
"aduh Azkia...susah banget sih pelajarannya" kata Radit berputus asa saat mereka mengerjakan tugas bersama di rumah Azkia.
"gak susah kok Radit...kamu aja yang gak semangat dan gak ikhlas kerjanya. Coba kamu ikhlas dan semangat pasti gampang kamu ngerjainnya" kata Azkia melanjutkan mengerjakan tugasnya.
"kalau gitu, kasih aku semangat dong Kia" pinta Radit.
"semangat? semangat gimana?" tanya Azkia tidak mengerti. Radit tidak menjawab ia hanya menempelkan jari telunjuk nya di pipi kanannya sebagai arti bahwa ia mau dicium oleh gadis idamannya itu.
"genit kamu ya" kata Azkia sambil tersenyum malu.
"kalau gak di kasih semangat, gimana bisa aku melanjutkan pekerjaan ini Kia" kata Radit dengan nada manjanya seperti anak kecil yang merengek meminta jajan kepada ibunya. Azkia tersenyum melihat perangai pemuda yang di hadapan nya dan melihat sekeliling apakah ada orang atau tidak, lalu."emmmuach" tanpa di sadari oleh radit bibir indah nan seksi itu menancap di pipi kanan pemuda ganteng itu.
"udah kan? ayo semangat sayang ku" kata gadis manis itu lagi.
"nah, kalau begini kan aku nya jadi semangat. Terus nomor dua gimana sayang" tanya Radit penuh semangat meminta penjelasan dari Azkia. Azkia pun menjelaskan dengan detail semua rumusan yang ia pahami.
"Radit, lihat nya di buku ini bukan di muka aku, emangnya di muka aku ada rumusan matematikanya apa?" kata Azkia kesel saat kedapatan Radit tidak memperhatikan penjelasan yang ia jelaskan.
"cie...ngambek...ih...manis banget sih si Mpau aku satu ini" jawab Radit sambari mencubit pipi gadisnya itu dengan gemes.
__ADS_1
"Mpau?" tanya Azkia heran mendengar kata itu.
"ya, lihat tu pipi kamu seperti bakpau bulatnya"
"ih..kamu ya" kata Azkia gemes dan mencubit-cubit pinggang Radit sambil mereka tertawa.
"assalammualaikum" sapa seseorang dari luar dan masuk kerumah.
"waalaikimsalam" kata kedua muda mudi itu menghentikan gurauannya.
"ini kakak bawain kalian bakso untuk kalian maka sambil ngerjain tugasnya" kata Rika sambil menyodorkan dua mangkok bakso yang ia bawa dari warung ibunya yang terletak di depan rumah mereka.
"ya kak makasih ya" jawab Azkia.
"belum kak, abisnya susah banget kak soalnya" jawab Radit.
"gimana gak susah kak, dia nya aja gak memperhatikan pas aku lagi menjelaskan. Malah ngelihatin muka aku" jawan Azkia kesel.
"abisnya aku gemes sama Mpau ini" kata Radit mencubit lagi pipi Azkia dengan manja.
__ADS_1
"tu kan kak dia panggil aku Mpau lagi"
"kan bener kakak apa yang aku bilang. Lihat tu kak pipi nya kayak bakpau sih"
"kamu itu Tarzan" kata Azkia kesel tiba-tiba nama itu yang keluar dari mulutnya.
"ha? Tarzan? kenapa Tarzan?" tanya Radit heran.
"gak tau, aku asal ngomong aja. Pokoknya kamu Tarzan titik gak pakai koma"
"tapi kan gak ada kaitannya dengan aku Kia" jawab Radit tersenyum melihat Azkia ngambek seperti anak kecil.
"pokoknya aku akan panggil kamu Tarzan kalau kamu panggil aku Mpau lagi" jawan Azkia keras kepala. Sebenarnya ia pun tidak mengerti kenapa Tarzan yang terlintas di benak nya saat ini.
"ya sudah deh terserah kamu saja Mpau ku hahahaha" kata Radit tertawa geli melihat peringai gadis pujaannya. Rika menggeleng-geleng kepala melihat perilaku kedua remaja berlainan jenis itu berperilaku seperti anak kecil.
"ya, sudah kalian lanjutin ngerjain tugasnya ya kakak mau ke depan dulu bantuin ibu di warung" kata Rika dan berlalu dari mereka.
"oke kak makasih ya bakso nya" kata Azkia.
__ADS_1
"sayang, pipi kamu Mpau kayak gini, lantaran kebanyakan makan bakso ya. Bulat bakso nya menumpuk ke sini" bisik Radit menggoda sabari menunjuk pipi tembam gadisnya itu.
"tu kan mulai lagi" kata Azkia kesel. Radit tertawa lucu melihat Azkia kesel seperti itu.