Pemilik Halu

Pemilik Halu
Ada jalan


__ADS_3

"Berjuang untuk sekolah, di usahain ke sana ke mari, eh taunya tamat sekolah pengangguran, sabar ya Nak," ledek Ibunya.


Naya hanya menatap kosong lantai dapur mereka sembari menumbuk daun singkong untuk disayur. Ia enggan menanggapi ocehan ibunya pagi ini.


"Kalau orang tua ngomong itu ya di sahut dong." Omel sang Ibu.


"Ck, Ibu ngeledek sih" balasnya acuh. Sejenak tangannya berhenti menumbuk, "apa Naya nikah aja kali ya?"


"Oh boleh, boleh, mau ibu yang carikan?"


"Ck,"


"Loh, tadi katanya mau nikah, gimana sih."


"Ibu ada-ada aja. Kalau aku tuh lagi putus asa, sembarangan ambil keputusan, Ibu harusnya larang Naya dong."


"Kenapa harus dilarang? Kamu udah besar, udah bisa ambil keputusan." Sambil mengiris bawang, "ya kalau mau kerja, ya kerja, kalau mau nikah, Ibu gak larang kok, asal kamu sudah yakin dengan pilihanmu."


"Ini sih namanya bijaksana -Bijaksini." Seloroh Naya. "Aku mau kerja ajalah Bu, semalam ada yang chat Naya, katanya sih ada kerjaan gitu di tempat dia. KTP Naya kan udah siap, Naya boleh ya Bu, ke Jakarta lagi."


"Ya udah, Ibu kan gak larang." Jawab sang Ibu.


Dengan sedikit ragu Naya melanjutkan kata-katanya, "kalau misalnya Naya punya tabungan tahun depan, Naya boleh gak Bu kuliah?"


"Boleh dong, kamu udah dewasa, uang kamu ya sepenuhnya hak kamu. Tapi bukan berarti harus di foya-foyain ya, kalau Adek mu minta sesuatu, kalau lagi ada rejeki ya kasih sedikit." Memindahkan bawang ke dalam kuali yang sudah di tuang minyak, "kalau orang yang sudah dewasa dan bekerja itu, gak boleh pelit juga sama keluarga. Tapi kalau lagi gak ada uang, jujur aja. Usaha atau ngusahain boleh, tapi sewajarnya aja. Jangan sampai kita ngelakuin hal jahat di mata sang Pencipta."


Naya manggut-manggut mengerti. "Terus kalau Naya gak mau pergi kerja keluar negeri Ibu marah gak?"


Sang Ibu menuangkan air ke dalam kuali, lalu menoleh pada Naya, "nggak dong, yang punya utang itu Ibu, bukan kamu. Dan untuk masa depan, berapa pun gaji kamu di sini, asal kamu nyaman kerjanya, kamu gak tipu-tipu, pakai doa (paling utama), pasti lebih dari apa yang kamu pikirkan yang dapat."


Naya tersenyum kemudian mengangkat tangannya, menyilang ibu jari dan jari telunjuknya membentuk love. "Ibu ter-the best," pujinya.


"Ya, iya, istri siapa coba?"


"ehem, ehem, ingat Bu, udah gak punya suami." Sindir Naya dan di balas tawa renyah dari sang Ibu. Ibu kece, kata Naya.


***


Seperti Dejavu, Naya kembali menggunakan setelan hitam putih untuk pelamar kerja pada umumnya. Tapi kali ini dia lebih was-was, seandainya ada yang menjambret lagi, dia tidak akan terlalu susah lagi.


Contohnya, di saku kemeja putih ia memasukkan uang sepuluh ribu, di saku celananya juga ia selipkan. Jaga-jaga buat ongkos, begitu pikirnya. Tas yang biasanya disandang begitu saja, sekarang tidak lagi. Lebih tepatnya, tidak mau menggunakan tas semacam itu. Sewaktu di kampung dia sempat membeli tas ransel.


"Oke, aku siap."


Iya, Naya sudah kembali ke kota kemarin sore. Hari ini dia sangat berharap bisa mendapat pekerjaan.

__ADS_1


"Kamu suka main komputer?"


Nggak Pak, saya gak suka main-main, maunya di seriusin.


"Tidak terlalu Pak," jawabnya seadanya saat ditanyai HRD dalam wawancara.


"Tapi kamu lulusan jurusan komputer,"


Iya Pak, waktu jam belajar saya kadang kabur ke kantin.


