Pemilik Halu

Pemilik Halu
Merenung


__ADS_3

"Terserah kamu, Ibu percaya sama kamu. Pikirin matang-matang. Doa dulu minta bimbingan sang Pencipta."


Begitulah kata penutup telepon yang disampaikan oleh Ibunya pada Naya setelah gadis itu menceritakan perihal dirinya berhasil masuk universitas negeri XX melalui jalur undangan. Ya, gadis itu baru saja membuka pengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi. Bersyukur sekaligus tidak menyangka adalah dua hal yang dirasakan gadis itu.


Awalnya dirinya hanya iseng semata mencoba ikut-ikutan dengan siswa-siswi lain yang berprestasi di sekolahnya. Kalau menang ya syukur, kalau tidak masuk ya aku hanya mencoba saja. Pikirnya. Dibalik keisengan dirinya, banyak teman-temannya yang sangat ingin meraih tempat itu, dan dia tahu itu. Tapi kenyataannya, kemampuannya cukup dipertimbangkan dan akhirnya lulus.


"Aduh senang!!!" Pekiknya sambil berlari menuju ruang tamu yang saat ini hanya ada Rika disana.


"Kak Naya gila ya?"


"Dih! Ia mendudukkan dirinya di sofa sebelah Rika. "aku lulus jalur undangan Dek, dan Ibu aku bilang terserah semua keputusan ada di tangan aku. Horeee" Pekiknya lagi sembari memeluk orang yang di sampingnya.


Rika membalas pelukan itu. "Ah, syukurlah kak. Aku bangga. Jadi gimana, udah pasti ambil kuliah di universitas XX itu?"


"Sebenarnya waktu aku ikut daftar itu, aku enggak berharap sih. Tapi kalau udah lulus gini, sayangkan kalau enggak diambil. Egois di lubuk hati aku tuh meronta-ronta." Ucapnya. "Sebenarnya banyak teman aku yang pengen lulus kaya aku, tapi nasibkan engga ada yang tahu. Sama kaya kemauan kita, semalam beda, hari ini beda, besok apalagi."


"Tapi kata kak Naya mau kerja sambil kuliah, emang kalau di universitas negeri bisa kerja?" Tanya Rika yang membuat Naya ingat ucapannya beberapa waktu lalu saat mereka mengobrol tentang rencana ke depan gadis itu.


"Kita lihat aja dulu, kalau kira-kira orang tua aku sanggup biayain, aku berangkat. Tapi kalau enggak, aku bakalan kerja aja. Bantu-bantu dulu setahun dua tahun."


Rika mengangguk. "Sebenarnya ya Kak, nikah muda juga bisa mengurangi pikiran dan biaya dari orang tua loh. Aw!" Naya mencubit perutnya.


"Kamu aja nikah sana! Yang ada tuh ya, kita belum siap tapi demi berkurangnya beban biaya dari orang tua, kita nikah, hamil, ngurus anak, KDRT! Aduh..." Naya menarik rambutnya frustasi, "aku belum siap untuk gila Rik!" Wajahnya memelas.


Rika jadi terkekeh. "Becanda Kak, eh malah diseriusin."


"Ya mau gimana dong, soalnya dia aku ajak serius malah dimainin."


"Yhaaaaa, kasihan. Eh, gimana?"


***


Malam hari sekitar pukul delapan, Naya memeluk gitar duduk di teras kostnya. Ia menimang-nimang, sebentar lagi tamat, pisah dari teman-teman, menata masa depan, dan, akh! Naya bingung. Baru disadari bahwa dirinya sudah beranjak dewasa. "Aku belum siap dengan dunia orang dewasa, aku takut." Gumamnya pelan.


Teringat lagi akan pesan dari Ibunya saat ia mengatakan hal itu, "takut itu kalah sebelum berperang. Dan takut itu bukan dari sang Maha Pencipta. Dari setan itu."


Naya memijit pelipisnya. "Aku pengen kuliah. Ibu sanggup enggak, ya?" Gumamnya.


Semakin pusing dirasa, gadis itu teringat lagi pada masalah yang lain. Pujaan. Josua sama aku gimana ini? Semua yang dikatakan Josua pada dirinya adalah kejujuran. Tidak bisa berpacaran, cukup Jadi sahabat. Sakit!


Ia menghembuskan napas kasar, mengambil ponsel dari saku piyamanya. Membuka kembali foto-foto kenangan yang ada di memori ponselnya. Sejenak ia baru sadar, tidak ada satupun potret dirinya dengan sang pujaan hati. Seketika ia jadi cemberut, tiga tahun berturut-turut tidak pernah berfoto bersama, adapun itu hanya foto sekelas. Naya mengerang frustasi.


