
Dengan adanya status berpacaran, Roy lebih leluasa bertemu dengan Naya di kost 21. Penghuni di dalamnya pun ikut bahagia, terlebih lagi Roy sering membawa makanan untuk tetap terlihat baik di hadapan Naya.
Seminggu berpacaran, Naya merasa biasa-biasa saja. Dia tidak merasakan adanya bunga-bunga yang bertebaran di pikirannya, atau melihat kupu-kupu saat Roy berada di sampingnya. Tentu saja, Roy kan manusia!
Saat ini Naya sedang fokus membaca novel dan Roy datang membawa sebuah buku novel baru untuk Naya. "Ini buat kamu." Pemuda itu menyodorkannya dengan tersenyum lebar.
Naya balas tersenyum, "Makasih, kamu tiap hari kesini mau ngapain?" Tanya Naya, yang dirinya sendiri juga tidak mengerti kenapa Roy tidak pernah absen ke kostnya.
"Ya mau lihat pacar aku dong."
"Enggak bosan?" Tanya Naya.
Roy mengernyit, "kamu bosan ya lihat aku tiap hari kesini?" Malah balik bertanya.
"Ya, ya enggak gitu juga," jawab Naya tidak enak karena merasa menyinggung Roy.
"Enggak apa-apa, aku balik ya." Ucap pemuda itu dan langsung berdiri. Naya mengerjap dan hampir tidak sadar bahwa Roy sudah keluar dari pintu dan hampir sampai ke pagar.
Naya buru-buru mengejarnya dan menarik lengan pemuda itu. "Ih, baperan banget sih. Aku enggak ada niatan ngusir gitu."
Roy membalikkan tubuhnya, "kamu bosan kan karena tiap hari aku kesini?" Dia memberi jeda, "ya udah, mulai sekarang kita ketemunya enggak usah sering-sering."
Naya merasa tidak enak hati dan mencari alasan yang pas untuk tidak menyakiti perasaan pemuda itu, "bukan karena bosan, kamu kan kerja. Aku enggak mau jadi penghalang, nanti gara-gara aku kamu jadi enggak fokus lagi sama hidup kamu."
"Kamu lupa aku bosnya?" Dan pertanyaan itu membuat Naya menggaruk tengkuknya.
Iya juga ya, kan suka-suka dia dong. Gimana Ini?
"Hehehe, lupa." Ucap Naya cengengesan.
Roy berdehem, "katanya selama pacaran enggak boleh pegang-pegang. Kayanya ada yang nge-langgar nih." Sindirnya karena melihat tangan Naya masih merangkul lengan pemuda itu saat menahannya tadi.
"Eh." Naya refleks melepaskan tangannya. Dihari pertama mereka jadian, Naya sudah membuat dua peraturan, yaitu tidak boleh posting wajahnya di akun sosial media dan tidak ada kontak fisik.
"Aku bisa enggak panggil kamu sayang?" Tanya Roy penuh harap.
Naya menahan keinginannya untuk memuntahkan seluruh isi perutnya mendengar pertanyaan dari sang pacar.
Lem kambing dikamar aku masih ada enggak ya, buat nutup bibir nih anak.
"Aku enggak suka kaya gitu-gitu." Protes Naya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena rasa sayang itu lewat perbuatan, kalau cuma panggilan doang sayang basi itu namanya."
Roy jadi tersenyum mendengar perkataan sang pacar, "besok malam Minggu kita jalan ya." Ajak pemuda itu.
"Aku lagi fokus belajar buat ujian akhir." Lagi-lagi menolak.
"Kapan bisa?"
Naya bingung harus mengeluarkan kata-kata apa lagi untuk menolak permintaan Roy. Hampir tiap hari pemuda itu memberi penawaran namun selalu saja gadis itu menolaknya dengan halus terkadang juga terang-terangan. Entah kenapa hatinya tidak ingin berada di samping pemuda itu, dia jadi kesal sendiri.
Meski ditolak berkali-kali oleh Naya, entah kenapa juga pemuda itu semakin penasaran dengan gadis itu. Roy merasa Naya sangat berbeda dari perempuan lain yang sempat menjadi kekasihnya. Kadang muncul dibenaknya, apakah benar gadis ini tidak bisa disentuh?
Namun Roy belum punya waktu yang tepat untuk membuktikannya. Dia masih sabar dengan sikap Naya yang terlalu cuek padanya.
Tiap hari Naya pasti selalu dapat hadiah dari Roy, mulai dari buku diary, pena berwarna, novel, dan hal-hal unik yang jarang diminta oleh perempuan lain. Karena biasanya Roy selalu memberikan make up atau baju-baju bagus untuk siapa saja yang didekatinya.
Gue tahu si Naya ini cuma sementara doang polosnya, gue kasih yang mahal sok nolak. Cih! Roy.
"Nanti kalau aku punya waktu, aku pasti kabarin." Jawab gadis itu.
