
Pagi ini, semua badan Erik terasa pegal. Bagaimana tidak, satu malam ini pria itu jadi penyangga agar Naya nyaman tidur di dalam dekapannya.
"Maaf udah ngerepotin." Sesal Naya yang saat ini makan bubur dari rumah sakit dan sedang disuapi oleh suaminya.
"Gak apa-apa, yang penting kamu bisa istirahat dengan nyaman."
"Aku jadi gak enak."
"Nggak apa-apa, Naya. Udah ya, gak boleh minta maaf terus. Makan aja dulu biar cepat pulih." Cerca sang suami.
"Iya, Mas."
Selang beberapa menit setelah makan, keributan mulai terdengar dari luar. Naya sudah menebak itu adalah para makhluk planet lain yang nyasar ke ruang rawatnya.
"Mas kasih tau ke mereka ya kalau aku ada di rumah sakit?"
"Iya, Niel dari kemarin telpon kamu terus, jadi Mas kasih tau aja."
"Huff, harusnya gak usah Mas."
"Kenapa? Kamu gak suka mereka datang?"
"Nggak, lebih baik nggak."
Erik ingin bertanya, namun terhalang karena suara cempreng Dinda yang langsung meluap kemana-mana.
"NAYA!! Astaga,, masih hidup?" Wajahnya panik.
"Masih."
"Astaga, kenapa bisa selamat sih? Padahal aku udah siapkan uang sumbangan." Celetuk Dinda seenak jidatnya.
"Astaga, ckckck, punya teman otaknya kurang setengah kilo semua."
"Dek, makanya jangan bandel, hidup nyusahin mulu." Timpal Niel tanpa ada raut bersalah dalam perkataannya. Belum lagi Rey dengan hebohnya melancarkan ocehannya.
"Pasti waktu pingsan kamu buat perjanjian sama malaikat, iya kan? Kamu pasti ngancam malaikat supaya bertahan hidup kan? Dasar manusia."
"Bused, punya kawan manusia sifat kayak gorila semua. Keluar!" Tajam Naya.
Semuanya sudah pasti terbahak-bahak. Ekspresi Naya sudah diambang kesabaran. Meski Naya tau itu hanyalah candaan, tapi ya setidaknya jangan di depan Erik, malu ya ampun. Dan pria itu sudah tau kenapa Naya tidak mau bertemu dengan sahabatnya. Ya,. seperti ini.
Naya melirik ke arah sang suami, Erik kelihatan ikut tertawa. Ia memicingkan mata, "Mas gak mau ngeledek juga kayak mereka?"
"Sudah diwakilkan oleh mereka."
Naya mendecak kesal. Kenapa jadi seperti ini sih? Dan lagi, sejak kapan suaminya ini bisa tertawa seperti itu di hadapan para sahabatnya. Seperti sudah akrab saja.
"Lagian ya Nay, setau kita nih, kamu kan bisa bela diri tapi kenapa melawan tiga orang aja gak bisa?"
"Rey, aku tuh udah mau jadi emak-emak. Umur udah banyak, astaga! Pergi aja deh kalian, pusing aku tuh." Naya mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah, dia sungguh kepanasan sekarang. Panas melihat temannya banyak yang tidak waras.
"Ini nih makhluk paling hebat, kita rela gak masuk kerja demi jenguk dia, eh malah di usir."
"Mohon maaf, gak butuh dijenguk sama manusia yang otaknya udah miring!" Ketus Naya.
"Bused nih anak, eh, sadarkah engkau wahai manusia bahwa yang kamu katakan itu adalah jahat? Sungguh terlalu."
__ADS_1
Naya memandang tajam ke arah Rey, entah kenapa mereka jadi berantem seperti ini.
"Aku nggak sadar, kenapa?" ketusnya lagi.
Rey menunjuk wajah Naya, "BERARTI KAMU BUKAN MANUSIA! DASAR KUPU-KUPU!"
"MAKASIH. CANTIK KAN?"
"NAJIS!"
"IHHHH! DASAR SILUMAN MONYET! KELUAR!"
"DASAR WANITA RUBAH! BLEK." Rey menjulurkan lidah mengejek sementara Naya sudah memasang wajah se-kesal mungkin.
"Udah woi, kayak kapal pecah nih." Lerai Niel, dia sendiri tidak menyangka Rey dan Naya akan berubah seganas ini. "Nay, kamu istirahat aja lagi, biar Rey aku yang urus."
Naya tidak menggubris. Baginya, mereka sama saja. Sama-sama gila.
