Pemilik Halu

Pemilik Halu
Siapa Erik?


__ADS_3

Naya menutup mulut tak percaya. Masih membaca situasi dan mengenali siapa pelakunya.


"MAS ERIK?"


Pria yang disebut Erik itu masih menatap tajam pada Josua. Sementara masa lalu dari istrinya itu masih tersungkur ke tanah dan pastinya babak belur.


"Mas," tegur Naya.


Erik tak menyahut. Dia tadi tidak sengaja keluar gedung yang sama dengan Naya karena ada rapat diluar kantor, saat dia keluar ia menyaksikan semua drama sang istri dengan pria ini. Siapa dia?


"Mas.." panggil Naya sekali lagi. Erik membuang nafas masih enggan untuk menyahut. Sedikit malu dengan perbuatannya, pasalnya dia tidak peduli apapun yang terjadi dengan Naya, tapi kenapa dia jadi panas sendiri melihat Naya dipeluk oleh orang lain.


Erik membalikkan tubuhnya, "pulang!" Ia memberi perintah.


"Iya." Naya menjawab lemah lalu berbalik tanpa berniat berpamitan dengan Josua yang masih terdengar meringis.


"Kamu ke sini bareng siapa?" Erik membuka suara lagi. Terlihat Naya tak mau menjawab dia malas berbicara dengan siapapun sekarang, "kita pulang bareng." Ucapnya sembari menarik pergelangan tangan wanita itu.


***


Di mobil keduanya terdiam. Tak ada yang membuka suara. Naya menatap ke arah jalanan, wajahnya terlihat lesu sementara Erik masih melirik sesekali kesamping.


"Dia siapa?"


Naya tak menjawab. Lebih tepatnya dia tak mendengar apapun, matanya sudah terpejam, dia tertidur setelah dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan.


"Kalau orang bicara itu di sahut, Nay," Ia menoleh kesamping melihat Naya yang ternyata sudah tertidur pulas. "Huff, kacang goreng kacang goreng!"


Erik membuka pintu mobil agar istrinya itu terbangun. Dan benar saja Naya tersentak. Dia berusaha mengenali tempat dimana mereka sekarang, dilihatnya sang Ibu dan Ibu mertuanya sedang berbincang hangat di teras rumahnya. Sementara di teras rumah sang suami hanya ada sang adik, Dina, memegang laptop sepertinya mengerjakan tugas. Ya, rumahnya dan sang suami bersampingan. Maka untuk itu mereka berdua harus jadi aktor dan aktris yang pandai memainkan panggung sandiwara setiap harinya.


"Turun," suruh Erik. Naya menurut saja mulai menampakan senyum tulus pada kedua wanita paruh baya didepan sana.


"Wah, kok pulangnya barengan? Tadi perasaan kamu bilang pulangnya agak malam Nay?" tanya sang Ibu, "Niel mana?" timpalnya lagi.


"Tadi gak sengaja ketemu Mas Erik di gedung yang sama, jadi pulang bareng aja. Naya kurang enak badan Bu," Jawabnya sepenuhnya tidak berbohong.


"Ya udah, istirahat dulu ya, Nay." Ibu mertuanya mengelus puncak kepala menantunya. Kelihatan sekali wanita yang akrab di panggil Disa itu sangat menyayangi Naya.


Naya mengangguk, menatap sang suami yang mengangguk kearahnya. Mereka pun berjalan masuk ke kamar. Tentu saja mereka tinggalnya di rumah Erik.


***


"Dia siapa?" tanya Erik saat sudah melepas sepatu dan dasi.


"Josua."


"Bukan namanya yang aku tanya, Nay," nada bicaranya terdengar serius.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa," ia tak berbohong, kan memang bukan siapa-siapa selain status sahabat.


"Nay!" Bentak Erik.


"Aish!" Naya mendesah kesal, "dia itu sahabat aku, dulu."


"Yakin sahabat?"


"Kami dekat, tapi gak pernah jadian." Akunya. "Tumben Mas peduli." Sindir Naya.


"Hanya menghargai apa yang udah aku miliki. Jangan macam-macam selama status kita masih suami-istri." Ancamnya. Entah apa yang membuat pria itu begitu kesal.


"Kita udah tiga bulan nikah Mas. Kalau Kayak gini terus..."


"Apa?! Mau cerai? Jangan pernah bermimpi tentang hal itu Naya. Kalau bukan karena Ibu begitu menyayangi mu, dari dulu aku gak mau nikah sama kamu."


Naya menghela nafas, semuanya telah terjadi begitu saja. Takdir menghantam keras jiwa di dalam tubuh lemahnya.


