Pelangi Di Ujung Kehidupan

Pelangi Di Ujung Kehidupan
Sakit batin ini


__ADS_3

"tapi Azkia"


"tolong Radit, penuhi keinginan ku. Bukan kah kamu pernah berjanji akan melakukan apa saja yang aku minta, ini pinta ku. Bahagiakan Reva di sisa hidupnya!" Azkia memohon.


"Azkia" kata Radit tidak melanjutkan kata-katanya.


"bantu aku Radit, bantu lah gadis yang kamu cintai ini" kata Azkia lagi tak henti-hentinya memohon dengan cucuran air mata.


"perlakukan dia seperti kamu memperlakukan ku, bahagiakan dia seperti kamu membahagiakan ku selama ini. Anggap lah dia ganti diriku yang pernah ada dalam hati mu sayang" kata Azkia lagi meyakinkan Radit sambari memegang pipi pemuda itu dengan penuh harapan.


"baik lah, karena ini yang kamu minta, aku akan melakukannya. aku akan menuruti keinginan kamu. Tapi, meski aku bersama dia, kamu tetap menjadi milik ku, aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja" kata Radit.

__ADS_1


"terima kasih Radit" kata Azkia memeluk erat tubuh macho pemuda di hadapannya itu.


"sekarang pergilah masuk ke dalam. Panggil dia, buat dia sadar. Berikan bungan ini kepadanya" kata Azkia lagi menyodorkan seikat bunga mawar merah yang di bawa Radit tadi.


Lama Radit menatap gadis berambut ikal yang terbaring tidak berdaya di hadapannya.


"benar dugaan ku, ternyata dia gadis selama ini yang selalu bertemu dengan ku secara tidak sengaja" fikir pemuda berambur undercut itu.


"Apa benar keputusan yang aku buat?" pikirnya. "aku harus melepaskan Radit pemuda yang selama ini mengisi hari-hariku demi sahabat kecilku" batin nya mulai merasa sakit.


"benar kata Radit, sungguh keputusan ini memebuat batin ku tersiksa. Tapi aku harus melakukan ini, aku ingin bahagiakan Reva di sisa hidupnya, apa lagi selama ini keluarganya begitu baik kepada keluargaku. Aku dan keluargaku banyak berhutang budi dengan keluarga Reva" pikir Azkia dalam hati.

__ADS_1


"maafkan aku Radit, kamu yang menjadi sasarannya. Kamu yang menjadi korban atas semua ini" tambahnya lagi dalam hati.


"Reva, Reva" tegur Radit pelan-pelan.


"Reva, bangun ini aku Radit. Aku datang untuk mu" tambah pemuda itu lagi. Tak ada tanda-tanda bahwa Reva akan bangun. Hening, sunyi hanya itu yang terasa di dalam ruangan tersebut. Hanya suara oximeter yang terdengar bernyanyi di dalam ruangan itu.


"Reva, lihat lah apa yang aku bawa untuk mu, bangun Reva" kata Radit lagi dengan penuh kecanggungan. Sebenarnya ia bingung harus berbuat apa, tentu saja bingung karena gadis yang ada di hadapannya bukan gadis yang ia cintai. Ia tidak tau harus berbuat apa saat itu, ia hanya berbuat seadanya dan sebisa nya saja.


"Reva...bangun lah, lihat lah aku. Aku datang untuk mu. Aku ingin kamu bangun. Lawan lah pengakitmu, kalahkan itu demi aku" kata nya lagi.


"bukan kah kamu menyukaiku? apa kamu tidak ingin aku ada di sini? apa kamu tidak mau melihatku? bangun lah jika kamu ingin melihat ku di sini! aku mohon buka matamu demi aku Reva" kata Radit penuh harapan. Diam lagi, hening lagi. Radit memberanikan diri untuk memegang tangan gadis berambut ikal itu. Bukan karena cinta, tapi karena ingin membangunkan gadis itu dari pingsan nya.

__ADS_1


"Reva buka lah mata mu, lihatlah aku" kata pemuda itu lagi.


__ADS_2