"Pantesan aja ditolak terus sama Dinda, rasain tuh sambalado pakai kecap, mantap!" Ejeknya.
Lagi-lagi Rey menunjuk ke arah Naya. "Dasar..... Dasar!"
"Apa!"
"Dasar betina!"
Erik tak henti-hentinya tertawa. Belum pernah dilihatnya sisi sang istri yang seperti ini. Dia terlihat bahagia sekali, setidaknya rasa takut dan trauma Naya berangsur hilang dengan adanya sahabat-sahabatnya. Yah meskipun yang dihadapi Naya harus orang-orang seperti Rey.
"Nay, udah. Rey, kamu juga gak boleh gitu ke Naya." Ujar Dinda. Meski dia sendiri tidak memungkiri bibirnya tak bisa berhenti tertawa.
"Dih, bukan laga pertandingan ini." Cerca Dinda, "ya tapi bagaimana pun Rey di hati. Tapi mohon maaf, Naya di seluruh bagian tubuhku."
"Yeee, padahal udah sempat baper tadi." Seloroh Rey sedikit kecewa.
Naya tersenyum puas. Merasa puas melihat wajah Rey. Tapi seketika senyumnya hilang.
"Tapi bohong!! Ya!!"
Plak.
Naya tak segan menampar pipi Dinda pelan, "dasar tak punya hati!"
Semuanya tertawa di sana. Mereka merasa lega Naya sudah bisa diajak bercanda lagi. Terlebih Niel, dia sangat khawatir saat mendapat kabar itu dari Erik. Padahal hari ini dia ada jadwal kencan buta, iya, selalu saja ada yang menggagalkan dirinya untuk mendapat kekasih. Sudah nasib mungkin menjadi jomblo sejati.
Sementara Dinda dan Rey segera minta ijin dari kantor tempat mereka bekerja setelah mendapat kabar dari Niel. Mereka sangat khawatir, tapi setelah melihat Naya sudah baikan, aksi nyerocos tanpa batas pun di lancarkan.
***
"Aku mau pulang Mas."
"Kata dokter besok aja, kamu masih trauma."
"Aku udah gak apa-apa kok. Pulang aja ya Mas."
"Besok ya."
"Mau pulang.."
__ADS_1
"Iya, besok ya."
Begitu saja diulang-ulang hingga Naya mendecak sebal. Erik hanya tertawa menanggapi.
"Nay?"
"Apa?" jawabnya masih dengan nada yang kesal.
"Maaf."
Naya mengernyit kening, "untuk apa?"
Erik diam ditempatnya. Memandang sang istri dengan tatapan teduh. "Untuk semuanya."
Naya diam saja. Memilih untuk bungkam saja dan memberikan waktu untuk Erik melanjutkan kalimatnya.
"Dari awal sampai sekarang, aku minta maaf." Ucapnya sungguh-sungguh, kemudian mendekat, "bisa kan kita mulai semuanya dari awal?"
Naya tersenyum kaku.
"Bisa kan kita sama-sama bangun menara keluarga?"
Jujur saja, Naya tidak mengerti suasana hatinya saat ini. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada sang suami. Tapi di satu sisi dia sangat senang.
"Mau kan?" Ulang Erik.
Naya masih tak menjawab. Pikirannya masih melayang-layang entah kemana. Lalu berhenti pada titik masalah dimana mereka mulai bertengkar.
"Aku gak virgin Mas. Aku gak pantas ikut bangun menara sama Mas." Suaranya begitu sendu.
"Iya, aku tau. Itu kekurangan kamu. Kita ini manusia, aku juga pasti punya kekurangan."
Naya tersentuh mendengar itu. "Iya Mas."
"Apapun masa lalu kamu aku terima. Jangan pergi lagi dari rumah ya, apalagi bahas tentang perceraian."
"Iya."
"Aku hanya syok dan terkejut, bukan benci dengan kenyataan. Kita hanya perlu waktu untuk saling mendinginkan pikiran."
Naya mengangguk saja. Senyumnya tampil begitu saja tanpa seijinnya. Tak menyangka hubungan mereka akan membaik dengan cara mengharukan seperti ini.
"Iya, Mas. Kita mulai dari awal."
Erik membalas dengan senyum. Menggenggam tangan sang istri dan mengelus rambutnya.
"Emangnya Mas punya kekurangan?"
"Semua manusia punya kekurangan."
"Apa?"
"Ya, adalah pokoknya."
"Mas gak perjaka gitu?"
"Eh?"
__ADS_1