
"Mental orang yang udah kerja itu beda-beda Nay. Kamu harus kuat ya, tapi ingat, kalau ada junioran di tahun depan, kamu gak boleh tiru mereka ya." Ucap Sumi menasehati.
"Iya, makasih Sumi." Balas Naya, "eh tapi aku gak nyangka loh kamu anak Bosnya. Pantesan mereka tadi diam."
"Ya gitu deh. Sebelum aku tamat sekolah aku udah kerja di sini. Jadi sebagian dari mereka itu masih junior aku." Jelas Sumi. "Ingat, kalau kamu bertahan dan cepat paham seminggu ini, kamu bakalan langsung diangkat jadi pegawai tetap disini. Aku yang jamin." Sumi berjanji.
"Makasih Sumi. Aku bakalan buktiin, kalau aku tuh gak lemot banget lah."
Sumi tertawa, "yang aku tau kamu pasti bisa. Apalagi kalau ingat dulu waktu masih SD aku sering nyontek sama kamu, hahaha"
"Ah, Sumi!"
Seminggu berlalu, Naya membuktikan hasil kerjanya. Mulai dari hal sepele sampai besar dia sudah cukup dipercaya untuk dilepas tangankan. Delila dan Celine hanya tersenyum kecut saat Naya di umumkan jadi pegawai tetap secara langsung, sesuai anjuran dari Sumi. Tapi satu pun dari mereka tidak ada yang tahu bahwa dua gadis itu ternyata teman lama.
***
Dan puncak karir gadis itu dimulai hari ini. Naya memenangkan satu proyek kecil yang beberapa bulan lalu di percayakan padanya. Keadaan pun sudah membaik, Delila dan Celine tak lagi menganggap remeh keahlian Naya, hal itu membuat mereka jadi dekat karena bisa saling bekerja sama.
Bonus-bonus pun banjir dia dapat bersama timnya.
"Wah, memang untung dari proyek kecil sih gak seberapa, tapi kalau terus-terusan hasilnya sebagus ini bisa segunung juga penghasilan." Ucap Delila senang sembari melihat-lihat foto hasil proyek mereka.
"Iya nih. Eh, Naya, kamu kan udah enam bulan kerja disini, kemampuan kamu udah gak di ragukan lagi," Celine mendekat membuat Naya menoleh, "udah bisa dong ya, kita ambil cuti dua hari buat shopping. Bos pasti kasih ijin kalau kamu yang minta, ya kan Delila." Meminta persetujuan.
"Ehm?" Delila jadi fokus pada mereka, "ah iya, soalnya kita selama 6 bulan ini kebanyakan lembur. Sampai tas aku aja gak ganti nih."
"Ayolah Naya.." Bujuk mereka.
"Iya, nanti aku coba bilang." Jawab Naya.
Naya mengambil ponselnya dan membuka kalkulator. Ia menghitung penghasilan dan sisa tabungan di ATM. Masih cukuplah kalau untuk sekedar beli kemeja baru. Pikirnya.
Rutinitasnya yang selalu mentransfer uang ke kampung setiap kali gajian, membuat dia lebih berhemat lagi. Tas, sepatu serta pakaiannya sejak pertama kali masuk kantor ini belum pernah sama sekali dia ganti. Hanya itu-itu saja.
Dia mengetikkan pesan pada atasannya dan meminta ijin. Dirinya tak menyangka sang pimpinan setuju. Dia tersenyum dan berteriak.
"The holiday is coming!"
"Ah seriusan?"
"Iya..." Naya memeluk duanya.
"Yeayyyy!!"
***
"Liburan ya liburan. Tapi gak harus habisin gaji satu bulan juga," gerutu Naya pada Delila dan Celine.
__ADS_1
"Astaga ya Naya, kamu itu udah kerja, gak mungkin baju dan tasmu juga yang biasa-biasa aja. Setidaknya ada dong yang bermerek." Ucap Celine.
"Bermerek sih bermerek, satu sepatu harganya delapan jutaan, gak mau ah, pulang yuk" rengek Naya.
"Dengerin ya Nay, kita itu masih muda, waktunya kita senang-senang. Kamu ngirim ke kampung buat mereka bahagia, kamu udah bahagia belum hidup pas-pasan?"
"..."
"Bahagiain diri sendiri dulu, baru orang lain." Delila menepuk pundak Naya. "Lagian ya, gaji kamu tuh di atas kita berdua, jangan pelit buat badan sendiri."
"..."
"Kamu bilang mau kuliah kan?" Naya mengangguk, "ya ampun Nay, gaji kamu sebulan aja udah cukup kali buat bayar dua kali cicilan untuk kuliah."
