
Sepeninggalan gadis itu, Josua merenung. Ia mulai memikirkan bagaimana cara memberi tahu bahwa Naya sedang dalam bahaya. Dalam situasi seperti ini, pemuda itu semakin depresi, ia khawatir dan peduli namun belum bisa menentukan apakah dia suka atau tidak pada gadis itu, atau hanya sekedar peduli karena persahabatan yang sudah mulai terjalin beberapa Minggu lalu. Ahhh, tapi jika berbicara kepedulian, sepertinya bukan baru-baru ini. Dari dulu pun saling peduli namun tidak secara langsung.
Josua berjalan menuju kelas, sekilas ia melirik Lilis dengan tatapan datar namun tersirat sebuah ancaman. Entahlah, sepertinya Josua mengetahui sesuatu yang tidak beres yang berhubungan dengan Lilis. Apalagi saat memori ingatannya memutar kembali dimana Lilis dengan sengaja menjatuhkan Naya.
Untung si Naya wonder girl.
Tepat saat Naya mulai memutuskan untuk setia, ada rasa sakit yang sempat diabaikan pemuda itu. Tapi saat ini, ia melihat Naya sedang menulis, rambut pendek sebahunya jatuh membuat Josua menelan ludah. Nyesek. Dia semakin menggebu, mulai merutuki dirinya sendiri.
Huh! padahal aku lebih suka dengan cewek panjang rambut, tapi kenapa rasanya Naya mengalihkan perhatianku ya. Ahhh! kacau ini!
Kembali mengingat ada niat busuk diantara orang-orang sekitar gadis itu membuat Josua berfikir keras, "atau aku ajak pulang bareng aja kali ya." gumamnya. Dan menghampiri Naya.
"Nanti pulang sekolah sama aku ya." Ucapnya yang membuat Naya yang semula fokus pada buku jadi mendongak.
Setia Nay!
"Roy bilang mau jemput aku Jo." Ucapnya jujur karena memang sang pacar sudah memberi pesan padanya. Tapi ya, tapi, sebenarnya Naya bisa menolak sih, tapi karena ia sudah mulai mengenal tentang setia dan teguran dari kedua sahabatnya membuat gadis itu harus mengorbankan ajakan dari sang pujaan.
Kesempatan emasku!!!
Ingin rasanya Josua memberi tahu apa yang didengar olehnya pada Naya. Namun ia tahan.
Ada waktunya, yang penting aku ngawasin dia jangan sampai celaka. Begitu akhirnya pilihan yang dibuat pemuda itu. "Oh ya sudah, nanti kalau pulang langsung ke kost, jangan kemana-mana."
***
Sepulang sekolah, Naya sedikit berlari menghampiri sang pacar. Sebenarnya bisa disebut sang kekasih, tapi terlalu romantis. Nanti saja ya untuk sang pujaan, jika sang waktu dan keadaan menyatukan.
Senyum Roy merekah saat melihat Naya, ahh manisnya. Padahal wajah Naya jika dibandingkan dengan yang lain belum cukup untuk memenuhi kriteria standar. Namanya juga 'saat jatuh cinta'. Eh, Roy sudah jatuh cinta kah?
"Hai," sapa Naya dengan tersenyum yang membuat matanya sedikit menyipit membentuk sabit. Roy langsung berpaling dan membuat Naya jadi mengernyit dan bertanya. "Kok mukanya dibuang?"
Roy mengulum senyum. "Emangnya sampah dibuang. Aku tuh lihat kamu serasa jadi margarin yang di letak di wajan panas." jeda sebentar sembari memegang dadanya, "meleleh." Dan hal itu membuat seorang Naya jadi tertawa.
Jo, aku takut nyaman sama dia. Stop! enggak ada Josua-josua lagi! fokus sama Roy!
__ADS_1
"Nyontek dari google ya?" Tanya Naya masih sedikit tertawa.
Roy mengangguk jujur, "iya, soalnya kalau dekat kamu aku kehilangan kata-kata. Ya jadinya nanya Mbah Google, hehehe. Yuk," ajaknya, dan disambut dengan patuh oleh Naya.
Seperti yang sudah direncanakan, diseberang sana mata-mata kelompok Erwin dan Riko sudah memberi sinyal bahwa target sudah bergerak. Karena terlalu memberi perhatian kepada Naya, Roy lupa akan pesan yang di berikan Riko tempo hari padanya, sehingga ia lupa dengan rencana yang dibuatnya untuk membawa Naya lari.
Ada satu orang lagi yang saat ini sangat peduli dengan keselamatan Naya. Dia dengan hati-hati bergerak agar tidak di curigai oleh siapa pun. Meski ia tahu Naya bisa menjaga diri dengan seni bela diri, namun hatinya tetap tidak tenang.
Naya mengerutkan dahi saat banyak sepeda motor dengan suara keras mulai mengganggu mereka. Naya merasa risih.
"Roy ngebut dong, aku enggak suka bising." Ucapnya pelan di telinga Roy.
Pemuda itu sudah panik, bagaimana bisa ia lupa dengan rencana temannya. Ah, sial! Umpatnya.
