Pemilik Halu

Pemilik Halu
Sebenarnya


__ADS_3

Di kost 21.


Roy terpaku memandangi sang pacar yang sedang mengompres wajahnya yang sedikit memar. Ada rasa bersalah yang tersirat dari wajahnya, hatinya menuju ambang kegalauan. Dia ingin jujur pada gadis itu. Ingin sekali. Tapi dirinya terlalu takut dengan kata kecewa yang akan terlontar dari gadis itu. Galau time.


"Maaf, teman-teman aku yang tadi sedikit enggak waras." Ucap Naya yang membuyarkan lamunan Roy. "Mungkin mereka masih kesal karena aku ikut campur urusan mereka." Roy mengangguk mengerti. Hening.


Kok manggut-manggut kaya ngerti gitu, emang aku udah pernah cerita ya?


"Roy,"


"Hn?"


"Kamu kenal mereka?"


Roy jadi kelabakan, "eng, enggak lah. Kalau kenal enggak mungkin kita di kepung kaya tadi."


Roy, aku adalah salah satu gadis di muka bumi yang punya kemampuan bisa melihat kejujuran atau kebohongan dari seseorang. Dan kali ini keringat dan jantungku bilang kalau kamu bohong. Naya jadi terdiam. Ada yang tidak beres pikirnya.


"Roy, kamu mau tahu sesuatu enggak?"


Roy sudah gugup. "Apa?"


"Aku tahu kamu bohong. Kamu kenal mereka. Maksud kamu apa!?"


"Naya mau bilang apa?" Roy menggerakkan tangannya di hadapan gadis. Ternyata Naya berkata dalam pikirannya.


Naya menggeleng, "enggak apa-apa. Ya udah kamu pulang ya, istirahat."


Roy menurut. "Nay, aku sayang kamu. Apapun yang terjadi ke depannya, tolong percaya aku. Aku tulus sama kamu." Kemudian berlalu.


Naya tampak merenung setelah kepergian pemuda itu. Ia memutuskan untuk masuk ke kamar, memandangi dirinya sejenak di cermin. Memejamkan mata. Kemampuan yang hampir tidak dimiliki semua orang membuatnya selalu bersyukur, dan ini berguna di saat dirinya membutuhkan kepastian.


Yang tahu kemampuannya ini hanya Ibu dan kedua sahabatnya. Gadis ini tahu bagaimana seseorang jujur atau berbohong saat mengatakan atau mengungkapkan sesuatu.


Tapi ia teringat lagi kata-kata Roy sebelum pergi tadi. Aku sayang kamu. Ia berusaha menemukan kebohongan dari detak jantungnya namun ia tidak menemukan ada kebohongan dalam ungkapan itu. Bahkan keringatnya pun tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


Huff! siapa Roy sebenarnya?


***


Hari ini hari Sabtu. Semua murid di sekolah Naya memakai seragam Pramuka. Dan entah kenapa gadis itu sangat suka memakai seragam itu. Rok yang sedikit pendek dan ketat, bajunya yang sedikit krop membuatnya jadi sedikit centil. Tentu saja ia mengoleskan bedak tipis dan lipcream pada wajah dan bibir nya. Rambut pendeknya pun ia gerai.


Naya berjalan menuju kelas. "Melihat pemandangan begini pagi-pagi buat aku enggak tenang." Josua yang sedari tadi sudah menunggu di depan kelas menelan ludah melihat gadis itu. Niatnya ingin mengatakan sesuatu. Namun terlalu terlena dengan penampilan Naya hingga membuatnya lupa.


"Kamu ngapain di sini? Kok gak masuk?" Tanya Naya yang sudah sampai di hadapan pemuda itu.


Josua masih belum siap menjawab, masih terpaku, hingga membuat Naya menepuk pundaknya. "Eh, anu. Ada pasangan lebay se-nusantara di dalam. Telinga aku kaya berasap gitu dengar mereka."


Naya melirik ke dalam kelas, tampak disana ada Niel yang sedang merapikan rambut kekasihnya. "Makanya jangan jomblo."

__ADS_1


Josua mendecak, "kan kamu lagi sama orang lain. Ya jomblo lah."


Ada keraguan dari perkataan mu Jo. Apalagi ini. Sejak aku sah berpacaran dengan Roy, banyak insiden keraguan yang jelas tampak dari mata mu. Aku tahu itu Jo.


"Ya udah, masuk bareng yuk." Josua menurut.


"Sayang sayang enggak sih sama sayang?" Tanya Widya manja.


"Sayanglah. Masa sayang enggak sayang sama sayang." Jawaban dari Niel membuat Naya dan Josua jadi saling pandang.


Naya mengernyit mendekat pada tubuh Josua yang jauh lebih tinggi dari dirinya, memberi isyarat untuk menunduk sedikit, Naya pun berjinjit agar lebih dekat dengan telinga pemuda itu. "Putus saling memaki."


"Tinggal nunggu waktu."


"Iya, yang dulunya something jadi nothing." Bisiknya yang membuat Josua tertawa pelan. Dan sadar akan posisi mereka.


"Kita romantis ya kaya gini." Naya refleks mundur.


"Dih, gini doang udah biasa aku tuh."


"Sama Roy?" Tanya Josua, gadis itu mengulum senyum.


"Cemburu yaaa?" Tunjuk gadis itu.


