
Dengan sedikit malu dan canggung, Naya menggigit bibir bawahnya menghampiri sang pujaan yang kini menjadi sahabatnya.
"Jo," panggilnya dan langsung duduk disamping pemuda itu.
"Hm?"
Naya masih ragu, "anu."
"Apaan?"
Naya menatap pemuda itu dengan memasang wajah cemberut, "selamat ya, maaf aku lupa."
Josua sengaja memasang wajah datar karena Ia merasa lucu dengan ekspresi Naya saat ini. "ehm."
Naya mendecak. "Cuma ehm doang?"
"Terus apa?" Jawab Josua masih dengan wajah datarnya.
"Ya setidaknya bilang iya enggak apa-apa."
Josua mendengus, "coba ulang ngucapinnya." Pintanya.
"Selamat ya, maaf juga." Ucapnya penuh harap.
Josua tertawa pelan mengacak rambut gadis itu, "gemas aku lihat kamu kaya gini."
Naya langsung berbinar, "ahhhh, aku kan deg-degan mau bilang sama kamu dari tadi, saking bahagianya aku lihat kamu menang aku jadi lupa ngucapin."
"Kamu bahagia lihat aku menang?"
Naya mengangguk, "iyalah, dimana-mana tuh ya, yang namanya sahabat pasti bahagia lihat sahabatnya senang."
"Kalau gitu aku mau lihat kamu bahagia."
"Ini aku lagi bahagia, kan bahagiaku bersama mu." Naya membungkam mulutnya tertawa melihat ekspresi Josua yang tak percaya bahwa gadis itu berani menggombal.
Masih tertawa, Niel dan Widya entah dari mana datang menghampiri. Mereka sedang pamer kemesraan saling bergandengan tangan, Josua mendekatkan bibirnya ke telinga Naya sedikit berbisik, "Kaya truk gandeng ya," yang membuat gadis itu makin tertawa.
Melihat ada Widya, Dinda dan Harry jadi ikut mendekat.
"Buah apa yang paling cocok buat kaum jomblo?" Tanya Niel tiba-tiba.
Dinda menunjuk kearah Naya. "Buah.. Buah-hahaha" Jawab Dinda terkekeh.
__ADS_1
"Sialan!" Umpat Naya namun ikut tertawa juga, "kaya enggak kamu aja."
Dinda menggandeng tangan Harry yang membuat pemuda itu sedikit terkejut, "aku kan sama Harry, ya kan Ry?" Harry jadi mengerjap bingung.
Bilang enggak takut dia tersinggung, bilang iya kan tapi kan bohong namanya. Harry.
"Ekspresi si Harry beneran enggak mau sama kamu Din." Ucap Widya cengengesan.
Dinda manyun, dan membuat Harry jadi berkata, "udah banyak orang pacaran tapi susah untuk serius, kita tunggu aja di waktu yang dewasa, kalau kita berjodoh aku pasti halalin kamu." Demi apa, wajah Dinda memanas, selama ini gadis itu bosan dengan banyak lelaki yang mudah didapatnya, namun Harry berbeda yang membuatnya seolah ditantang. Gadis itu hanya iseng karena melihat sosok Harry yang cukup membuatnya gemas dan gencar menggoda. Tapi mendengar Harry seperti ini, jantungnya berdetak tak karuan. Tenang, jantungnya masih disana.
"Blekkkk, parah-parah." Ucap yang lain. Niel memukul Harry dengan buku, Josua ikut mendecih.
"Lho, ngapain habisin waktu buat pacaran enggak jelas yang ujung-ujungnya bakalan putus terus musuhan, ogah." Balas Harry.
"Setuju." SautJosua.
"Dih, namanya masa muda di nikmati dong urusan yang serius mah belakangan, yang penting kenal dulu." ucap Widya, "Nay, ada teman aku kirim salam, kamu mau ya jalan sama dia."
Naya mendecak, "ogah!"
Dinda dan Widya yang sudah punya mantan banyak jadi prihatin melihat Naya yang belum pernah pacaran sama sekali. Mendengar Widya berkata seperti itu Dinda jadi ikut mendukung.
"Buka hati Nay, udah mau tamat ini." Ucap Dinda sambil mendekati Naya.
Bilang enggak Nay. Josua.
"Enggak," ucap Naya. Josua tampak sedikit menahan senyum, "aku nanti dijemput sama Roy, aku udah janji sama dia."
