
Dua gadis dan dua pemuda sedang disidang di ruangan Kepala Sekolah. Kali ini guru BP lepas tangan, katanya sudah tidak sanggup apalagi menyangkut Erwin.
"Kalau Erwin yang bermasalah, saya masih maklum. Tapi saya sangat tidak percaya, ada Naya dan Josua yang ikut-ikutan." Kepala Sekolah itu kemudian mendekati ke empat siswa yang berdiri di tembok ruangannya. "Ada yang bisa menjelaskan permasalahannya dari awal?"
Semuanya menunduk dan membisu.
Kepala Sekolah itu menghela nafas kemudian berkata, "Kalian di-skors selama seminggu."
Mereka serentak mendongak. Naya maju selangkah dan menunduk lagi seraya berkata, "Maaf Pak,"
"Saya butuh penjelasan Nak, bukan maaf." Jelas Kepala Sekolah lebih lembut.
Mulai dari mana ya, gue bingung nih. Naya.
Entah dorongan dari mana, Naya melirik Josua agar membantunya menjelaskan.
Josua mendekati Kepala Sekolah dan menjelaskan detail permasalahan yang terjadi. Tak lupa pemuda itu menceritakan kejadian dimana Naya menghajar tiga murid nakal yang mencoba mengambil paksa uang Joni.
Kepala Sekolah itu manggut-manggut mengerti. Sementara Erwin tidak bisa mengelak, karena ada Devi yang langsung menjadi korban.
Setelah berfikir agak lama, akhirnya Kepala Sekolah mengambil keputusan, "Erwin, jangan masuk sekolah sebelum kamu bawa orang tua kesini. Untuk Devi, kamu boleh masuk ke kelas sekarang." Pria paruh baya itu memberi jeda, "Naya dan Josua saya skors 3 hari."
Naya mengernyit, "kenapa gitu, Pak?"
Kepala Sekolah itu menjelaskan bahwa main hakim sendiri itu salah. Apalagi mereka tidak melapor kepada guru BP.
Naya berusaha tenang, namun terlihat di raut wajahnya kekesalan.
Naya dan Josua dipersilahkan keluar dan langsung disuruh pulang.
Saat hendak mengambil tas, Naya berpapasan dengan Erwin di pintu kelas. "ini semua gara-gara Lo yang sok kepahlawanan!" Ia menunjuk ke arah Naya.
"Jauihin tangan loh yang busuk itu dari Naya," Josua yang berdiri dibelakang Naya sudah memasang wajah ingin baku hantam.
Naya tersenyum, eh! masih sempat-sempatnya baper.
Naya berdehem berlalu begitu saja mengambil tasnya. Kemudian disusul Josua.
Dinda yang bingung melihat Naya yang hendak keluar membawa tas langsung panik, "Eh cucunya Doraemon! Lo mau kemana?"
"Kita berdua ini anak kesayangan disekolah ini. Kita dikasih tiket liburan tiga hari, iya kan Nay?" ucap Josua yang sudah menyandang tasnya dan berdiri mendekati Naya.
Persetan dengan skors. Gue gugup, ya ampun. Josua kok gemesin, sih.
Dinda masih menyimak. "Berdua aja?" tanyanya polos.
Naya tersenyum, "gue sama Josua di skors. Tiga hari doang, jangan rindu kata dilan." ucapnya datar.
Harry menyikut Niel, "busettt, di skors muka nya tenang amat,"
Niel menatap Harry, "sekarang Lu pikirin nasib sendiri. Kang ojek Lo di skors, tuh. Ongkos angkot Lo gimana?"
"Tinggal minjam duit Lo, kan gampang."
***
__ADS_1
Setelah berdebat antara ya dan tidak. Akhirnya sok jual mahal Naya sedikit luntur. Josua berhasil membujuk Naya agar mengantarnya pulang ke kost.
"Jangan lupa tangannya disilang ke dada ya, Neng." Ucap Josua saat Naya sudah menaiki sepeda motor pemuda itu.
Naya mengernyit.
"Entar gue ngerem mendadak, ke-enakan guenya Elo rugi. Tapi setau gue sih, kalau sama-sama menikmati ya gak apa-apa." jelas pemuda itu.
apa sih.
Dipagar kost, Naya enggan membukanya. Gadis itu mendekati Josua yang hendak pergi setelah pamit tentunya.
"Jo, Makasih.", Ucapnya tulus.
