Pemilik Halu

Pemilik Halu
Damai


__ADS_3

Naya mencerna setiap apa yang diucapkan Josua, hingga membuatnya sesak. Apa ini?!


"Percayalah, aku belum dapat izin buat pacaran. Mungkin kalau sudah tamat sekolah baru bisa, makanya aku selalu bilang kita sahabat. Tapi kalau soal suka, aku belum tahu apa aku benar suka sama kamu atau enggak. Yang aku tahu, aku peduli, aku, aku,,,"


"Apa?"


"Dada aku sesak lihat kamu sama orang lain. Di sisi lain, aku bisa aja pacaran toh ini hidup aku. Tapi,,,"


"Tapi?"


"Nay, kalau kita pacaran sekarang, misalnya kita pergi kencan ada makanan di pinggir jalan sana, aku belum punya uang buat kasih ke kamu. Atau kamu mau sesuatu, aku belum bisa beli."


"Aku maunya kamu bukan makanan pinggir jalan atau barang bulshit yang kamu bilang, Jo!"


"Nay,"


"Kamu dan Roy sama aja! Roy udah tulus, tapi dengan cara yang salah. Kamu buat aku suka tapi enggak bisa nentuin akhir dari semua ini."


"Dengar." Ucap Josua lembut membelai rambut gadis itu, "kita sahabatan dulu, tunggu aku. Tunggu aku pantas buat kamu. Mulai sekarang, kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan sama aku, kalau kamu butuh perhatian, aku kasih."


"Omong kosong apa lagi ini?"


"Kamu sama aku, jangan sama dia. Tunggu aku Nay,"


"Cewek itu ibaratkan gaji bulanan. Meski nunggu lama tapi pasti! Aku enggak bisa kalau enggak ada kepastian Jo!" Tampak buliran bening mulai mengalir di ujung mata gadis itu. Terlalu jujur dengan perasaannya, hingga air matanya pun ikut bekerja sama.


Josua mendekat, mendekap gadis itu dalam peluknya. "Aku janji. Tunggu aku." Bahu Naya pun jadi bergetar, menangis adalah tindakan yang tepat untuk saat ini. Tapi lihat waktu juga!


Bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai, mau tidak mau penghuni kelas harus menerobos masuk ke ruangan sebelum guru datang. "Ha?" Satu kelas terkejut melihat saat Naya dan Josua masih tetap pada posisinya.

__ADS_1


Namun tidak ada yang berkomentar. Lilis pun tidak. Karena tempo hari Josua sempat memperingati dirinya untuk tidak menggangu Naya lagi.


Josua melepas pelukannya, "kita gini dulu, jangan ada yang berubah, tetap kaya biasa, ya?" Gadis itu sudah tenang, secepat itu.


Naya hanya mengangguk. Pemuda itu merangkul pundak gadis itu dan membawanya ke tempat duduk. Kembali membelai lembut rambut gadis itu, "aku duduk dulu." Ucapnya dan mendapat anggukan lagi.


***


Setelah mendapat janji dari sang pujaan, Naya menemui Roy sepulang sekolah. Tak lupa gadis itu mengundang Riko dan Erwin. Meski awalnya bingung, namun tetap mereka memenuhi undangan gadis itu.


Di kost 21, semuanya sudah berkumpul. Ada rasa takut, Naya mengedarkan pandangannya, "cukup ramai, kalau ada apa-apa tinggal teriak aja kali ya." Pikirnya.


Kali ini Riko dan Erwin tidak membawa pasukan. Tentu saja karena sudah dilarang oleh Roy. Kini hanya mereka berempat di halaman kost itu. Hening sepertinya pembuka yang kurang cocok untuk saat ini.


Naya masih merasa canggung membuka percakapan, pasalnya kan kemarin mereka baru baku hantam, masa sih langsung bersapa hangat. Tapi kali ini, gengsinya harus ditepis dulu.


Roy menatap kedua temannya, dan mendapat kode gelengan kepala. Mereka tadinya datang dari arah berlawanan, tentu saja sudah direncanakan supaya Naya tidak curiga. Roy jadi bungkam tidak sanggup menjawab.