Setelah menjawab seperti itu Roy pamit untuk pulang. Dan Naya termenung di halaman kostnya.
***
Ternyata peraturan yang dibuat Naya hanya dipatuhi selama seminggu saja oleh Roy. Minggu berikutnya pemuda itu memosting wajah Naya di akun sosial medianya dan menandainya dengan status berpacaran.
Kabar itu membuat kehebohan di kelas Naya. Apalagi Lilis sudah memasang wajah sumringah mendengar kabar ini, karena dia akan lebih leluasa dekat dengan Josua, begitu pikirnya.
Dinda yang panik akan situasi ini berlari cepat menuju kelas Widya.
"Eh, Wid, bahaya! Josua pasti udah tahu Naya pacaran sama Roy." Ucap Dinda memelankan suaranya.
"Lah terus kenapa?" Tanya Widya santai. "Biarin ajalah." Imbuhnya.
"Kok gitu?"
"Justru ini bagus, kita bisa lihat reaksinya si Josua. Kalau dia cemburu berarti dia suka dong sama Naya." Jawabnya.
Dinda mengangguk, "cari Naya yuk." Ajaknya dan di balas anggukan kepala dari Widya.
__ADS_1
Naya masih santai berjalan memasuki gerbang sekolah setelah turun dari motor Roy. Ya, sejak mereka sah berpacaran, Roy ambil alih dalam urusan antar-jemput.
Naya berlari kecil menuju kelasnya, saat hendak mendorong pintu kelas yang sedikit terbuka, Lilis langsung menarik pintu itu dari dalam, Naya terperanjat.
"Pagi-pagi buat terkejut aja." Sewot Naya. Lalu berjalan menuju kursinya, dengan sengaja Lilis menjulurkan kakinya dan membuat Naya terjatuh.
"Aw." Rintihnya.
Tidak ada yang berani menertawakan atau menolong Naya. Dia bangkit sendiri. Naya melemparkan pandangannya ke sekeliling dan tatapan semua orang mengarah padanya.
Sial, malu banget!
Di kursinya, Josua melihat semua adegan itu. Dia tahu Lilis sengaja namun ia memilih untuk bungkam.
Di suasana yang panas hati Naya hendak bertanya apa maksud Lilis yang membuatnya terjatuh, namun Dinda dan Widya masuk ke kelas dengan heboh.
"Naya, kita cariin kamu dari tadi."
"Diam dulu, aku ada urusan." ucap Naya yang membuat kedua sahabatnya jadi diam. Meski tidak mengerti dalam keadaan seperti apa, tapi kedua sahabatnya ini paling bisa di suruh diam kalau sudah memasang wajah masam.
Naya melipat tangannya di dada, berjalan perlahan mendekati Lilis. "Sebenarnya kamu ada masalah apa sama aku? Kayaknya enggak senang banget ada aku disini."
Lilis mengibaskan rambutnya kebelakang. "Sadar dong, dekatin Josua tapi udah punya pacar. Obral diri ya?"
Naya menghela nafas. "Kamu salah paham." Naya masih berusaha tenang. "Josua itu cuma sahabatan sama aku. Dan kamu kok bisa tahu kalau aku punya pacar?"
Lilis menyunggingkan senyum, "si Roy udah nyebar kabar kalau kalian udah jadian."
Naya mencerna perkataan Lilis sejenak dan memandang kedua sahabatnya, Dinda menunjukkan akun sosial media Roy yang berisikan foto dirinya. Naya mengerang kesal.
Ternyata tuh cowok niatnya dangkal! Eh, tapi tunggu dulu. Kok si Lilis bisa kenal ya? masa bodoh, ah!
Kekesalan gadis itu semakin meningkat membuatnya ingin menampar siapa saja yang membuatnya marah. "Gue peringatan sama lo ya Lilis, jangan ganggu gue atau lo bakalan tanggung akibatnya." Karena kesal, gadis itu harus menggunakan kata-kata yang sedikit kasar di telinga Josua.
"Gue enggak takut sama el.." Nelum sempat Lilis melawan perkataan gadis itu, Naya langsung menarik kerah bajunya dan menghantam tubuh lawannya ke tembok kelas. Aura Naya sedang tidak bisa tebak. Bahkan sahabatnya pun tidak berani menahannya.
Lilis jadi menciut dan pucat pasi, baru Ia sadar bahwa Naya tidak akan pernah bisa melihat orang lain disiksa, apalagi pribadi seorang Naya yang sedang di coba untuk di jatuhkan.
Naya melayangkan tangannya di udara seperti ingin menampar namun ia tahan, Lilis sudah membungkuk ketakutan.
"Orang yang ngelahirin aku itu perempuan yang mulia, dan aku enggak bisa nyakitin sesama perempuan." Ucap Naya menurunkan tangannya dan berlalu menuju kursinya.
__ADS_1
Naya melirik lututnya bekas terjatuh tadi.
"Sialan, perih lagi!"