
"Aku gak suka kalau kamu selalu abaikan pesan aku, aku gak suka kamu selalu gak punya waktu, aku gak suka Niel!"
"Sayang, dengerin dulu.."
"Nggak mau! Kita udahan aja. Kita putus!"
"Sayang jangan gitu dong, masa sih setiap berantem kecil harus putus, terus nyambung lagi, aku capek."
"Tuh kan, aku lagi yang salah kan? Kamutuh gak pernah ngertiin aku Niel!"
"Wid,"
"Apa?!"
"Kamu pulang dulu ya, aku capek baru pualng kerja, nanti kita bahas."
Widya berlalu sambil menghentakkan kaki dengan keras. Selama tujuh bulan mereka bersama di perantauan, hubungan mereka semakin tandas di ujung.
Niel melepas sepatu dan dasinya. Kepalanya benar-benar pusing, pekerjaannya begitu menumpuk hari ini karena dia ambil cuti selama dua hari untuk membujuk Widya agar kembali padanya. Memang berhasil, tapi setelah itu mereka kembali berdebat.
Pekerjaan Niel yang sebagai supervisor sedikit membuatnya repot, apalagi ditambah harus mengurusi pacarnya yang bahkan dirinya tak pernah di urus. Lain dengan Widya yang kala itu berprofesi sebagai model, jika tidak ada job dia akan santai.
Niel meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Dek, aku harus gimana? Aku sayang sama dia."
"Ck, pertahanan kan apa yang layak dipertahankan, buang yang perlu di buang."
Niel merenungi kata-kata Naya sepanjang malam. Diingatnya lagi sewaktu mereka ingin berangkat bersama dan dihalangi keluarganya. Pria itu begitu berjuang agar di ijinkan pergi bersama kekasihnya dan berjanji tidak akan berbuat macam-macam. Dan ya, mereka menepatinya, mereka beda rumah, beda tempat kerja, beda segalanya, sampai perasaan masing-masing pun hampir berbeda.
***
Wanita tidak pernah salah. Wanita tidak pernah salah. Baiklah, entah ilmu dari mana itu, aku bakalan minta maaf untuk terakhir kalinya. Kalau sekali lagi seperti ini, hubungan ini harus berakhir. Janji Niel pada Naya.
"Ck, siapa bilang wanita gak pernah salah. Se-buayanya laki-laki, ingat ada juga yang betina." Kata Naya.
Niel menghembuskan nafas. Dia turun dari sepeda motor lalu mengetik pintu kost Widya. "Widya.. Widya.."
"Nyari siapa Nak?" Tanya Ibu-ibu yang dikenal Niel sebagai Ibu kost kekasihnya.
"Eh, Bu. Mau nyari Widya Bu,"
"Oh, dia pergi. Katanya mau ke rumah teman."
"Oh, gitu ya Bu, biar saya nunggu di sini aja."
Karena bosan menunggu, Niel membuka ponselnya. Seperti biasa pemuda itu pasti akan mengganggu Naya dengan kalimat pembuka yang sudah sangat dikenal, tapi tetap saja masih lucu.
"P"
"P"
"Oi!"
__ADS_1
Spam 'P' pun terjadi, Naya kala itu masih sibuk memikirkan apa yang harus di beli di mall. Dia belum tobat saat itu saudara-saudara. Lantas Naya pun jadi kesal mendengar bunyi notifikasi pesan di ponselnya.
"Apaan sih?" Balasnya.
"Ikan hiu sambar gledek,"
"Bodo amat!"
"Beh, parah!" Niel mengirim foto selfie dirinya dan memberitahu bahwa ia sedang menunggu Widya.
"Bucin akut." Ledek Naya.
"Yeee, namanya juga sayang. Eh, bentar ya," Niel mengakhiri percakapan.
"Oh, gitu."
"Eh? Niel?" Widya terkejut bukan main, pasalnya dia sedang diantar oleh seorang pria.
"Dia siapa Wid?" tanya pria yang mengantarnya.
"Dia Niel, Niel ini Agung."
"Oh, ini pacar kamu yang nggak pernah ngertiin kamu?" Dia memandang perawakan Niel dari atas ke bawah, "dia gak pantas buat orang secantik kamu." Widya diam saja.
"Aku pulang." Kata Niel.
Begitu juga Agung, dia segera pamit dari sana. Melihat keduanya akan pergi, tentu saja Widya mengejar Niel yang hampir melesat dari teras kost itu.