Cittttt!
Suara ban motor anak sekolah yang sebagian dari sekolah lain berdecit saat berhasil mengepung motor Roy. "Enggak sempat ngebut ya?" Tanya Naya masih santai. Roy hanya diam. Belum bisa berkata apa-apa, hatinya juga belum siap kehilangan teman-temannya. Karena ia tahu, jika ia membela Naya dengan sungguhan, hati gadis itu belum tentu dapat dimiliki seutuhnya.
Erwin dan Riko muncul dari arah yang sama, menyunggingkan senyum kemenangan. Namun diseberang arah lain, tampak lagi seseorang dengan geram ingin menghajar mereka semua. Tapi ia tahan, harus susun rencana dulu. Pikirnya.
Melihat Naya turun dan berjalan mendekati Erwin dan Riko dengan berkacak pinggang membuat Roy refleks mengikuti. Takut-takut kedua temannya itu tersulut emosi hingga memukul pacarnya.
Jarak sudah dekat, Naya melipat tangannya di dada. "Kalian mau apa?" Tanyanya santai.
"Mau tubuh lo!" Ucap Erwin sambil memainkan sebelah alisnya.
Naya tersenyum jijik, "berani bayar berapa?" spontan Roy menoleh pada Naya tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh gadis itu. "Kamu jual diri ke tante-tante seberang satu abad belum tentu bisa beli harga diri aku apalagi tubuh aku." Lagi, Roy terkejut.
Super girl.
"Tapi kalau maksa gratis sih boleh, asal kamu bisa hadapin pacar aku dulu." Ucap Naya enteng yang membuat anak-anak disitu jadi mengernyit, rencana awal bukan begini, seharusnya kan mereka hanya menakut-nakuti dengan mengancam, dan Roy harus sedikit di pukul oleh bos mereka dan melihat Naya menangis tersedu-sedu. Dan akhirnya gadis itu semakin jatuh hati pada Roy.
Riko menelan ludah berkali-kali, melirik Erwin yang lebih gencar sepertinya ingin membuat Naya tersulut emosi. Riko mendekatkan bibirnya ke telinga Erwin, "ingat rencana awal."
Namun tidak di gubris oleh Erwin. Sepertinya ia lebih fokus pada Naya saja.
__ADS_1
"Nay, aku..."
"Kenapa? Takut sama mereka?Ttenang ada aku." Ucapan Roy terpotong dan membuatnya berfikir.
Dia bilang apa? tenang ada dia? maksudnya?
"Ayo dong pukul pacar aku, kalian-kalian ini tuh kaya buku tahu enggak sih? Enggak perlu di baca sampai habis, judulnya saja cukup menjelaskan. Mau balas dendam ya? Cih, pengecut!" Ejeknya.
Bukan Naya yang tersulut emosi, tapi Erwin namun Riko berusaha menahannya. "Eh beo banci!" Tunjuk Naya pada Riko. "Enggak berani lawan pacar aku?" Riko jadi geram, bukan Erwin yang terlebih dahulu melancarkan serangan.
Roy yang belum siap bertindak di dorong oleh Naya hingga pukulan Riko mengenai wajahnya, ia sedikit mengerang sakit. Lalu melirik Naya, seperti menyiratkan mengapa, tahu akan ekspresi itu, Naya dengan mudahnya kembali menuturkan kata-kata, "Nanti, kita kaya cerita di film-film, kamu babak belur demi bela aku dan akhirnya kamu aku rawat deh." Ucap Naya yang semakin membuat Roy frustasi.
Gadis itu melempar tasnya ke arah Riko, ya kita tahulah baku hantam pun terjadi. Erwin pun sudah di lempar Naya dengan segenggam pasir yang mengenai matanya dan membuatnya memberi isyarat kepada yang lain agar pergi. Tentu saja anak buahnya tidak berani menyakiti Naya, karena pandangan Roy sudah mengancam.
Naya masih terengah-engah, ternyata keluar dari ekskul karate sedikit membuat tubuhnya melemah dan cepat lelah. Gadis itu menghampiri Roy, "kamu enggak apa-apa kan?"
Roy mengangguk. "Kamu bisa bela diri?" tanyanya sembari memegang wajahnya yang memar.
"Sedikit." Jawab Naya.
Sebenarnya Roy tidak pernah tahu bahwa gadis yang jadi pacarnya saat ini bisa bela diri, ia hanya mendengar gosip saja. Yang ia tahu, gadis ini hanya suka menulis dan membaca. Dan satu lagi, suka hujan.
"Kita ke kost dulu, aku obatin luka kamu."
Roy menurut, Namun kembali dikejutkan dengan Naya yang mengambil alih mengendarai sepeda motornya. "Eh, nanti kita jatuh."
Naya melengos, "naik atau putus?!"
Dengan ragu namun cepat Roy naik dan mereka pergi dari tempat itu menuju kost 21.
Lagi-lagi sisi lain Naya buat pompa jantung aku rusak.
Selepas kepergian mereka, seseorang yang sedari tadi memantau akhirnya mengelus dada dan tersenyum.
Gadis konyol.
__ADS_1