Pemilik Halu

Pemilik Halu
Rencana


__ADS_3

Di jam pelajaran yang seharusnya diikuti semua siswa-siswi, pasti ada saja yang pergi dari les pelajaran alias cabut. Seperti saat ini, terlihat Erwin bersama Riko sedang duduk bersama sambil minum kopi di sebuah warung agak jauh dari sekolahnya.


Tampak satu motor besar baru saja parkir di depan warung tersebut. Sang pemilik motor melepas helmnya dan tersenyum pada kedua temannya yang sudah terlebih dahulu sampai di tempat ini.


"Maaf, telat. Cabut dari sekolah gue agak susah soalnya." Ucap Roy.


"Santai, kita berdua juga baru kok." Balas Erwin.


"Udah gimana si cewek aneh yang super enggak bisa disentuh itu?" Tanya Riko.


"Kita udah jadian. Kalian tenang aja, dendam kalian pasti aku balas." Roy meyakinkan.


Erwin menyesap kopinya sedikit, "gue heran sama tuh cewek, jual mahalnya tinggi banget kalah sama tiang listrik."


"Iya, tapi gue juga salut sih sama dia, bisa beladiri, alami. Jarang ada cewek kaya dia." Ucap Riko yang membuat dua temannya jadi bingung.


Roy mengernyit. "Lo nyuruh gue balas dendam tapi seakan-akan lo suka ke dia. Bingung gue."


Riko mendecak, "gue belum siap ngomong. Jarang cewek kaya dia, buat gue makin penasaran gimana rasanya seranjang satu malam sama cewek yang belagu gitu." Ucapnya tertawa pelan.


Erwin menyunggingkan senyum, "taruhan aja, siapa yang bisa ambil kesucian tuh cewek kita bayar dengan harga yang setimpal. Tapi enggak boleh maksa, harus ikhlas dianya."


Riko mendecih, "kalau nunggu dia ikhlas, sama aja nunggu Doraemon nikah sama Nobita."


"Lah enggak bisa dong, sama-sama cowok mereka." Seru Erwin


Riko mengangguk. "Nah itu, mustahil."


"Emangnya kenapa sih kalian benci banget sama tuh cewek sampai nyuruh gue turun tangan?" Tanya Roy.


Erwin dan Riko masing-masing menjabarkan bagaimana permasalahan itu terjadi. Mulai dari kasus Naya membela Joni yang sedang di palak(peras) sampai orang tua Riko yang harus ke sekolah untuk berdamai.


"Biar kalian tahu ya, gara-gara tuh cewek, Emak gue nyuruh buat tanggung jawab dan nikahin siapa aja yang udah gue rusak." Ucap Riko frustasi. "Emak gue enggak tahu aja udah berapa yang rusak."


"Emang berapa?" Tanya Roy.


"Seingat gue sih belasan gitu, tapi itu untuk yang masih perawan. Kalau yang udah jebol duluan mah banyak." Jawab Riko santai.


Roy menelan ludah. "Gila!"


Di jaman pergaulan sekarang, berhubungan seperti layaknya suami-istri sebelum menikah sudah biasa bagi sebagian orang. Termasuk Riko.


"Lo kaya hidup di jaman dulu aja, emang lo belum pernah ya?" Tanya Riko pada Roy.


Roy menggeleng, "gue sih main atasnya doang." Ucapnya sedikit tertawa.


Roy sebenarnya memiliki pergaulan yang tidak terlalu bebas, namun rasa pertemanannya begitu kuat. Mereka bertiga sudah dekat saat SMP, namun saat SMA Roy masuk di sekolah lain yang membuat mereka terpisah, namun tetap selalu bersama di luar sekolah.


"Ya udah, gue mau lanjutin rencana kita dulu, gue mau jemput cewek gue." Roy pamit.


"Cewek lo?" tanya Erwin.

__ADS_1


Roy tampak diam sebentar, "posisinya kan sekarang di masih pacar gue. Kalian tenang aja, gue enggak bakalan suka sama dia."


Kemudian Roy melajukan kendaraannya menuju sekolah Naya.


***


Di gerbang sekolah, Roy mengernyit. Melirik jam tangannya dan menepuk keningnya, "Astaga masih jam segini, ya belum pulang dong. Ya udahlah gue tunggu aja." Gumam Roy sambil bersandar di salah satu pohon yang ada disitu.


Sementara di kelas Naya, gadis itu masih dalam posisi cemberut. Satu hari ini rasanya dia dihantui kesialan.


