Pelangi Di Ujung Kehidupan

Pelangi Di Ujung Kehidupan
Bertekat


__ADS_3

"Woi..malah bengong...ayo ke sini." sergah Rio salah satu teman nya Radit yang dari tadi memperhatikan Radit dengan gadis manis itu sambari melambaikan tangannya. Seketika lamunan Radit pun sirna mendengar suara Rio, dan beranjak dari tempat dimana Ia pertama kali bertemu dengan gadis yang membuat jantung nya berdetak kenjang seperti habis berlari 100 km.


"siapasih gadis tadi? manis banget" tanya Rio penasaran kepada Radit yang duduk di hadapannya.


"oh iya...aku belum sempat tanya nama nya siapa. Aduh..."jawab Radit menyesali dirinya yang belum sempat berkenalan dengan gadis berambut sepinggang itu.


"gadis tadi? yang sama kamu tadi kan dit?" tanya Ferdi mencampuri.


"iya lah...emang menurut lo gadis yang mana lagi?" Rio kesal.


"hahahaha....Rio, Rio gadis itu kan satu kelas sama kita. Dia duduk di depan Nita."


"yang benar kamu fer?" Radit bersemangat.

__ADS_1


"ya iya lah...makanya kalau masuk kelas itu, lihat-lihat sesekeliling yang ada di kelas kita dulu, biar tau siapa-siapa saja yang ada di kelas kita. jangan pakai menyelonong aja. ya kan ton?" kata Ferdi bertanya kepada Anton yang sibuk dari tadi membaca buku. Anton tidak menjawab dia hanya menganggung membenarkan apa yang di katakan Ferdi.


"waw, kalau gitu boleh dong kita kenalan dengan dia." kata Aldy menyepeli.


"oh no no no...bukan kita tapi gue. yah gue saja yang boleh mendekati dia. Bukan Radit namanya kalau gak bisa menarik hati si gadis manis itu. hehehe..."


"lo kan udah sering dapat cewek-cewek cantik. Untuk saat ini, serahin lah sama kita-kita." kata Rio memohon.


"yang ini beda yo, gak biasanya gue seperti ini yo. saat gue melihat mata nya yang indah itu, secara tiba-tiba jantung gue bereaksi yo, semakin lama menatapnya, semakin kencang detak jantung gue yo." jelas Radit.


"wes...pakar cinta sudah berbicara." kata Ferdi mengejek. Spontan membuat semua pemuda tadi tertawa terbahak-bahak kecuali Anton.


"di bilangin malah ngeyel, beneran ini. Coba lo baca buku ini." kata Anton memberikan buku yang di tangan nya kepada Radit.

__ADS_1


"benerkan?" tambahnya lagi.


"ya bener...bener banget. Mungkin ini lah yang namanya cinta ya".


" nah kalau begitu, lo harus berusaha dapatin hati dia sob, jangan playboy lagi. Kalau gak, serahin aja dia ke gue." canda Ferdi.


" iya gue harus berubah. Sepertinya gue sudah menemukan tambatan hati gue". tekat Radit.


"nah kalau lo ingin menanyakan soal cinta lebih lanjut, lo tanya ke ahlinya. Gak sia-sia kita punya temen yang suka baca buku soal pakar cinta." kata Aldy menepuk-nepuk bahu Anton.


"gak perlu lah...Radit kan udah biasa soal menaklukan hati cewek. Kalau gak bisa, mana mungkin kan dia mempunyai koleksi cewek-cewek cantik." jelas Ferdi.


"koleksi? lo pikir mereka boneka apa?" jawab Rio. Spontan membuat mereka tertawa cekikikan.

__ADS_1


"jangan berisik! ini perpustakaan, harap tenang." sergah salah satu penjaga perpustakaan yang memakai kacamata dan berkawat gigi.


"usss....dia jangan berisik lagi. Beti lafea udah mulai marah tu." balas Rio. Mendengar perkataan mereka menahan tawanya.


__ADS_2