Pemilik Halu

Pemilik Halu
Ulangan


__ADS_3

Rindu yang sudah lunas beberapa hari yang lalu, membuat Naya dan Josua semakin dekat. Tak jarang pemuda itu menjemput gadis itu ketika hendak pergi sekolah.


Seperti pagi ini, Josua memasang senyum saat melihat gadis yang ditunggunya dari 10 menit yang lalu muncul, "Nay,"


Naya menutup pagar kostnya dan menjawab


"Apaan?"


"Kalau kamu jadi gitar, enggak bakalan aku mainin."


"Dih, bodo amat!"


"Sad amat, Neng."


"Biarin, males gue tiap hari di kasih gombalan receh. Pakai bahasa baku lagi, akulah! Kamu lah! Situ waras?" Oceh gadis itu.


Josua tertawa pelan, "bisa engga sih, kalau kita berdua manggilnya aku- kamu?"


"Ya udah, ajarin dan ingatin dong."


"Kalau ngajarin kaya gitu aku enggak bisa, kalau yang lain-lain bisa." Pemuda itu menaik-turunkan alisnya.


"Kamu, ih!" Balas gadis itu dengan kesal. Setalah berteman, Ia semakin mengenal sosok asli Josua. Dan gadis itu juga tahu bahwa pemuda itu laki-laki normal. Ralat! diatas normal maksudnya.


Pemuda itu tersenyum. "Cie, udah pakai kamu-kamu nih." Ledeknya.


"Ginjal lo mau gue retakin?" Ancam gadis itu. Bukannya takut, Josua malah tertawa dan mengacak rambut gadis itu.


Pemuda itu memandang lekat ke arah Naya yang sedang merapikan rambutnya.


"Enggak usah diliatin sampai segitunya. Naksir baru tahu rasa."


Josua menunduk sedikit agar lebih dekat dengan gadis itu. "Pengen banget kayanya gue taksir."


Karena gugup gadis jadi sedikit membentak. "Apaan sih, lo?!"


"Kalau kamu masih bilang lo-gue, kamu di hukum."


Naya mengernyit. "Dih, kok gitu?"


Josua memakai helmnya, "kan kamu bilang buat diajarin dan ingatin. Yuk, bentar lagi bel."


Naya menaiki sepeda motor pemuda itu dan bertanya, "hukumannya apa?"


"Kiss."


Naya menepuk keningnya, "omes!"


Diperjalanan, tak sedikit murid lain yang hendak ke sekolah melirik sekilas ke arah Naya dan Josua yang sibuk tertawa dan cekikikan diatas sepeda motor. Bagaimana tidak, Josua selalu punya cara membuat Naya tertawa dan tersipu.


"Tahu enggak, Nay? bahagiaku itu membahagiakan orang tua dan mencapai cita-citaku."


"Kalau sedihnya pasti enggak bisa mewujudkan, iya kan?"


"Bukan."

__ADS_1


"Terus apa?" Tanya gadis itu.


"Sedihku itu kehilanganmu."


Naya tertawa pelan memukul pundak pemuda itu dengan gemas.


Josua mendecak, "kalau ketawa, ya ketawa Nay, enggak perlu main baku hantam juga."


***


Naya tampak kebingungan. Ia mengusap wajahnya gusar. Disuasana ulangan bulanan, siapa pun tidak diperbolehkan mengeluarkan suara.


Biasanya gadis itu selalu cepat menyelesaikan soal-soal ulangan seperti yang dihadapinya sekarang. Tapi entah kenapa seakan memorinya lepas untuk hari ini. Ada lima soal, dan Ia benar-benar lupa rumus untuk menjawab soal nomor satu.


Gadis itu hampir mengerang frustasi. "Kok bisa lupa sihhh."


"Bu, ada yang berantem di kelas sebelah, guru yang ngajar lagi pergi, Bu." Adu seorang siswa yang nafasnya terengah-engah sontak membuat Bu Pipin, guru yang sedang mengawas ulangan di kelas Naya refleks bergegas menghampiri.


"Ini kesempatan emas atau berlian?" Naya.


Josua yang sudah mengerti gerak-gerik Naya yang sedang kebingungan, kemudian mendekati gadis itu. "Nomor berapa yang belum siap?" Tanyanya.


Naya menunduk malu, Ia cukup tahu gengsi. Tapi mau bagaimana lagi. Ia harus bertanya.


"Gue... eh, aku anu," Naya menggigit bibir bawahnya.


"Sebelum Bu Pipin datang ke kelas kita lagi, buruan." Desak pemuda itu.


