Pemilik Halu

Pemilik Halu
Perpisahan


__ADS_3

Jadikan ini perpisahan yang termanis


Yang indah dalam hidupmu, sepanjang waktu


Semua berakhir tanpa dendam dalam hati Maafkan semua salahku yang mungkin menyakitimu...


Semua para angkatan yang akan menjadi alumni tahun itu bernyanyi bersama setelah bus pariwisata yang besar itu melaju menuju tempat rekreasi yang ditunjuk untuk menjadi tempat momen perpisahan. Semua tampak bersahabat, bahkan Lilis pun menawari cemilan pada Naya, terlihat lagi Erwin memainkan gitar disamping Naya. Damai.


Banyak perbincangan tentang masa depan dan rencana yang akan dilakukan kedepannya. Salah satunya Naya bercerita dengan penuh kegembiraan dalam harapan.


"Aku tuh dari dulu pengen banget cepat dewasa, terus bisa kerja, punya uang, bisa bantu ibu bayar uang listrik meski hanya 300 ribu." Ucapnya berbinar pada Josua yang berada disampingnya.


"Emang enggak jadi kuliah?"


Naya jadi tertegun. "Aku pikirin nanti aja deh." Ucapnya kemudian.


Josua mengangguk, menarik gadis itu agar mendekat ke sisinya. Naya jadi sedikit bingung namun menurut. "Sini." Ucap pemuda itu menunjuk bahunya. "Kalau ngantuk tidur disini."


Mendengar itu, Naya jadi tersipu. Ia menjatuhkan kepalanya dan sedikit memeluk dari samping kemudian berucap, "kalau kamu nanti udah punya pacar, cintai sepenuh lambung ya, jangan sepenuh hati."


"Kenapa?" Tanyanya sambil mengelus rambut Naya.


"Biar kalau dikhianati cuma sakit perut enggak sakit hati."


Josua mengernyit kemudian tertawa pelan, "ada-ada aja." Ia mencubit hidung Naya dengan gemas.


Reyno yang sibuk melihat Instagram jadi gagal fokus karena melihat Naya dan Josua sangat dekat. "Eh, itu ngapain kayak kue lapis dempet-dempetan?"


Naya jadi malu dan hendak mengukir jarak seperti semula namun ditarik oleh Josua, "ini tuh perpisahan, momen yang harus dipakai untuk menyenangkan orang yang berharga."


Naya jadi mendongak, "aku berharga ya?"


"Berharga dong, kan kamu sahabat aku, Aduh." Naya mencubit perutnya.


"Lepasin! Ih, kesel tahu enggak!"


***


Sampai di tempat tujuan, semuanya memandang takjub. Alam yang masih asli nan cantik itu membuat semuanya terpukau. Memang kali ini tempat wisatanya bertemakan alam. Jadi mereka bisa merasakan sejuknya udara yang lebih bersih dibanding udara di perkotaan yang lumayan membuat sesak.


"Semuanya istirahat, nanti malam kita mulai acaranya."


Begitu instruksi dari Kepala Sekolah. Naya dan kedua sahabatnya dapat jatah sekamar. Dan tahulah, pastinya didalam sana mereka akan menghancurkan isinya. Namun saat hendak menuju kamar, Naya merasa ada barangnya yang ketinggalan di bus. Ia pamit sebentar dan melangkah keluar dari tempat penginapan.


"Eh, saya tuh bangga loh sama si Naya bisa ya dia lulus jalur undangan." Ucap guru olahraga.


"Ia, saya tuh berharap si Naya bisa ambil kuliah itu." Saut guru kimia.


"Tapi, kalau misalnya dia enggak jadi berangkat, bisa malu sekolah kita. Dan kemungkinan besar angkatan tahun depan jadi susah mendaftar di tempat si Naya lulus." Timpal guru yang lain.

__ADS_1


Naya yang hendak pergi mengurungkannya niatnya. Kata-kata yang terlontar dari setiap gurunya membuat ia kembali dilema. Pikirannya hanya ingin bekerja dan membantu sang Ibu agar keluar dari zona kurang mampu. Tapi jauh dilubuk hatinya, gadis itu ingin kuliah.