Josua tersenyum, "udah kelas tiga nih, temanan aja yuk. Lo ga bosan hampir tiga tahun kita diam-diaman terus?"
Naya menatap pemuda itu kemudian tersenyum, "ya bosan sih. Pulang sana."
Pemuda itu turun dari sepeda motornya, "ga diajak masuk?"
"Heh! gila ya! ga ada siapa-siapa disini, ibu kost juga belum balek dari kampus. Mau berduaan?"
Josua yang mendengar celotehan gadis itu seakan bertanya atau menawarkan.
"Elu suka nulis karangan kan?" tanya pemuda itu mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa emang?"
"Ajarin gue ngarang ke emak gue dong,"
Josua tertawa mengacak rambut gadis itu.
"Itu tangan mau gue putusin?"
"Galak amat"
"Masa bodo"
"Gue beda Nay, kalau gue nakal, udah yang lain yang gue acak-acakin."
Naya tertegun. Iya, ya. Pikirnya.
"Jalan-jalan bentar, yuk. Sekalian nunggu kost Lo rame. Sekitaran 15 menit lagi, nih. Kasihan kalau Lo nya sendirian disini." Ucap pemuda itu.
"Lo jangan sering-sering perhatian sama gue, entar gue baper payah, Jo."
Josua tertawa pelan menanggapi.
Mereka berjalan santai di taman. Sesekali Josua bercanda dan membuat Naya jadi cekikikan. Walau kadang agak lari dari kewarasan, gadis itu tampak bahagia. Belum sah satu hari jadi teman, mereka tampaknya tidak peduli dengan kecanggungan di waktu yang lewat.
"Lo gimana nanti?" Tanya Naya saat pemuda itu meneguk air mineral yang sempat mereka beli tadi.
Josua yang mengerti maksud gadis itu berkata, "ya gue jelasin ajalah yang sebenarnya. Emak gue bijaksana kok, pasti ngerti posisi gue."
Naya tersenyum, "+62 mah santuy."
__ADS_1
Mereka cekikikan lagi. Entah sudah berapa kali gadis itu tersenyum di hadapan Josua. Ia lupa akan masalah yang baru menimpanya. Begitu juga sebaliknya, Josua merasakan hal yang sama.
Setelah memutuskan kembali ke kost, Naya sedikit murung.
Baru sebentar berteman, masa sih tiga hari langsung ga ketemu.
Josua menyodorkan pena dan secarik kertas. "Tulisin sesuatu dong, biar gue nya semangat pulang ke rumah."
'Aku tak mau membayar rindu yang tak ku beli'
Josua tersenyum melihat kalimat itu, kemudian menuliskan sesuatu di bawahnya.
'Ya udah kita cicil bareng-bareng ya, biar rindunya cepat lunas.'
"Emangnya kredit?" Komentar gadis itu kemudian tertawa juga.
"Kita jangan buat scene baper-baper dulu, kan susah berteman satu hari besoknya jadian, kalah entar Bucin yang lain." Ucap pemuda itu yang membuat keduanya cekikikan. "Ya udah gue pamit," imbuhnya.
Naya mengangguk, Ia menoleh sebentar ke arah kost yang sudah kelihatan rame.
"Hati-hati".
***
Tak terasa masa skors Naya akan berakhir. Gadis itu menghela nafas,
'Besok rindunya lunas, Jo.'
Gadis itu melewati tiga hari ini dengan kebisingan dari kedua sahabatnya yang tiap pulang jam sekolah selalu mengganggu ditambah lagi penghuni kost 21 yang membuatnya tidak tenang beristirahat.
Ya, Naya menganggap skors yang diberikan itu seperti yang dikatakan Josua, Tiket liburan.
"Josua lagi apa ya?" Gumam Naya. Gadis itu sedang duduk di teras kostnya sambil memegang buku diary. Kemudian Gadis itu mulai menulis,
Maaf Jo, untuk waktu yang terlalu lama yang aku gunakan untuk mendiamkan mu.
Kini dimulai dari kata 'berteman'.
Bisakah besok status kita berubah jadi sepasang kekasih tanpa harus melewati drama tentang persahabatan?
Kurasa cukup sudah untuk mengagumimu dalam diam, kini biarlah tindakan dan kata yang bekerja. Asal berikan saja kunci hatimu, biar aku sendiri yang mencari lubangnya dan membukanya.
.
.
.
.
.
***
Author : like dan komen dong +62kuuuuuuđ
__ADS_1