"Mana ada." kemudian berlalu. Tunggu. Ia teringat sesuatu, memutar badannya dan menarik tangan Naya ke pojok ruangan itu. Suasana di kelas mereka sedang sepi, karena mereka berempat tidak sengaja datang lebih awal.


Naya menoleh sebentar. "Tenang." Ucapnya. Lalu mengarahkan pandangannya pada Josua, "ada apa?"


"Sebenarnya." Pemuda itu sedikit ragu.


"Sebenarnya apa?" Desak Naya.


Josua menghela napas, memandang gadis itu. "Roy itu temannya Riko. Kamu hati-hati."


Naya tahu Josua jujur, tapi ia harus tetap memasang reaksi tidak percaya, agar semuanya dapat terucap dari bibir pemuda itu. "jangan fitnah. Kamu tahu dari mana?"


"Aku pernah dengar Lilis ngobrol di telepon. Dan itu Roy. Di situ kayanya dia kasih tahu kalau dia berhasil jadian sama kamu."


"Terus?"


"Pernah lagi Erwin, Riko, dan perempuan itu bahas kamu sama Roy. Aku enggak tahu pasti. Tapi aku khawatir sama kamu."


Terkejut? pastinya. Naya memang syok, tapi tetap tenang. Lalu memutar kembali ingatannya saat kemarin dirinya baku hantam dengan Riko dan Erwin, sekilas ia melihat Roy menajamkan mata pada mereka berdua dan pada anak-anak yang lain seperti menyiratkan perintah 'jangan'. Gadis itu jadi mendongak menatap Josua, ia sadar, mengapa tidak ada yang maju melawannya padahal mereka banyak sekali waktu itu.


Sempurna! Rencana yang lumayan bagus pikirnya. Tapi takdir selalu menghadirkan orang-orang yang menyadarkan bahwa segala sesuatu tidak akan mudah di jalankan dengan asumsi sendiri apalagi niat jahat. Ketahuilah wahai makhluk hidup!


"Kamu percaya sama apa yang aku bilang?"


tanya Josua.

__ADS_1


Naya mengangguk. "Hem."


"Semudah itu?"


Naya jadi mengernyit. "Ya, iyalah. Sahabat kan enggak boleh bohong."


Josua menatap datar, sahabat? kenapa ada rasa sesak di dadanya. Biasanya dirinya yang mengingatkan gadis itu bahwa mereka hanya sahabat. Perasaan apa ini?


"Oh ya, aku tahu kok kamu ada di sana waktu kejadian itu, kamu ngapain di situ? Pastiin semuanya baik-baik saja?"


Josua mengangguk jujur. "Aku takut," jeda sebentar, "takut sahabat aku kenapa-kenapa."


Naya tersenyum miris. "Dan pada akhirnya kita memang di takdirkan bersahabat. Dan semua omongan kamu yang bilang bakalan nikung, atau sekedar kata-kata kamu yang buat aku melayang namun seketika buat aku jatuh itu cuma bualan. Aku tahu itu." Masih bernada biasa saja.


"Aku pakai cara itu supaya setelah ini, kamu enggak terlalu sakit pisah dari Roy. Setidaknya ada aku."


"Ada kamu? Apa yang bisa aku harapkan Jo?!" Suara Naya jadi meninggi. Sepasang kekasih yang sedari tadi ada di ruangan itu jadi terkejut. Niel mengambil langkah untuk menarik Widya agar ikut keluar dan menjelaskan untuk kasih mereka waktu bicara.


"Aku jadian sama Roy. Kamu datang tiba-tiba bilang mau perjuangin aku, terus kasih kebenaran yang buat aku kecewa sama Roy. Dan hari ini aku mau putus dari dia, tapi hari ini juga kamu bilang kita sahabat! Maksud kamu apa? Ha?" Naya menutup mulut dengan punggung tangannya.


"Bukan gitu Nay."


Naya menatap tajam. "Hati aku bukan mainan Jo."


"Nay,"


Naya menghela napas kasar. "Kenapa?"


Terdengar Josua mendesah kesal, tak tahu harus dari mana ia mengutarakan isi hatinya.


Sementara di luar, Niel dan Widya menghalangi setiap orang yang hendak masuk kelas.


"Minggir!" Ucap Dinda.


"Awas enggak? Aku mau masuk. "Sahut Harry.


"Ada apa sih di dalam?" Timpal anak-anak yang lain. Niel dan Widya jadi bingung.


"Ihh! Buka!" Keluh Dinda sambil mendorong tubuh Widya.


"Ih, ini anak beo bising banget, dah! Si Naya sama Josua lagi di dalam, lagi ada urusan. Jangan di ganggu." Ucap Widya akhirnya.


"Bilang dong." Dinda mengalah, namun jiwa ghibah dalam dirinya meronta, "eh, si Naya enggak hamil minta pertanggungjawaban kan? atau mereka selingkuh, atau.. aduh" Niel memberi sedikit sentilan di kening gadis itu yang membuatnya mengaduh.


"Mikirnya kejauhan, pas belajar enggak bisa mikir!" Sewot Widya.


Sementara di dalam kelas, Naya masih bungkam mendengar penjelasan Josua. Terdengar jujur yang membuat hatinya juga bingung.


Jo!

__ADS_1


__ADS_2