Pemilik Halu

Pemilik Halu
Rey ditolak lagi?


__ADS_3

Bincang sana bincang sini. Suasana semakin ramai, jumlah orang pun semakin bertambah tapi tentunya tidak ada raut sedih di sana kecuali para jomblo yang iri melihat dua insan yang sedang tersenyum bahagia di depan semua orang. Iya, Widya dan Mr. B.


Tapi, ada satu meja yang isinya lumayan banyak, tapi keadaannya sangat canggung. Bagaimana tidak, Naya di sana, Josua juga, Dinda di sana, Harry juga.


Untuk menepis kecanggungan itu, Rey berinisiatif maju ke depan untuk mengisi acara. Katanya biar heboh.


"Untuk para tamu undangan kami persilakan duduk di kursi yang telah disediakan dan memakan apa saja yang sudah dihidangkan. Dan jangan lupa semua yang di sini gratis, jangan ambil sedikit kalau tidak mau rugi."


"Garing woi, garing!" Teriak Niel.


"Biarin yang penting ganteng!" Balas Rey acuh padahal dia sekarang berada di atas panggung.


"Oke, untuk nyamuk yang demikian ribet nan ribut jangan didengarkan ya, di sini saya akan mengumumkan sesuatu yang akan buat kita semua tercengang."


Rey menghembuskan nafas. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Sepertinya dia sedang menimbun benih-benih kegugupan yang mulai berkecambah.


Semua orang sudah penasaran dengan apa yang hendak diucapkan pria berparas elok itu. Tiba-tiba dia berucap,


"Nungguin ya?"


"Woi! Woi!" Sembur semua orang, berhubung orang-orang di sana kebanyakan anak muda.


Rey terkekeh sebentar. Lalu diam lagi. Mengambil nafas untuk mulai berbicara lagi, "Dinda."


"Heh?" Dinda kala itu sedang menyuapkan es buah ke mulutnya, namun terhenti karena mendengar namanya disebut.


"I love you."


Niel dan Naya sudah menahan tawa bersama.


Bahkan Josua juga sedikit mengangkat garis bibirnya ke atas. Entahlah, kalau ekspresi Harry sama sekali tidak bisa dijelaskan.


Dinda tidak menggubris, dia lanjut memakan es buah miliknya.


"Wanita yang sedang makan es buah, rambutnya cokelat diikat belah tengah, pakai long dress kuning. Sekali lagi, I love you."


Uhuk-uhuk.


"Tenang Din, cinta itu emang kayak gitu. Serba tiba-tiba. Tiba-tiba senang, tiba-tiba sedih, tiba-tiba keselek juga." Cerca Naya dengan cengir kuda.


Dinda diam saja. Tak tau harus berbuat apa, jujur saja, dia memang sudah mulai menyukai pria gila yang ada di atas panggung itu, tapi, "malu banget ya ampun." Menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Jangan di tutup, cantiknya gak kelihatan."


Sorakan pun kembali terdengar, Dinda berdiri tidak berani menatap Rey. Dia melangkah keluar dari gedung dengan tergesa.


Rey tau bahwa dirinya sudah ditolak. Lagi.


***

__ADS_1


"Ayo pulang Bang, percuma lama-lama kesini tetap aja kan kamu nya gak dapat pasangan."


"Ssst, jangan keras-keras Dek, ketahuan kan aku tuh Wakil Presiden jomblo." Balas Niel.


"Naya," panggil seseorang yang menghentikan langkah mereka.


"Josua?"


"Aku mau bicara." Josua menatap Niel memberi isyarat untuk pergi. Tentu saja Niel tidak mau.


"Maaf Jo, kita berdua harus pulang secepatnya."


"Aku mau bicara Nay!" Bentaknya.


"Jo, jangan kelewatan." Niel memperingati. "Kalau ada yang mau ditanya, tanya ke aku aja, jangan ke Naya."


"Oke. Sekarang kita ke parkiran."


Alih-alih takut melihat keduanya bertengkar, Naya malah memikirkan, "gak ada tempat yang lebih adem gitu atau yang lebih bagus, masa diparkiran?"


***


"Apah!"


