya Radit akan memarahi nya, takut akan dirinya di benci oleh mamanya Radit karena pertemuan mereka sungguh memberikan kesan yang buruk. Bagaimana tidak, anak semata wayang wanita paruh baya itu tergeletak tak berdaya di dalam ruangan UGD karena nya. Orang tua mana yang tidak marah melihat anak nya berlumuran darah seperti itu? Pasti semua orang tua akan marah bukan?
"dia Azkia tante" jawab Nita.
"Azkia? jadi kamu yang namanya Azkia?" tanya Vina penuh investigasi.
"kamu ya gadis yang selama ini telah membuat Radit berubah. Radit sangat menyukai kamu. Dia rela melakukan apapun demi kamu. Dia banyak cerita tentang kamu ke tante." jelas wanita paruh baya itu lagi. Mendengar penjelasan Vina membuat Azkia sedikit lega, karena Vina tidak marah kepadanya atas apa yang menimpa Radit. Namun, perasaan semakin bersalah bergentayangan di hatinya. Kenapa selama ini dia tidak menerima cintanya Radit? padahal Radit benar-benar mencintainya sampai-sampai Radit menceritakan dirinya kepada Vina mamanya Radit.
__ADS_1
"Oh, sungguh bodohnya aku! aku membohongi perasaan ku sendiri, menolak cinta nya Radit padahal aku pun mencintainya. menyiksa bathin ku yang tiap malam selalu memimpikan pemuda itu. sungguh munafik kamu Azkia" pikir gadis manis itu mengutuk dirinya sendiri.
"ya udah, jangan di fikirkan apa yang tante bilang tadi. Sekarang, kita doain saja semoga Radit baik-baik saja" kata Vina memegang bahu gadis impian anaknya itu.
selang beberapa menit merek menunggu, dokter yang menangani Radit pun keluar.
"dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Vina cemas kepada salah satu dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"syukurlah, anak ibu telah melewati masa kritisnya. Tapi dia masih belum sadar" jelas dokter tadi. Mendengar penjelasan dokter membuat tiga perempuan itu lega sekaligus bersyukur.
"saya permisi dulu" tambah dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu lagi.
__ADS_1
"Nita, Azkia, tante mau menebus administrasi rumah sakit dulu ya" kata Vina
"baik tante" jawab mereka serentak.