"Apa lagi Wid? Aku capek tau gak sih."
"Maaf."
Niel memandang wajah kekasihnya dengan geram. Dirinya adalah orang yang termasuk dalam kategori cemburu buta, dia marah saat ini. "Kamu jalan sama dia sedangkan aku nunggu kamu di sini, belum lagi nyamuk banyak loh Wid." Omelnya gusar.
"Maaf, Niel.." Widya menarik lengan pemuda itu, "
"Kamu nuntut aku buat selalu ada, aku ini orang yang bekerja bukan pengangguran Wid. Kamu bisa ngerti gak sih! Kamu tau kan aku orangnya cemburuan? Kamu berani jalan sama orang lain!" Semburan panas baru kali itu di dengar oleh Widya. Gadis berambut pirang sepinggang itu jadi tertegun.
"..."
"Kita putus."
"Aku nggak mau," Widya mematikan sepeda motor Niel.
"Terserah."
"Niel, Niel... NIELLLL!!!"
***
Sebulan setelah putus, hidup Niel terasa lebih bebas. Dia lebih menikmati hidupnya yang menjomblo. Pekerjaan di kantor tempat dia bekerja juga cepat selesai tanpa ada hambatan. Pujian demi pujian pun di terimanya dari sang Pimpinan.
__ADS_1
"Dek, aku dipromosikan naik jabatan." Ucapnya memberitahu Naya.
"Widih, kok bisa, Abang pesugihan ya?" tuduhnya bercanda.
"Dih, mana ada, sembarangan!" Balasnya dengan tertawa.
"Kan Abang lagi bahagia nih, aku ada lagu buat ngerayain."
"Wih, apaan?"
Naya menarik nafas bersiap melantunkan lagu, "Te-rang-kanlah... Terangkanlah.. Jiwa yang berkabut. Prurrffff," Menahan tawa karena mendengar Niel mengumpat dari sana, "Oh, ya udah ganti lagunya."
"Gak usah, gak perlu." Niel menutup telinga.
"Bila waktu telah berhenti teman sejati hanyalah amal... "
"Woi, belum mau meninggal woi!"
Naya tertawa puas, tapi tetap saja ia tak mau berhenti, malah mengubah suaranya menjadi lebih anggun dengan seriosa, "Bila waktu telah berhenti teman sejati tinggallah sepi..."
Tidak bisa dipungkiri, Niel nyaris tak bisa lagi tertawa hingga yang mengalir jadi air mata. Lagu yang dipopulerkan oleh Opick yang sangat terkenal pada saat itu ternyata bisa jadi versi yang lebih absurd karena Naya.
Sambil menahan tawanya Niel pun berucap, "Ikan hiu sambar gledek, kawin kontrak yuk Dek,"
"Najis! Hahaha"
"Hahaha" Niel semakin terpingkal-pingkal. "Eh, tunggu dulu ada yang spam chat nih," Naya pun mengiyakan dan mematikan video call mereka.
"Apaan nih?"
Josua mengirim foto tangan wanita yang tersayat-sayat. Lantas dia pun bertanya itu siapa, Josua memberi jawab bahwa itu adalah Widya.
Josua : Dia minta tolong sama aku buat jadi pacar dia, biar bisa move on katanya.
Niel : Astaga, cewek gila! Serah deh, Jo. Kalau mau diselamatkan ya udah. Aku gak apa-apa.
Josua : Oke, tapi pertemanan kita jangan hancur ya..
Niel mengiyakan. Lalu pemuda itu teringat akan sesuatu, "Naya gimana?" tanyanya saat akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Josua.
"Gak tau. Ya udahlah, lagian itu kan dulu. Cinta monyet doang. Lagian kalau di bandingin sama Widya, Naya jauh. Widya lebih cantik."
Niel tersenyum miring. Dia tak mau menjelaskan apa-apa lagi. Yang jelas, biarlah sahabatnya ini sendiri yang melihat bagaimana penampilan Naya yang sekarang jika bertemu suatu saat. Dan semoga saja menyesal.
"Plis jangan musuhan sama Widya ya, gimana pun kita dulu sahabatan semua."
"Yoi."
Perih untukmu ditambah lagi. Aku tau kamu orang hebat, kamu pasti bisa. -Niel-
Untuk Naya.
__ADS_1