Pemilik Halu

Pemilik Halu
Masa Suram


__ADS_3

Mimpi.


"Jangan"


"Tidak! Jangan, aku mohon...!"


Gadis itu menangis dalam dekapan lelaki tua yang haus akan nafsu.


"TIDAKKKKKK!!!!"


"Kak Naya bangun, kakak kenapa? Kak bangun," Rika mengguncang badan Naya yang penuh dengan peluh. Sesaat Rika jadi takut dengan keadaan gadis yang masih belum bisa kembali ke alam nyata itu. Ia Mengayunkan tangannya ke udara.


"Plak!" Gadis itu menampar Naya sampai terbangun. Meskipun menangis dalam mimpi, Naya juga merasakan cairan bening ada di pipinya di alam nyata. Ia lupa akan rasa sakit bekas tamparan Rika karena rasa takutnya.


"Minum dulu Kak." Rika menyodorkan segelas air putih.


Naya meraih dan meneguk air itu. Ia melirik jam tangannya, "udah jam 5." Gumamnya.


Rika memeluk Naya dari samping, Gadis itu masih sangat khawatir dengan keadaan Naya.


"Kakak mimpi lagi ya?" Tanyanya hati-hati.


Naya tersenyum getir, "mimpi buruk Dek," sambil meletakkan gelas kosong yang sedari tadi di tangannya.


Rika melepas pelukannya dan memandang Naya dengan sedikit khawatir. "Kak Naya sering kayak gini, Kakak selalu teriak jangan. Emang Kakak di apain sama orang?" Tanya gadis itu menatap Naya yang sedang memasang wajah kacau.


Naya menatap sendu kearah Rika. "Aku takut, Rik." Bahunya mulai bergetar, "aku enggak bisa jatuh cinta sama orang, hukumnya terlalu berat." Isak gadis itu pun pecah.


Rika yang tidak mengerti arah pembicaraan namun merasakan kesedihan Naya yang tak bisa dijelaskan, ia hanya memeluk gadis yang sedang rapuh itu dan menenangkannya.


Setelah dirasa sudah bisa mengontrol diri, Naya melepas pelukan dari Rika. "Aku mau mandi, mau cepat berangkat sekolah." Rika mengangguk.


Dikamar mandi, Naya membisu. Bayangan kelam nan suram masih jelas dalam ingatan nya, dimimpi atau di alam nyata.


"Laki-laki tua bangka itu harus mati!" Geramnya dalam isak tangis yang tertahan.


"Ya, Tuhan...


Apakah ada seseorang di masa depan yang menerima aku apa adanya?


Dosa apa yang ku perbuat dimasa kecil hingga aku benar-benar takut tumbuh jadi orang dewasa?


Hukuman atas dasar perkara apa ini?


adakah hak ku tuk jatuh hati pada pilihan ku sendiri? Kurasa tidak!


Pikirannya pun tidak bisa lagi dikendalikan gadis itu. Ia ingin meraung sekencang mungkin. Mahkotanya sudah direnggut saat umurnya sudah bisa mengenal dan mengerti tentang dunia. Saat dirinya beranjak remaja.


Disaat perkembangan otak dan ingatannya sedang berada dipuncak tertinggi, Ia harus mengalami masa suram. Belum ada yang tahu keadaan gadis itu yang sebenarnya.


Naya tumbuh jadi gadis yang periang, ceria, dan bising untuk menutupi kesedihannya yang terlalu mendalam.

__ADS_1


Ia takut kesepian. Saat gadis itu masuk ke alam khayalan dalam lamunan, selalu saja ingatan kotor itu menghampiri halusinasinya.


Ingatan dan mimpinya seakan bekerja sama untuk selalu menyadarkan dirinya, bahwa ia tak layak jatuh hati pada siapapun. Dan keadaan itu membuatnya sangat tersiksa. Ia harus me-restart janji yang dari awal ia buat. Bahwa,


"Tidak boleh jatuh cinta."


***


Berhari-hari Naya menjauh dari teman-temannya. Dan itu juga berlaku untuk Dinda dan Widya. Gadis itu selalu duduk di pojok kelas menatap lurus dengan kosong.


Widya melipat tangannya di dada. "Kasihan gue lihat tuh, anak."


Dinda menoleh sekilas. "Selama ini dia yang paling tenang kalau ada masalah, tapi ini beda, udah kayak orang lain, bukan Naya yang kita kenal."