***

__ADS_1


Esoknya, Naya berjalan kaki ke sekolah, karena Roy tidak lagi menjemput dirinya. Ia menendang-nendang kerikil kecil di sepanjang perjalanan. Mukanya di tekuk masam, bibirnya sudah maju beberapa senti ke depan. Entahlah, mood perempuan sangat mudah berubah.


Tin, tin!


"Neng, sendirian ya?"Tanya Josua iseng yang kebetulan bertemu dengan gadis itu di jalan, ia memperlambat laju motornya.


Naya tidak sadar, ia tetap menunduk. "Ia Bang, padahal truk depan sana gandengan." Jawabnya asal.


Josua tertawa pelan. "Abang gandeng, mau?"


"Enggak Bang, aku pengennya digandeng sama pujaaa," Naya kaget Josua sudah berhenti di depannya. "Loh, kamu?"


"Pu, puja apa? Pujaan?"


"Dih." Dustanya dan hendak berlalu namun pergelangan tangannya dipegang oleh pemuda itu.


"Biasakan senyum pagi-pagi. Ini mukanya di tekuk dari ujung sana. Bete ya?"


Naya mengangguk jujur. "Aku bingung."


"Cerita nanti aja ya, kita ke sekolah dulu, yuk." Ajak Josua, gadis itupun menurut.


Sampai di sekolah, Naya menceritakan pada sang pujaan tentang kelulusan itu. Josua tidak banyak menanggapi, ia lebih fokus mendengar keluhan gadis itu. Ia mengernyit saat Naya mengatakan dirinya takut dewasa.


Naya mendecak memalingkan wajahnya. "Aku tuh lagi serius."


"Jangan dong, entar aja ya, tunggu kita dewasa baru serius."


"Kamu ih!" Omel Naya dan sembari beranjak menuju kursinya yang disana sudah ada Dinda.


"Cie, yang mau kuliah." Ledeknya.


"Sentil ginjal orang gratis loh Din, mau ku sentil nih?" Ancamnya.


"Galak ya Neng. Eh, selamat ya, semalam lupa ngucapin, hehehe." Ucapnya cengengesan, "eh, itu Lilis ngapain sama Josua?" Tunjuknya ke arah meja Josua.


Naya menoleh sekilas. "Auk, udah tahu gatal gitu malah digaruk." Ucapnya kesal. "Cowok semuanya sama aja!"


Dinda jadi cengengesan. "Cemburu ya?"


"Enggak lah, iri sih iya."


"Ha? Maksudnya?"

__ADS_1


"Gini ya Dinda Markoneng binti Abdul."


"Abdul siapa tuh?" Potong Dinda.


"Nama bapak tetangga sebelah, pinjam bentar. Dengerin dulu."


"Iya, apaan dah?"


"Cemburu itu, kita udah memiliki lalu takut kehilangan. Maksudnya gini, aku punya baju, kamu pinjam nih dan cocok buat kamu, aku cemburu dong. Karena itu milik aku, tapi pas buat kamu, aku takut dong kamu minta baju itu dari aku."


"Meski enggak ngerti aku angguk kepala aja ya, terus iri apaan?"


"Ah malas, otak udang payah!" Omel Naya.


"Bercanda.. Buset, datang bulan ya? Sensi


banget dari tadi."


Naya menghela nafas kesal. "Iri itu, kaya gimana ya jelasinnya. Um,,, "Naya tampak berfikir, "kita lihat sesuatu yang kita inginkan, tapi belum bisa kita miliki."


"Oh, kaya lihat Josua sama yang lain, tapi kamu enggak bisa cemburu, berarti itu iri kan?"


"Iya, pinter."


"Karena apa enggak bisa cemburu?"


"Karena enggak milik kita, huaaa" Naya nangis pura-pura yang membuat Dinda gemas hingga memukul keningnya.


Sementara Josua dan Lilis hanya membicarakan tentang masalah Naya dan Roy. Dan Lilis meminta maaf karena ikut membantu Riko dan Erwin dalam hal balas dendam. Dan disitu ia mengaku bahwa ada iri dalam dirinya pada Naya. Tapi ia berjanji akan berteman baik dengannya.


.


.


.


.


.


***


Sekian dulu ya Man-teman. Achuu mau bobok 🤣

__ADS_1


Ssst, cukup baca, like dan komen. Kalau ga ada yang komen, fix kalian jahatttt😌


__ADS_2