"Eh, iya Pak. Tapi kami lebih fokus ke hardware dari pada software. Jadi kalau dalam bidang pekerjaan yang sering pakai Microsoft gitu hanya bisa sedikit Pak."


Sang HRD memandangi wajah Naya. "Pertanyaan terakhir, kamu mau bekerja atau tidak?"


"Saya mau Pak. Saya akan belajar dengan cepat."


"Umm," Pria yang berumur sekitar tiga puluhan itu mengelus dagunya, "oke, saya kasih kamu waktu belajar selama seminggu, kalau tidak ada kemajuan, kamu harus di keluarkan."


"Terimakasih Pak, terimakasih," berulang kali Naya menjabat tangan pria itu dan menunduk. Ia pun melangkah keluar membawa senyum, hingga akhirnya di depan pintu ia bertemu dengan orang yang telah memberitahukan tentang lowongan kerja ini.


"Sumi, makasih ya, aku di terima.." ucapnya girang lalu memeluk teman lamanya itu.


"Alhamdulillah, aku turut senang ya." Balas Sumi.


"Ya ampun gak nyangka kamu udah pakai hijab,"


"Iya nih Nay, udah tobat aku tuh,"


"Padahal dulu ya, kita itu sama-sama tomboy, aku pikir kamu gak bakalan mau pakai hijab."


"Dulu dan sekarang berbeda atuh Nay," Menarik tangan Naya untuk pergi ke kantin perusahaan, "dalam waktu sekejap aja orang bisa berubah, apalagi aku yang sudah bertahun-tahun." jelasnya, "apalagi doi yang bilangnya sayang eh taunya tahun depan udah nikah sama yang lain,"


"Itu mah beda, bukan berubah," saut Naya.


"Udah, samain aja. Capek tau beda pikiran apalagi beda perasaan,"


"Yhaa, luarnya aja ini kelihatan kalem, dalamnya masih sama, gila! Hahaha"


***


Hari pertama bekerja.


"Ini ke sini, di klip setiap dokumen yang udah kamu kerjain,"


Ini baru pertama kalinya loh, masa sih harus ngegas tingkat akut. Naya menahan segala emosi yang bergejolak dalam hati ketika di ajari salah satu senior, namanya Delila. Derita anak baru. Huff.

__ADS_1


"Eh, anak baru, buatin kopi dong, ngantuk nih."


Naya mengangkat alis sebelah, apa-apaan pikirnya. "Tapi Kak, kerjaan aku belum siap."


"Eh, kalau di suruh itu ya nurut, kalau soal kerjaan ya kan bisa nanti-nanti!" Nona cantik yang diketahui bernama Celine itu tampak geram pada Naya.


Diam-diam Sumi di meja kerjanya mengetuk-ngetuk jarinya. "Sekali," ucapnya pelan.


"I..iya Kak,"


Naya pergi ke dapur kantor, tak disangka akan seperti ini hari pertamanya. "Mana masa penilaian selama seminggu lagi." Gerutu Naya.


"Huh," dia sudah siap membuat kopi pesanan Nona Celine, "oke, anggap ini pelatihan mental, jangan goyah jangan nangis."


Celine mengambil gelas dari atas nampan yang di bawakan oleh Naya. "Kamu mau bunuh aku ya? Panas banget!"


"Dua kali,"


Naya tak bergeming. Sementara dari jauh sudah dilihatnya Delila sedang menuju ke arah mereka. Aduh!


"Loh, ngapain kamu berdiri di sini? Tadi kan aku suruh ngerjain dokumen yang itu,"


Sabar.


"Tadi Kakak yang ini nyuruh buatin kopi, Kak," Ucapnya sembari melirik ke arah Celine.


Delila tidak bergeming. Tidak mungkin kan dia bertengkar dengan Celine hanya karena anak baru. "Alasan aja kamu."


"Sudah, ini sudah lebih dari tiga kali." Posisi Sumi yang berkedudukan sebagai atasan karena dia adalah anak dari pemilik perusahaan tidak bisa tinggal diam. Mereka memang satu ruangan, tapi meja gadis berhijab itu sedikit jauh ke arah pintu. Tapi dia masih bisa memantau apa yang sedang terjadi.


Dan yang dilihatnya kali ini, bukanlah hal yang wajar, tapi kurang ajar.


.


.


.


.


.


.


Eh, betewe, makaseh loh buat yang udah nyumbang vote❤️ gak nyangka aku tuh🤧❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2