Naya berfikir sejenak. Sebenarnya dia juga pingin sekali membeli barang-barang branded seperti dua orang yang bersamanya ini. Bukan dua orang ini, tapi satu tempat kerjanya juga memakai barang-barang bagus. Kata mereka sesuaikan gaji dan gaya.
Ya sudahlah. Pikir Naya. Toh ini hanya sekali saja. Ia pun mengangguk pada kedua temannya itu.
"Yeay!"
***
Bulan berikutnya, kiriman uang yang biasanya sampai dalam hitungan angka yang tinggi, kini Naya hanya mengirim sedikit saja. Lantas sang Ibu pun jadi bertanya apa gerangan yang terjadi pada anak gadisnya. Sang Ibu sangat takut ada hal yang terjadi padanya.
"Halo Naya, apa kabar kamu?"
"Kamu gak sakit kan?"
"Naya sehat Bu, kenapa?"
"Nggak, Ibu cuma penasaran, kenapa tiba-tiba kiriman langsung turun kayak gitu, kamu ada masalah ya Nak?" Naya terdiam, "kalau lagi ada masalah, mending gak usah ngirim dulu, buat kamu aja dulu. Ibu, Abang, sama Dina masih punya tabungan kok buat biaya hidup sehari-hari."
"..."
"Nay?"
"Eh, iya Bu." Jawab gadis itu gelagapan. Pasalnya dia tadinya ingin sedikit berbohong. Tapi yang ada, sang Ibu malah sangat perhatian. "Eh, anu Bu,"
"Kenapa?" tanya sang Ibu dari seberang telepon.
"Uangnya Naya pakai buat belanja. Beli sepatu, baju, tas, ya segala keperluan Naya gitu Bu." Ucapnya sedikit merasa bersalah.
"Wah, bagus itu. Kan gak mungkin kamu udah kerja tapi bajunya gak sesuai. Anak Ibu gak boleh jelek,"
What's? Sebenarnya Ibuku ini jenis wanita seperti apa sih? Setahuku dia hanya tamatan SMP saja dan setelah itu menikah. Tapi kenapa dia bisa membuat aku jadi anak yang merasa punya Ibu yang paling sempurna sih?!
Selalu ngerti ini itu, nasihatnya juga pas, ih!
__ADS_1
"Naya tuh benci tau gak sih sama Ibu."
Nada suaranya tertahan.
"Loh, durhaka itu." Balas Ibunya masih dengan nada bercanda. Tapi Naya sudah menangis.
"Ibu selalu tahu apa yang aku mau, Ibu pasti ngerti semua yang aku alami, gak ngerti lagi mau bilang kayak apa lagi buat Ibu, hiks, hiks"
"Loh, loh. Ya itu enaknya punya Ibu janda, kasih dan sayang buat anak-anaknya semua."
"Ibu," panggil Naya.
"Apa?"
"Ya udah, Ibu jangan nikah lagi ya,"
"Iya, tapi gak janji ya.. Hahaha"
***
Setelah hari itu, bahkan sudah tiga bulan berlalu Naya tidak pernah lagi mengirim sepeserpun ke kampungnya. Dia terlalu sibuk mencari info barang-barang keluaran terbaru. Dia pun bekerja keras untuk mendapatkan barang-barang yang sedang tren diperbincangkan.
Yang biasanya dia enggan untuk sekedar memakai make up bekerja, kini setiap Minggu dia mulai menjalani perawatan kulit yang harganya pun mungkin cukup membayar parkir lima tahun. Hitung aja deh.
Dia pun tak lagi tinggal di kost yang murah, dia lebih memilih kost yang elit. Yang harga uang kostnya naik tiga kali lipat dari yang sebelumnya.
Se-beda itu diri Naya yang sekarang. Ikut sana sini, nongkrong sana-sini. Sampai dia lupa ada mimpi yang harus dia kejar. Bahkan melunasi hutang sang Ibu pun tidak pernah lagi terlintas di benaknya. Dia hampir lupa. Bahkan sudah lupa. Mungkin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Teman-teman, makasih udah mampir. Maaf ya ini ceritanya memang agak lama alurnya dan pula santai. Tapi ya emang gitu perencanaan yang aku buat. Karena novel ini hanya menceritakan kehidupan seorang Naya bagaimana dia tumbuh dan menjadi dewasa kelak. Disini juga belajar tentang kehidupan, keluarga, percintaan (episode di atas 40) serta mencari siapa yang bisa menerima seorang Naya apa adanya bukan apanya ada.
__ADS_1
Jan lupa like dan komen ya🤗 salam lope dari Ibu Naya yang super keceee❤️❤️**