"Masih sakit?" Tanya Dinda.


"Iya, kesal aku tuh sama si Lilis."


Dinda tertawa pelan, "makanya jangan sok enggak bisa pukul kaum Hawa."


Naya mendecak, "emang enggak bisa Ferguso."


"Ferguso?"


"Itu nama anak anjing aku di kampung."


Refleks Dinda memukul bahu sahabatnya itu. "Kejam banget." Naya jadi cengengesan.


"Ada air?" Tanya Josua yang sudah berdiri di samping Naya.


Naya mengangguk, namun Dinda terlebih dahulu memberikan sebotol air mineral kepada pemuda itu.


Josua meraih botol minuman itu kemudian jongkok menghadap Naya.


"Ngelamar kok pakai air mineral?" Tanya Dinda. "Mana dari aku lagi airnya." Imbuhnya.


Josua tidak menanggapi, dia hanya fokus pada luka yang ada di lutut Naya. "Jangan ngintip Jo!" Ucap Naya menarik roknya ke arah lutut.


Josua mendecak, "ada tisu?" Tanyanya. Lagi-lagi Dinda menyodorkan.


"Tahan ya, agak perih ini." Josua mendongak sekilas melihat wajah Naya.


Josua membasahi tisu, lalu mengaplikasikannya ke luka gadis itu. "Segini aja udah nangis."


"Belum nangis. Hampir." Ralat Naya.


Josua melepas dasinya, melilitkan serta mengikatnya dengan cekatan pada lutut gadis itu. Naya menolak namun tidak di gubris oleh pemuda itu.


"Jo,"


"Hm?"


"Makasih." Ucap gadis itu tulus dengan posisi Josua masih jongkok menghadap gadis itu.


Josua mengangguk, "Nay?"

__ADS_1


"Hm?"


"Maaf."


Naya mengernyit, "untuk apa?"


"Udah pegang lutut dan tangan kamu." Dan Naya tidak sadar posisi mereka sekarang. Josua memegang tangan kanan gadis itu.


Diam sebentar.


"Heh! enggak muhrim!" Teriak Dinda melepas tangan Josua dari tangan Naya.


"Latihan doang Din," ucap Josua memelas.


"Latihan apa?" Tanya Naya.


"Ya latihan aja buat nanti-nanti kalau udah halal." Jawab Josua.


Naya tersipu. Kali ini gadis itu sendiri tidak tahu kenapa dia tidak marah saat di sentuh oleh pemuda itu. Dan perasaannya yang menggebu hampir tak dapat di tutupi.


"Latihannya sama aku aja, Jo. Kan Naya udah punya pacar." Ucap Dinda memainkan alisnya.


Josua senyum, "aku mau goda yang udah punya pacar aja. Aku mau berjuang alias nikung."


Naya menahan senyum. "Kenapa harus udah punya pacar baru di perjuangin?" tanya Naya berusaha mendatarkan wajahnya.


"Biar ada tantangannya." Jawab Josua, "kalau jomblo mah udah biasa." Imbuhnya.


Naya mengangguk, "aku paham."


"Nay, kamu tahu enggak, kenapa keringat asin?"


Naya menggeleng, "emang kenapa?"


"Karena enggak ada perjuangan yang manis." Ucap Josua sambil mengacak rambut gadis itu.


"Eh, tolong ya, aku ada di sini, enggak usah di kacangi juga kali." Sewot Dinda.


Naya dan Josua tidak menggubris, mereka saling menatap.


Ini berarti Josua suka sama aku dong, ya?


"Hati-hati Nay, itu cuma omong kosong doang. Ingat enggak ada sahabat yang mau hancurin hubungan sahabatnya sendiri." Ucap Dinda lagi memprovokasi.


Naya tahu, Dinda sengaja untuk memancing Josua berucap jujur.


"Aku enggak mau lihat sahabat aku enggak bahagia. Dan aku tahu Naya enggak bahagia sama Roy."


Meskipun benar adanya, namun Dinda tetap menyerang. "terus kemaren apa maksudnya enggak mau bilang i love you, terus bilangnya gini, aku tuh kalau suka pasti udah aku bilang. Lah sekarang? seenak jidat datang bilang mau berjuang." Omel Dinda.


"Rasa itu kadang enggak perlu diungkapkan pakai kata-kata." Hening sejenak, "dan kadang kita harus melepas sebentar untuk tahu apa kita beneran sayang atau enggak sama orang itu."

__ADS_1


__ADS_2