Pelangi Di Ujung Kehidupan

Pelangi Di Ujung Kehidupan
Diterima


__ADS_3

"ayo Nit kita masuk ke dalam" ajak Azkia.


"enggak deh Kia, maaf ya aku harus pulang. Aku udah janji sama ibu ku mau ngantarin beliau ke rumah nenek. Nenek ku lagi sakit Kia. Ini dia udah kirim sms, suruh aku cepat pulang" kata Nita. Azkia tidak menjawab ia hanya menangguk menangakan bahwa tidak apa-apa dan langsung masuk ke ruangan yang bertuliskan UGD.


Azkia melangkah pelahan mendekati tubuh pemuda tanpa di depan nya. Pandangan nya sayu terhadap pemuda itu. lama ia menatap, tanpa di sadari beberapa butir air bening membasahi pipinya. Rasa bersalah, penyesalan semua bercampur menjadi satu. Sungguh ia merasa bersalah atas apa yang menimpa pemuda itu, dan sungguh ia merasa menyesal kenapa selama ini ia pura-pura peka dan tidak percaya akan cinta Radit terhadapnya. Padahal, dalam hati nya pun sudah mencintai pemuda itu sejak pertama kali pemuda itu mengutarakan isi hatinya.


"Radit, bangun dong! hikkk....." katanya sambil menangis.


"Radit...bangun! aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Maafin aku Radit, aku yang telah membuatmu seperti ini, aku juga tidak percaya akan cinta mu kepada ku selama ini. Maafin aku, padahal aku pun mencintaimu, sungguh mencintaimu...hiiikkk" tambahnya lagi menagis sambari memegam erat jari-jemari pemuda idaman setiap gadis itu. Gadis itu pun membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang pemuda itu dan menagis sejadi-jadinya.


"Radit...bangun!! maafkan aku...hikkk" katanya lagi.


mendengar Azkia memanggil namanya, atas kekuatan cinta, Radit tersadar dan terbangun dari pingsan nya. Terlihat gadis yang membuatnya berubah meratapi nasib dirinya.

__ADS_1


"Azkia" ucap pemuda itu berat sambil menyentuh rambut lurus nan indah milik gadis yang sedang memeluknya.


"Radit, kamu sudah bangun?" Kata Azkia tersadar ada sesuatu yang menyentuh rambutnya.


"sebentar ya aku panggilkan dokter" katanya lagi. Cepat-cepat Radit memegang tangan Azkia menahan dirinya agat jangan pergi.


"aku tidak butuh dokter Azkia, Aku hanya butuh kamu. Kamu lah obat segala pengakit ku" kata pemuda itu meyakinkan. (emang nya si Azkia itu penawar ya? namanya juga cinta, harap maklum saja ya.)


"tapi Radit"


"Azkia, aku sudah pernah bilang ke kamu. Aku sanggup melakukan apa pun untuk kamu. Termasuk nyawaku akan ku serahkan demi kamu. Sungguh aku mencintaimu Azkia. Sekarang, apa semua ini masih kurang cukup untuk membuktikan itu?" tanya pemuda itu dengan penuh harapan. Harapan akan kali ini cintanya akan di terima. Harapan cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan lagi.


"iya Radit...sekarang aku percaya akan cinta mu kepada ku. Maafkan aku Radit, selama ini aku memnohongi perasaanku sendiri. Aku pun mencintaimu. sungguh mencintaimu hikk..." kata Azkia masih dalam tangis nya.

__ADS_1


"ya gak apa-apa Kia, kamu gak ada salah kepada ku. kenapa harus meminta maaf?" kata Radit.


"jadi, sekarang kamu mau menerima cintaku dan menjadi pacarku?" tanya nya lagi.


"ya...aku mau kok menerima cinta mu dan menjadi pacar mu." jawab Azkia dengan terharu.


" terima kasih Azkia, kamu telah menerima cinta ku" kata pemuda itu lagi dengan semangat nya. Azkia tidak menjawab ia hanya menganggukkan kepala nya tanda ucapan terima kasih kembali sambari tersenyum.


"dalam kondisi seperti ini, masih saja mikirin cinta" ucap Vina yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku kedua muda mudi itu.


"eh mama..sejak kapan mama di sini" tanya Radit kaget.


"sejak tadi, karena kalian ngomong nya serius jadi mama gak mau ganggu deh" kata Vina lagi menggoda.

__ADS_1


"Azkia, jagain anak tante ya, kalau dia nakal, jewer aja telinga nya. Tolong buat dia berubah jadi lebih baik lagi ya Kia." pinta wanita paruh baya itu lagi. Azkia hanya tersenyum sebagai kata iya darinya.


"jewer? emang aku anak kecil apa ma" kata Radit kesel.


__ADS_2