Josua tersentak dan menatap Naya datar. "Kok enggak bilang sama aku?"
"Ini kan lagi bilang. Tadi belum sempat, keburu dua pasangan ini datang." Jawab Naya. Josua hanya ber-oh ria.
Meski tahu bahwa Naya menyukai Josua sejak lama, akan tetapi Widya dan Dinda tetap mendukung siapapun yang dekat dengan gadis itu.
"Jo, enggak apa-apa kan?" Tanya Naya.
"Ya baguslah, kan aku enggak perlu repot-repot lagi buat ngantar. Lagian kasihan kalau kamu jomblo kelamaan, berjamur. Gebet aja terus sampai jadi." Jawab Josua.
Setidaknya bilang jangan Jo, biar aku tahu nentuin hati aku buat siapa. Roy baik, aku takut pindah hati ke dia.
"Sama siapa aja boleh, asal kamu bahagia Nay." Ucap Josua, setelah itu jam pelajaran di mulai. Widya bergegas kembali ke kelasnya.
***
__ADS_1
Pulang sekolah sekolah, Roy sudah berada di gerbang menunggu Naya. Gadis itu sedikit berlari saat menghampirinya.
"Udah lama?" Yanya Naya.
"Nunggu kamu pulang sih masih bentar, nunggu kamu suka sama aku yang lama, hehehehe" Jawabnya.
Naya juga cengengesan, "kamu, ih." Kemudian menaiki sepeda motor Roy.
Dikejauhan, Josua hanya menatap datar.
"Kok sakit ya?" Gumamnya.
Tidak semua rasa bisa diungkapkan. Kadang kita sendiri belum bisa memastikan kita menyukai seseorang atau tidak. Maka dari itu, kita harus memanfaatkan sang waktu untuk menemukan jawabannya.
Hal ini sedang dialami Naya dan Josua. Sebenarnya dari dulu jika mereka bersatu, pasti hal-hal besar akan terjadi. Naya aktif dalam bidang olahraga dan Josua aktif di bagian pelajaran. Mereka sama-sama mahir dalam bidangnya, akan tetapi jika dulu tidak bermusuhan dan mau bekerja sama pasti ada sesuatu yang lebih besar dapat dihasilkan.
Melalui kepekaan dan pendapat, mereka sering sama. Bahkan soal rasa, juga dapat dipastikan sama. Namun ego meruntuhkan semuanya. Apalagi saat ini Naya sedang menguji coba perasaannya terhadap Josua melalui Roy, jika gadis itu dapat menyukai Roy maka perasaannya terhadap Josua hanya kekaguman semata. Akan tetapi jika gadis itu merasa sakit, ya kita tahulah.
Disisi lain Josua hanya senang melihat gadis itu dari awal. Namun persaingan prestasi membuatnya sedikit lebih fokus untuk diri sendiri, lama-kelamaan dia semakin penasaran dengan Naya. Pintar, bisa main gitar, ditambah lagi walau tidak menggunakan make up gadis itu bisa percaya diri.
Disebuah rumah makan sederhana, Roy dan Naya duduk menunggu pesanan mereka setelah memesannya tadi.
"Kamu makin cantik ya kalau pendek rambut gini." Ucap Roy membuka pembicaraan.
"Selain Abang kandung aku, kamu laki-laki kedua yang bilang gitu sama aku." Balas Naya.
Roy mengangguk, "mungkin pendapat kami sama, tapi jangan samain aku sama Abang kamu ya, sakit kalau cuma dianggap Abang."
Naya terkekeh, "enggaklah, Abang ya Abang, kamu ya kamu."
Pesanan mereka datang, mereka menikmatinya dengan mengobrol untuk mengenal satu sama lain.
"Aku mau jujur nih, tapi kamu jangan marah ya." Ucap Roy saat makanannya sudah habis.
Naya menyeruput teh manis dingin miliknya. "Yang dimarahin itu pas bohong, kalau jujur ngapain marah."
"Iya, ya." Roy memberi jeda, "aku suka kamu Nay."
Naya diam sejenak mencerna apa yang dikatakan oleh pemuda yang bersamanya saat ini.
Naya terlihat marah, dan itu membuat Roy senyum entah kenapa, "katanya enggak marah kalau jujur."
Naya mengerjap, "kamu enggak bohong?" Pemuda itu menggeleng.
__ADS_1
Naya tersenyum kembali, "kirain tadi bohong makanya aku marah."