Naya memberanikan diri, "aku lupa rumus nomor satu." Akunya.


Dengan kesal, Naya mengikuti pemuda itu. "Udah, gitu doang? Cuma mau ngeledekin aku?"


Josua menahan senyum, "ada syaratnya."


"Kamu pasti kasih syaratnya yang enggak-enggak, omes!"


"Engga kok, cuma bilang gini aja Josua yang manis, bagi rumus nomor satu dong." Pemuda itu kembali mengulum senyum.


Kalau bukan karena nilai, aku enggak mau.


Dengan enggan gadis itu berucap, "Josua yang manis, bagi rumus nomor satu dong."


"Lebih lembut dan lebih ikhlas dong."


Naya mencebikkan bibirnya. "Josua yang


manis, baik hati, tampan, murah hati, murah-meriah, sekilo dua ribu,"


Josua melengos, "aku bukan cabe-cabean Nay."


Naya tertawa dan pemuda itu menunjukkan isi kertas ulangannya pada gadis itu. Naya menyalin dengan cepat.


Gadis itu melirik Josua dengan tatapan lain, seperti ingin melakukan sesuatu. Naya menarik kertas Josua dan memampangkannya.


"Siapa yang belum siap? Buruan nih ada titisan dewa yang kasih jawaban." Semua yang mendengar Naya jadi riuh dan menghambur untuk mendapatkan jawaban.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum puas melihat reaksi wajah Josua yang melongo tapi tidak marah. Karena pemuda itu tahu, kalau setiap ulangan gadis itu pasti membantu semua temannya menjawab soal.


"Semuanya tenang, main cantik seperti biasanya." Mendengar perintah gadis itu, semuanya menurut.


Meski kecewa dengan kelakuan teman sekelasnya beberapa Minggu lalu, Naya tidak mau menyimpan dendam atau benci. Gadis itu malah takut jika Ia dijauhi oleh teman-temannya.


Naya yang cengar-cengir mendekati Josua dan mengembalikan kertas ulangan pemuda itu. "Nih, makasih ya kamu udah jadi dewa satu hari ini," ucap gadis itu cekikikan.


Josua berlagak acuh. Naya yang begitu girang seketika jadi takut. Ia benar-benar takut bermusuhan lagi dengan pemuda itu.


"Maaf Jo," ucapnya lirih dan menunduk.


Senyum Josua mengembang, pemuda itu berdiri menghampiri gadis itu, mengacak rambutnya.


"Kamu banyak hutang hukuman."


Naya mendongak, "enggak apa-apa kok dihukum, asal kamunya jangan marah."


Belum sempat menanggapi gadis itu, suara pemberitahuan Bu Pipin sudah dekat kelas, membuat Naya kelabakan ke mejanya.


"Kumpulkan!" seru Bu Pipin, semuanya mengumpulkan dengan tertib.


"Cie, udah gak musuhan lagi, nih." Ledek Niel setelah Bu Pipin berlalu dari kelas.


"Gue rela kok kalau jatah antar-jemput gue diambil sama lo, Nay." Sambung Harry.


"Dulu lo-gue, sekarang aku-kamu, yhaaaaa"


Naya mendecak. "Din, bantuin dong. Aku enggak sanggup ngelawan mereka berdua, kalah emak-emak dipasar kalau beradu sama mereka."


Dinda senyum. "Eh, Niel, Harry, si Naya pakai aku-kamu juga loh sama aku," bukannya membela Naya, Dinda jadi ikut-ikutan meledek.


Naya cemberut. "Payah emang kalau minta tolong sama Bucin, lupa aku tuh, kamu suka sama Harry. Ya udah pastilah berpihak sama dia."


Niel menepuk pundak Naya, "becanda, Nay." Niel yang sadar akan tindakannya langsung menjauh, takut-takut Naya marah dan menghabisi nya.


Melihat reaksi Niel, gadis itu jadi tertawa.


Penakut, ih.


"Harry" Panggil Dinda, pemuda itu menoleh,


"Josua sama Naya udah pakai aku-kamu, kita kapan?"


Harry melongo, "mimpi kok siang-siang sih, Din?"


Dinda jadi cemberut. Sakit banget, gumamnya.


Harry tidak bermaksud menyinggung Dinda, Ia hanya bercanda. Ia merasa bersalah.


Harry menghela nafas. "Jangan sekarang Din, ada banyak orang, kita kalau mau mesra jangan disini. Jiwa Bucin orang lain meronta-ronta nanti."


"Ah,,, kamu" Ucap Dinda malu-malu.


"Bukannya baper, rada jijik aku tuh." Naya.

__ADS_1


__ADS_2