Pemilik Halu

Pemilik Halu
Berjuang


__ADS_3

Roy dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing setelah berpamitan. Seluruh penghuni kost 21 membereskan segala perkakas yang mereka gunakan sewaktu memanggang, sehabis itu kembali ke kamar masing-masing karena sudah hampir larut malam.


Naya meraih ponselnya sebelum tidur, ternyata ada dua pesan WhatsApp yang masuk.


Roy : selamat tidur manis, mimpi yang indah.


Dih! Dikira kucing, si manis.


Josua : tidur anak orang.


Ya, iyalah anak orang ya kali anak kucing.


Naya asyik menggerutu saat membaca pesan dari dua pemuda yang berbeda itu. Ia sendiri tidak tahu mengapa Ia jadi kesal mendapat pesan dari mereka berdua.


Namun kembali gadis itu merenungi kisah hidupnya yang tersirat masa lalu yang suram.


"Ada enggak ya, dimasa depan yang terima aku apa adanya dan mau terima masa lalu aku?" Gadis itu bertanya-tanya dalam hatinya.


Malam ini ada niat yang begitu besar dari hatinya, "aku harus bisa bangkit, aku juga berhak mencari cinta buat diri aku sendiri. Umur aku 18 tahun, udah beranjak dewasa, enggak mungkin aku harus selalu tenggelam dan terjerat dalam masa kelam ini."


Namun gadis itu kembali menundukkan kepalanya dan hampir menangis saat mengingat kejadian dimana kehormatannya harus direnggut dari pria tua yang menjijikkan.


Naya menuruni tempat tidur dan duduk di sudut kamarnya, Ia meringis menahan sesak dihatinya. Menyilangkan kedua tangan di dada dan memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Air matanya sudah lepas di ujung sana.


"Ibu.." Rintihnya.


Andaikan saja gadis itu dapat menceritakan tentang kejadian itu pada Ibunya, pasti sekarang Ia sudah merasa lega karena ada yang tahu penderitaannya. Tapi apa boleh buat, bahkan di kertas diary pun gadis itu tidak berani menuliskannya.


Banyak diluar sana gadis-gadis remaja yang mengorbankan kehormatannya dengan cuma-cuma. Ada hanya untuk gadget baru, baju baru, tas baru, barang-barang branded. Ada lagi yang katanya untuk mempertahankan hubungan dengan kekasih lalu merusak dirinya sendiri. Namun beda dengan Naya, Ia harus rusak bukan dengan kemauannya. Malam yang kelam itu Ia sudah berusaha mempertahankan dirinya namun tetap kalah. Yang seharusnya Ia jaga dan berikan pada suaminya kelak, harus di diambil dengan tidak senonoh.


"Wahai keadilan, hampirilah aku." Gadis itu mulai terisak namun menutup mulutnya sekuat mungkin agar Rika, kawan sekamarnya tidak terbangun.


Naya mulai mengontrol emosinya, "yang aku perlu sekarang adalah cinta tulus, urusan masa lalu belakangan. Kalau dia tulus, dia pasti ngerti." Gumam gadis itu.


"Aku udah cukup umur buat nentuin sama siapa aku berteman dekat. Aku akan coba, Aku akan berjuang." Dengan mata yang sedikit bengkak dan sembab Ia kembali ke atas tempat tidur dan mulai menutup mata untuk menuju sang alam mimpi.

__ADS_1


***


Pagi ini Naya tampak ceria, terlebih lagi dengan penampilannya yang sekarang tampak berbeda, mungkin karena tekad yang baru dibuatnya tadi malam jadi gadis itu terlalu semangat.


Josua : aku enggak bisa jemput ya, maaf.


Bahkan membaca pesan itupun tak membuat Naya murung. Ia hanya ingin tersenyum sepanjang hari ini.


Gadis itu meraih tasnya lalu keluar menuju gerbang. Karena terlalu bahagia, sampai-sampai Ia tidak menyadari ada Josua di depan gerbang kostnya.


"Senyam-senyum di pagi hari, cakep. Biar apa? Biar matang." ucap Josua asal karena Naya hampir melewati nya tanpa sadar.


Mendengar itu, Naya jadi menoleh, "eh, katanya enggak bisa jemput?"