Naya melihat kedua sahabatnya di pintu kelas yang sedang memandanginya dengan wajah yang sedih. Melihat itu, hatinya jadi sendu tidak tega meninggalkan orang-orang gila seperti mereka.


Gadis itu memutuskan untuk menghampiri.


"Bisa enggak nunggu kira-kira 30 detik lagi?"


Kedua sahabatnya pun mengernyit. "Mau ngapain lo?" Widya heran.


Naya langsung mendaratkan sentilan ke kening sahabatnya itu dan membuat Widya mengaduh.


"Gue-lo, gue-lo! Mulai sekarang aku-kamu." Sadar akan ucapannya, Naya jadi hampir frustasi.


"Inikan ajaran si Josua."


"Ha? Apaan?"


Widya menepuk kening Dinda. "Daun (down)"


Dinda langsung cengar-cengir. "Oh daun toh.


Eh down."


Widya teringat lagi. "30 detik buat apaan Nay?"


Senyum Naya mengembang. "Buat jadi gila bareng lagi." Ia merangkul kedua sahabatnya, "malas aku tuh kalau jadi waras"


"Kamu ada masalah apa, Nay?" Pertanyaan yang tak ingin didengar Naya saat ini akhirnya terucap dari bibir seorang Dinda.


Naya tersenyum. Berusaha tersenyum. Berakting seperti gadis itu sudah sembuh dari ingatan suramnya. Untuk sejenak Ia harus melupakan yang dibelakang agar lebih fokus dengan yang sekarang dan esok yang akan datang.


"Ada waktunya nanti kalian bakalan tahu." Ucap Naya meyakinkan. Kedua sahabatnya itu cemberut namun manggut-manggut. Berusaha memahami mood Naya.


"Eh, si Naya udah sembuh tuh" Ucap Harry sambil menunjuk ke arah Naya.


"Eh, si bocah udah bisa senyum lagi toh" Saut Niel.


Dasar cewek labil. Josua.

__ADS_1


Beberapa hari ini Naya selalu menghindar dari Josua. Apalagi saat pemuda itu menjemputnya ke kost, Rika selalu naik ke sepeda motornya dan memaksa untuk dibonceng ke sekolahan. Dan itu membuat pemuda itu jadi kesal apalagi saat pemuda itu bertanya, Naya selalu membisu.


Belum lagi saat dua hari yang lalu Naya kembali menghajar teman sekelasnya yang bernama Riko. Saat itu, Naya sedang melamun di pojok kelas. Gadis itu mendengar percakapan beberapa murid laki-laki di depannya.


"Gimana sih pertahanin hubungan biar langgeng?" Tanya salah seorang murid laki-laki yang sedang berkumpul itu.


"Kalau gue sih ya main cocok tanam, hahaha" Ucap Riko yang membuat teman-temannya bingung. Maklum, sebagian masih polos.


Naya sudah melayangkan tatapan membunuh ke arah Riko.


Sebagian bertanya apa maksudnya, pemuda itu menjawab. "Ya rusakin ajalah, dia bakalan nangis darah kalau kita tinggal."


"Parah lo, masa cewek sendiri di rusak" Ucap murid lain.


Riko berdiri, "asal kalian tahu, cewek kalau udah diambil mahkotanya, enggak bakalan berpaling dari kita."


"Terus cewek lo mau aja gitu pas elo minta itu ke dia?" Tanya murid lain lagi.


Riko tersenyum sinis, "sebenarnya semua perempuan itu sama, murahhhh"


Naya melihat ada sepotong kayu dilaci meja, sepertinya potongan kursi yang sudah rusak. Cukup pas ditangan gadis itu jika Ia ingin memecahkan kepala seseorang.


Dan ya, kepala Riko berdarah dengan sekali pukulan dari gadis itu.


"Lo enggak punya emak atau saudara perempuan, ha?" Hengan nada geram Naya ingin melanjutkan aksinya, Namun Riko sudah pingsan terlebih dahulu.


Semua orang dikelas yang menyaksikan tontonan gratis tanpa bayar itu jadi bergidik ngeri. Apalagi Josua.


Dan hari-hari selanjutnya Josua memilih tidak mengganggu gadis itu, dan memutuskan untuk menunggu sampai gadis itu normal kembali.


Dan inilah saatnya, pemuda itu melihat kembali senyum gadis itu walau bukan untuknya.


Aku tunggu sampai kamu siap, Nay.


.


.


.


.


.


.


***


Author : itu +62 yang cuman lewat tuluy engga komen atau like, fix! parah!


+62 : bodo amat😅

__ADS_1


__ADS_2