"Erwin, kamu kenal Riko enggak?" Naya bertanya.


"Lo gila ya?! Ya kenal lah, kecuali sama si Roy, baru lihat kemarin." jawabnya sedikit gugup. Entah kenapa tiga pemuda itu tampak gugup, padahal Naya hanya seorang gadis. Sendiri lagi.


"Aku dari tadi enggak ada manggil nama dia, kok kamu bisa tahu nama Roy?"


Erwin jadi bingung. Ketahuan kan otak udangnya, payah kalau sudah dijebak oleh seorang Naya. "Aku enggak mau ribet. Aku udah tahu semuanya. Jadi mari akhiri."


Riko bingung. "Maksudnya?"


"Riko aku tahu kamu kesel sama aku, maaf. Tapi mulailah menghargai perempuan sedikit saja. Apalagi kehormatannya." Naya menatap Erwin, "Maaf, Win. Enggak seharusnya aku ikut campur urusan kamu. Udahlah, damai aja. Udah mau tamat, nih."

__ADS_1


Riko dan Erwin saling pandang, mereka jadi sadar, waktu mereka bersama satu kelas tinggal sedikit. Waktu belajar bersama maksudnya. Mereka jadi manggut-manggut. Entah apa yang merasuki hari ini, tapi mereka begitu patuh.


"Roy, dua kali aku kasih kesempatan buat jujur. Dua-duanya kamu sia-siakan. Kita udahan ya."


"Nay,"


"Aku tahu kamu tulus, aku tahu kamu udah mulai sayang." Mendengar itu Riko dan Erwin jadi mengernyit. "Tapi segala sesuatu yang dimulai dengan kebohongan enggak akan pernah berakhir dengan baik. Kita masih bisa berteman kok."


"Lo suka sama Naya?" Tanya Riko dengan wajah serius.


Nyali Roy menciut untuk menjawab. Namun Erwin menepuk pundaknya, "lepas Naya, dia terlalu baik buat kita yang kadang enggak bisa jaga cewek kita."


"Dih, ketahuankan? Kesal tahu enggak sih." Naya jadi mengomel. "Tapi ya udahlah, kita baikan aja semuanya, jadi teman." Ucap Naya mempertegas kata 'teman'.


Riko mengajak kedua temannya untuk beranjak, namun Roy masih tetap di tempatnya. "Nay" Panggilnya saat gadis itu hendak melangkah masuk ke kost.


"Maaf, tapi bisa enggak kita lanjutin aja?" Tanyanya penuh harap.


Naya tersenyum menggeleng, "jika sang pencipta menjodohkan kita, semoga kita di pertemukan di waktu yang dewasa dengan rasa yang sama tanpa kebohongan, tanpa tersakiti." Jawab Naya kemudian berlalu.


Riko dan Erwin tahu temannya sedang patah hati. Meski dendam mereka tidak terbalaskan pada Naya, namun mereka lebih memilih memberi semangat pada Roy.


"Lo masih bisa kok sering main kesini sekedar lihat dia, Rika kan ada, sepupunya lo Sabar." Ucap Riko menguatkan.


"Gue sebenarnya kesal sama kalian berdua. Kalian yang punya masalah tapi gue yang jadi bahan utama untuk balas dendam. Tapi gue juga mau berterimakasih, kalau bukan karena insiden balas dendam ini, gue pasti belum kenal sama Naya. Dia super girl." Ucap Roy.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi. Naya mengintip dari sela-sela pintu memastikan mereka bertiga telah berlalu.


Selesai. Begitu pikirnya. Namun ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Setelah ini banyak ujian sekolah, tamat, urusan perkuliahan atau pekerjaan atau masih banyak lagi cerita hidup yang akan di jalani. Bahkan dirinya belum mempersiapkan kemana dirinya setelah tamat sekolah. Yang dipikiran Naya hanyalah bagaimana cara melunasi utang piutang keluarganya. Akankah Naya tetap fokus pada hutang keluarga dengan bekerja, atau memilih melanjutkan sekolah yang pastinya akan menambah pikiran dan biaya lagi?

__ADS_1


__ADS_2