Niel mengangguk. "Iya, Naya udah nikah. Jangan ganggu dia lagi, cukup mengacaukan hidup orang itu sekali jangan dua kali." Cerca Niel. Dia sebenarnya sudah muak dengan tingkah Josua, padahal pria ini yang ingkar janji lebih dulu. Tapi bagaimana pun dia juga kasihan, karena memang Josua mati-matian mencari kabar dari Naya selama lima tahun.


"Kenapa lo gak kasih tau?!"


"Kenapa?!" Emosi Josua sudah meluap-luap.


Niel tertawa sinis. "Karena waktu lo sama Widya berkhianat, Naya juga gak tau! Dan dengan gampangnya lo bilang itu semua cuma masa lalu, mikir itu pakai otak jangan pakai lutut, gak kesampaian!"


Bukk!


Niel semakin tertawa, meski bibirnya sudah berdarah kena pukul, dia tidak peduli. Setidaknya unek-unek dalam hatinya bisa dikeluarkan, terlebih hal itu juga yang mewakili perasaan Naya yang sebenarnya.


"Kita udah sahabatan dari lama Nil! Tapi lo tega bohongin gue!" Teriak Josua kesal.


"Gue cuma turutin permintaan Naya. Sekarang jangan ganggu dia lagi, Jo. Gue mohon."


Josua mengerang frustrasi. Se-fatal itukah salahnya?


"Tapi.. " Josua mulai membuka suara, "biarin gue bicara sekali lagi untuk yang terakhir kali, setelah itu gue gak bakalan ganggu dia, gue janji Nil."


Niel tersenyum lega, "akhirnya teman-teman gue udah kembali waras lagi. Oke, silakan."


"Thanks,"


"Hem."

__ADS_1


"Biaya perbaikan bibir berdarah, gue gak terima rupiah ya,"


"Iya, entar pakai daun bayarnya."


***


"Bibir kamu kenapa Bang?" tanya Naya khawatir saat kedua pria itu menghampiri dirinya.


"Di tampol sama dia." Tunjuk nya dengan gerakan dagu. Naya menoleh dengan kesal. "Katanya dia mau ngomong berdua sama kamu."


"Makan itu pakai tangan Bang, mikir pakai otak. Jangan pakai dengkul gak kesampaian." Cetus Naya mengikuti bahasa Niel seperti biasa. "Kamu mau lihat aku dijadikan janda sama suami aku?" Ia begitu kesal.


"Aelah, kan cuma ngomong bukan buat anak," balas Niel yang langsung mendapat pukulan di pipi dari wanita itu. "Sakit Dek, lo kadang gak punya hati kalau pukul orang."


"Apah? Lo?"


"Eh, maaf, kamu maksudnya." Niel mengalah. Wanita di dekatnya ini memang sudah sangat tabu mendengar Lo-Gue. Maklumlah hasutan siapa ini di masa lalu. Iya, hasutan Josua.


"Ehem!" Josua berdeham, "Aku cuma mau ngomong buat yang terakhir kalinya kok Nay, gak usah khawatir. Aku janji gak bakal ganggu lagi."


"Gak usah pakai janji, dulu udah pernah janji tapi ingkar." Cerca Naya.


"Maaf, tidak akan terulang."


"Pokoknya kalau nanti aku selingkuh, Bang Niel yang tanggung jawab!"


"Dih, ogah!" Seloroh Niel tak terima, "Awas aja ya Jo, tebar pesona! Udah deh, mending kalian berdua pergi sana, selesaikan masalah masing-masing." Mendorong bahu Naya dan Josua.


"Iya." Jawab Naya dan Josua.


Niel melihat keduanya sudah agak menjauh. Sudah dipastikan keduanya akan naik motor besar milik Josua. Ya, iyalah, masa naik bajaj, kan Josua pakai motor.


Josua menyerahkan helm pada Naya dan ditolak wanita itu. "Mohon maaf, kecantikan aku bisa luntur."


Josua terkekeh. "Iya." Tidak jadi memberi helm, dan ia ingat bahwa ini adalah weekend jarang polisi akan ada di jalanan.


"Kita mau kemana?" tanya Naya saat sudah naik ke atas motor.


"Lihat nanti aja."


"Aku lompat ya kalau gak dikasih tau,"


"Astaga Nay,"


"Yang penting jangan ke KUA ya, mohon maaf nih, udah punya suami!" Sengaja menekan kata suami.


"Iya, istrinya orang."


"Jadi mau kemana ini?"

__ADS_1


"SMK Cadika."


__ADS_2