"Mas tau gak," Cairan bening mulai menumpuk di pelupuk mata. "Waktu aku ngerayain ulang tahun ke 20, disitu aku benar-benar pengin akhiri hidup. Karena aku tau, gak ada seorang pun yang akan terima aku apa adanya."


"Termasuk Mas Erik. Aku tau aku gak virgin lagi. Tapi coba Mas tanya aku," dia mulai terisak, "apa penyebabnya, kalau aku bisa milih, aku juga gak mau kayak gini. Aku pengen kasih yang seutuhnya buat suami aku."


"Kamu ninggalin aku di malam pertama kita, tanpa bertanya apa penyebabnya." Lirihnya dengan lemah, "aku juga gak mau kayak gini Mas!"


"Makanya kamu kalau bergaul itu jangan sembarangan! Kamu nyia-nyian masa depan kamu demi bersenang-senang semata!" Bentak Erik.


***


4 Bulan yang Lalu....


Naya mengantar seorang rekan kerja ke stasiun kereta api. Setelah pergi, Naya mengambil posisi untuk duduk sebentar. Dia ingin istirahat. Wanita itu memejamkan mata sejenak.


Brukk!


"Eh, Ibu gak apa-apa?" Naya menghampiri Wanita paruh baya yang berusaha memunguti dodolnya yang berserakan.


"Eh, aduh. Gak apa-apa Nak, makasih udah bantu."


Naya tersenyum lalu membantu Ibu itu berdiri. "Duduk dulu Bu,"


"Iya."


Terlihat keduanya saling bercengkrama. Mulai mengakrabkan diri.


"Loh, berarti Ibu tetanggaan dong sama aku. Rumah Ibu aku itu pas banget di samping rumah Ibu." Jelas Naya setelah gadis itu mengetahui alamat Ibu Disa.


"Eh, masa sih? Tapi kok gak pernah jumpa sama kamu ya?"

__ADS_1


"Ibu, Abang, sama adik aku baru pindah sekitar satu bulan yang lalu Bu, aku belum sempat kesana, aku tinggalnya di apartemen untuk sementara." Jelasnya panjang lebar.


"Owh, gitu toh. Adik kamu cantik loh, Dina kan namanya?"


Naya mengangguk, "Abang aku juga ganteng kok Bu. Namanya An.."


"Anto kan?"


Naya nyengir kuda, "hehehe iya, ternyata kita emang tetanggaan Bu."


"Seneng banget Ibu ketemu sama calon menantu di sini." Seloroh Bu Disa.


"Eh? Maksudnya Bu?"


"Ah, nggak. Cuma bercanda." Bu Disa melirik ke sana kemari seperti mencari sosok seseorang.


"Cari siapa Bu?"


"Jodoh kamu."


"Jo..jodoh?"


"Nggak, cuma bercanda." Naya tersenyum seadanya. "Nah itu dia," tunjuk Bu Disa. "Itu jodoh kamu, eh maksudnya anak Ibu."


"Oh," Naya manggut-manggut.


"Bu, langsung pulang yuk." Ajak pria itu ketika sudah dekat dengan mereka.


"Emang udah siap?"


"Udah."


Entah urusan apa itu, Naya tidak peduli. Manik cokelatnya hanya memandang lekat pria tampan dihadapannya. Pria ini sangat familiar di benaknya.


"Eh, kenalan dulu." Bu Disa menyodorkan tangan anaknya ke hadapan Naya membuat keduanya beradu pandang.


Seketika mata pemuda itu membuat sempurna. "Kamu..."


"Astaga! Abang eh, bapak polisi ganteng kan?" tanpa sadar dengan ucapannya. Naya hampir berteriak kegirangan. "Astaga kayak mimpi, ini beneran ketemu lagi?" Suaranya terdengar bahagia.


"Ya ampun, udah dewasa banget kamu ya. Halo kenalin, aku Erik."


Naya menyambut tangan itu dengan senang hati, "Naya, Bang."


"Eh, kok panggil Bang sih? Gak romantis, panggil Mas aja." Cerca Bu Disa.


Naya masih tersenyum senang, tak menyangka dengan takdir tahun ini. Orang yang dulu pernah menolong dirinya dengan Jiny, kini muncul lagi dihadapannya. "Ah iya, Mas Erik." ucap Naya tak lupa masih tersenyum.

__ADS_1


"Nah, gitu dong." Ucap Bu Disa senang. "Ya udah pulang bareng yuk," Naya dan Erik mengangguk saja. Mereka sama-sama merasa bahagia bisa bertemu lagi.


__ADS_2