
Dengan sedikit gemetar Naya melangkah pasti ke arah ruangan Kepala Sekolah. Gadis itu terus merapalkan ketenangan untuk dirinya, namun tetap saja ia gugup. Kedua telapak tangannya sudah dingin ditambah debaran jantungnya yang tak karuan.
Bodohnya aku kebangetan! Ngapain juga buat anak orang pingsan.
Kepala Sekolah mempersilakan Naya masuk ke ruangan sesudah gadis itu memberi salam. "Ini Ibunya Riko, Bu Siti." Pria paruh baya itu menunjuk kearah Bu Siti yang wajahnya sudah merah padam, Naya hanya menunduk sopan.
Dengan amarah yang memuncak Bu Siti mengangkat tangannya hendak menampar gadis itu, dengan elegan Naya mengelak. Tidak terima dengan perbuatan gadis itu, Bu Siti kembali ingin menarik rambut Naya. Dan Naya kembali menghindar.
Naya melipat tangannya di depan dada, " disini ada CCTV, kalau Ibu berani sentuh satu helai rambut saja, saya akan visum Ibu." Ucapnya datar.
"Kurang ajar ya kamu! Apa maksud kamu buat anak saya jadi terluka?" Tanya Ibu Siti dengan berapi-api.
Naya menurunkan tangannya dari dada, mendekati sang lawan bicara dan mengajak nya untuk duduk. "Kalau Naya jelasin, Ibu jangan potong ya," ucapnya sembari senyum.
Bu Siti pun memasang wajah setuju walau ada kekesalan yang tampak di raut wajahnya. "Asal kamu enggak ngarang cerita."
"Sebelumnya saya mau nanya, Riko punya saudara perempuan?" Tanya Naya yang membuat Ibu Siti mengernyit namun tetap menjawab,
"Ada, dua."
Naya berdeham. "Saya memukul Riko karena ada alasannya Bu. Dia enggak menghargai wanita dengan baik dan benar. Semuanya dianggap sama, murah."
"Maksud kamu apa?" Tanya Bu Siti yang tidak mengerti apa Maksud gadis itu.
Naya menjelaskan bagaimana Riko dengan bangganya menceritakan tentang cocok tanam dalam hubungan yang seharusnya tidak pantas dilakukan, apalagi masih muda.
Naya menggenggam erat tangan Bu Siti yang mulai melunak akan cerita gadis itu, "saya hanya marah karena Riko enggak sayang sama Ibu dan kedua saudaranya. Kita ini wanita-wanita berharga. Sama kaya pacar-pacarnya Riko, mereka juga berharga Bu. Bayangin aja kalau anak perempuan Ibu yang di cocok tanam sama orang lain, Ibu pasti marah."
Sejenak Bu Siti merenungi semua perkataan Naya dan teringat, "cocok tanam itu apa Nak?"
Ya amplop, aku kira udah ngerti semua makanya ada raut kekecewaan, tahunya muka memelas karena enggak ngerti.
Naya tersenyum. "Anu Bu." Naya tampak berfikir kata apa yang pantas diucapkan yang sama arti dengan yang difikirannya.
"Maksudnya Naya, cocok tanam itu melakukan hal yang tak wajar dalam hubungan." Jelas Kepala Sekolah yang sedari tadi hanya menyimak percakapan dua perempuan yang ada dihadapannya. Bu Siti pun mengangguk-angguk.
Naya dan Bu Siti akhirnya berbaikan dengan menandatangani surat damai. Mereka pamit kepada Kepala Sekolah, dan berjalan bersama di koridor.
Bu Siti mengelus pundak Naya, "Ibu senang ada gadis yang berani bela orang lain, apalagi tentang harga diri." Ucapnya yang membuat Naya tersipu malu.
__ADS_1
Lagi, Naya tersenyum "Karena kita semua berharga Bu."
Saat sampai di depan kelas Naya, Bu Siti memberikan pertanyaan, "kamu tau enggak berapa mantan pacarnya Riko?"
Naya tampak berfikir, "kalau dari sekitar sekolahan sini sih, kira-kira belasan Bu. Emang kenapa Bu?"
"Ibu enggak nyangka aja Riko kuat juga ternyata di ranjang." Bu Siti berlalu dengan cengengesan.
"Hehehehe , Iya Bu saya juga enggak nyangka." Naya menepuk keningnya.