Pemuda itu melipat tangannya di dada, "tadi sih maunya nge-prank tahunya kamu enggak sadar ada aku disini. Padahal tadi aku mau bilang, prank! Ada kamera disana, ada kamera disini." Keluh pemuda itu yang membuat Naya jadi tertawa kecil dan meminta maaf.


"Soalnya aku buta kalau tentang kamu." Ucap gadis itu.


"Kenapa?"


Josua mendekati gadis itu namun tidak menjauh malah seperti menantang, "emang kamu cinta sama aku?"


"Bercanda, hehehehe." Gadis itu mendorong Josua karena bagaimanapun percaya dirinya pasti selalu menciut di hadapan pemuda ini.


"Ayo, naik."


Naya menurut dan menaiki sepeda motor pemuda itu. Belum sempat Josua menyalakan motornya Naya bertanya, "kamu udah baper belum sama aku?"


Josua tertawa kecil, "udah sih, tapi kita kan sahabat enggak mungkinlah lebih."


Perkataan itu membuat Naya seperti kehilangan nyawanya. Namun Ia tetap bersikap biasa saja, "bagus dong, pertahanin gini ya jangan ada yang baper diantara kita, karena aku udah nyaman dengan status sahabat."


Deg.


Kali ini perkataan Naya yang membuat Josua hampir kehilangan nyawanya. Ini nyawa hilang, diganti lagi pakai nyawa yang lain, eh tahunya sama-sama hilang. Payah!

__ADS_1


Sampai disekolah, semua heboh nan riuh bersorak memanggil nama Josua. Karena sudah terdengar kabar bahwa pemuda itu menjadi juara 2 cerdas cermat se-Kabupaten yang diikuti nya beberapa hari yang lalu. Naya sudah tahu, karena Ia sendiri yang mendukungnya.


Mereka tetap berdampingan sampai di kelas. Meski banyak yang memanggil namanya, Josua tetap kalem, saat ini pemuda itu hanya mengharapkan ucapan selamat dari gadis yang berada di sampingnya.


Naya melirik Josua sekilas, "ada yang naik daun, nih."


Josua mendecak, "ini semua enggak ada artinya kalau orang penting dalam hidup aku enggak ngucapin selamat, padahal dia sendiri tahu aku udah menang dari jauh-jauh hari."


Naya tampak berfikir, yang tahu tentang kemenangan ini bukan hanya dirinya, melainkan Dinda dan Widya juga ikut. Gadis itu mulai berasumsi bahwa ucapan selamat dari Dindalah yang ditunggu Josua.


"Tenang aja, nanti aku bilangin ke dia biar ngucapin." Naya menepuk pundak Josua dan duduk di kursinya setelah berada di kelas. Josua jadi mendecak dan kesal sendiri.


Ting!


Roy : pulang sekolah ada acara enggak?


Naya : enggak ada. Kenapa?


Roy : nanti aku jemput ya, ada yang mau aku omongin.


Naya : oke.


Gadis itu sengaja mengiyakan ajakan dari Roy karena Ia sedikit kesal dengan asumsi yang dibuatnya sendiri.


"Eh, Din. Ucapin selamat sana sama Josua, dia udah nungguin Lo dari kemarin." ucap gadis itu dengan nada datarnya dan kembali memakai gue-lo karena amarah yang menggebu di hatinya.


Dinda mengingat kembali, "aku udah ngucapin waktu selesai pengumuman, seingat aku sih kamu yang belum ngucapin." Ucap Dinda tak kalah datar.


Naya mengerutkan dahinya, "eh iya!" Hadis itu menepuk keningnya, "waduh, gimana dong ini? Kamu bantuin aku cari cara buat ngomong dong, aku malu, udah kelamaan soalnya."


Dinda menghela nafas dan menepuk kening Naya, "makanya jangan emosi dulu, pakai gue-lo segala lagi." Lalu melirik Josua sekilas yang terlihat murung. "Udah datangin aja, bilang langsung."


"Aku malu, Din." Ucap Naya sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajah.


"Nay, ini saatnya urat malu kamu harus di putus demi persahabatan." ucap Dinda hampir tertawa, "selamat berjuang." Imbuhnya.

__ADS_1


Ahhh mati aku. Ajakan si Roy udah aku terima lagi. Inikah yang dinamakan salah paham?


__ADS_2