"Eh, gimana-gimana Bu?"
***
Naya masuk kelas dengan raut wajah yang masih tidak percaya dengan perkataan Bu Siti, disambut heboh oleh teman-temannya.
Dinda mendekat dan menariknya untuk duduk. "Eh Nay kamu di apain aja sama Ibu-ibu itu? Ada yang luka? Dipukul enggak? Nilang Nay jangan diam aja."
Naya mendecak, "gimana mau jawab" Naya menyentil kening Dinda yang membuatnya mengaduh, "satu-satu nanyanya, ih."
Dinda jadi manyun, "aku tuh khawatir tahu,"
"Ibu itu baik, kok. Wajar marah karena belum tau sebab masalahnya." Naya tersenyum, "aku bilang semua wanita itu berharga."
Josua yang entah datang dari mana menghampiri Naya, "pulang sekolah aku antar ya?"
Naya menggeleng, "enggak usah, aku sama Dinda aja nanti." Tolaknya.
Meskipun Naya sudah mulai kembali seperti dulu, namun gadis itu tetap menjaga jarak dengan laki-laki, apalagi dari orang yang dikaguminya.
Josua menarik tangan gadis itu keluar kelas, tidak peduli dengan tatapan semua orang yang melongo ke arah mereka.
"Kamu pegang-pegang aku, ih!" Naya menarik paksa tangannya saat mereka sudah agak jauh dari kelas.
Josua yang panik dengan perkataan Naya langsung membungkam mulut gadis itu. "Jangan bilang pegang-pegang, orang dengarnya tuh agak lain, Nay"
Naya menepuk tangan pemuda itu. "Biarin." Naya membuang muka ke samping.
"Kamu beda sekarang." Keluh pemuda itu.
__ADS_1
Naya menoleh dan mendapati raut wajah yang sedih, bukannya kasihan atau simpati gadis itu malah ingin teriak, 'imut banget'. Dan itu membuat Naya mengulum senyum.
Josua jadi mendecak dan memalingkan wajah. Naya mendekat namun tidak menyentuh, "sejak kapan sih kita jadi baperan, heran deh." Tanya gadis itu yang membuat Josua menoleh.
Jarak mereka yang begitu dekat membuat mereka jadi terdiam. Hembusan nafas mereka begitu terdengar satu sama lain.
Josua mencondongkan wajahnya kearah telinga gadis itu, "katanya engga boleh sentuh-sentuh, ini malah menggoda, pake dempet lagi."
Naya menepuk dada pemuda itu yang membuatnya sedikit menjauh. "Apaan sih."
Pemuda itu menatap lekat dengan serius. "kita sahabatan aja ya, biar kamunya enggak nolak kalau aku ajak kemana-mana." Pemuda itu mengangkat jari kelingkingnya, "mau enggak?"
Naya mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya. "Gunanya sahabat laki-laki apa?"
"Kalau kamu butuh sesuatu bilang ke aku, enggak usah sungkan. Aku ada." Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, "kalau butuh perhatian dan kasih sayang aku juga bisa kasih," imbuhnya.
Naya jadi tersenyum. Baper lebih tepatnya. Gadis itu seperti menimang-nimang sesuatu, "kalau sahabatan bisa sepaket yang kaya kamu bilang, kenapa harus ada orang pacaran? Kenapa mereka enggak sahabatan aja?"
"Bersahabat kan bukan cuma dua orang, pacaran tentunya lebih fokus pada satu orang." Jelas pemuda itu.
Naya kembali berfikir, "berarti kalau sama sahabat enggak boleh cemburu, ya?" Tanyanya.
Josua mengelus puncak kepala gadis itu, "kalau ada rasa ya boleh. Tapi enggak bisa terang-terangan dong, kan bukan siapa-siapa, kecuali sama pacar bisa."
Naya mengangguk, "ya udah, masuk kelas yuk,"
Naya yang berjalan mendahului kurang memperhatikan langkahnya. "Eh," Naya sedikit teriak saat gadis itu terpeleset, dengan sigap pemuda yang sedari tadi bersamanya langsung menangkap tubuh gadis itu. Tapi sayangnya, bukannya selamat malah jatuh bersama. Uh, romantisnya kebodohan ini.
"Kamunya berat sih, susah nangkapnya." Omel Josua.
"Aku makannya banyak, biar kuat menghadapi kenyataan."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Author : -_-