Ia menjauh dari kerumunan para guru, yang ia ingin sekarang adalah pulang. Ia tak ingin lagi berlama-lama disini. Ia butuh sedikit masukan agar membantunya berfikir. Dengan langkah yang cepat Naya tidak sadar sudah berapa orang yang tertabrak tanpa sengaja.


Saat sampai di depan kamar, gadis itu ingin mencurahkan isi hatinya pada kedua sahabatnya. Namun ia ragu. Ia takut di masa yang seharusnya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di hari ini harus dirusak dengan kegalauannya. Ia mengusap wajahnya gusar dan tanpa sengaja melihat kearah samping bahwa disana ada balkon. Ia berjalan ke sana, namun terkejut saat melihat seseorang yang dikenalinya berdiri memunggunginya.


"Josua." Ucapnya lirih.


Pemuda itu memutar badannya, "sini deh, ada pemandangannya bagus banget."


Naya mendekat, "mana?" Ia celingak-celinguk mencari.


"Ini" Tunjuk Josua pada dirinya sendiri.


"Cih."


"Senyum dong."


"Malas, enggak mood." Naya memalingkan wajah, menghela nafas dan menghembuskannya dengan berat.


Josua membuat dirinya dan Naya jadi saling berhadapan, "kamu kenapa?"


"Tadi guru-guru bahas tentang aku. Katanya banyak konsekuensi kalau aku enggak ambil kuliah itu." Curhatnya. Ia pun jadi bingung, kenapa akhir-akhir dirinya lebih suka membagi masalahnya dengan sang pujaan yang berstatuskan sahabat itu. Ia merasa lebih nyaman berbagi tanggungan hati.


Josua menyentuh dada Naya sebelah kiri. "Jangan pikirin pakai kepala, pakai hati Nay. Mana yang lebih utama, itu yang harus kamu lakukan."


"Bantu Ibu kamu aja dulu."


Dan ya, Naya pasti lebih mendengar usulan dari sang pujaan ketimbang dari orang lain. Bahkan saat ia tahu ada konsekuensi yang harus dihadapi, tapi ia sudah memutuskan sejak Josua mengatakan agar dirinya membantu sang Ibu terlebih dahulu. Naya mengangguk.


Naya memiringkan kepalanya berpikir sejenak, "Jo...."


"Eh maaf, maaf." Ucap pemuda itu kelabakan dan menarik tangannya dari dada gadis itu.


"Pelecehan ini!" Teriak Naya.


Josua tertawa pelan, "ssst, jangan kuat-kuat. Entar dikira bercanda kita."


"Ih." Naya kesal namun tertawa juga. Naya menatap lekat sang pujaan, "makasih, Jo."


Josua tersenyum kemudian mendekat mengikis jarak, "boleh enggak?"


"Apa?"


Josua meraih kedua tangan Naya dan meletakkannya di dada, sementara tangannya menangkup wajah gadis itu yang sedang kebingungan namun menurut. "Untuk perpisahan yang manis."


Naya jadi mengernyit entah apa maksud pemuda itu. "Kamu kenapa sih?" Kencangnya angin dan sedikit redupnya cahaya mentari karena sudah petang membuat suasana jadi lebih romantis. Dan keadaan ini kurang pantas untuk hubungan persahabatan.


Josua merapikan rambut Naya dan menyelipkannya di telinga. Ia mulai mendekat lagi, Naya ingin menghindar namun sigap tangan pemuda itu melingkar di pinggang Naya. Kemudian berbisik. "Aku mau pergi jauh."

__ADS_1


"Kemana?" Naya sudah panik dengan suasana hatinya. Ia sudah takut.


"Merantau. Tapi belum tahu pasti kapan bakalan berangkat."


Naya mencoba mengangguk pasrah. Namun jauh di lubuk hatinya gadis itu ingin sekali pemuda itu tetap berada di kota ini. Sama-sama berjuang untuk sukses disini. "Kamu kalau mau pergi, jangan pamit ya."


"Kenapa?"


"Aku takut sedih."


"Dih, nanti kalau aku pergi di bilang gak permisi."


"Untuk yang lain kamu permisi aja. Tapi sama aku jangan ya. Takut sedihnya berlarut panjang." Entah kenapa gadis itu ingin memeluk sahabatnya itu. Dan ia melakukannya.


Buat perpisahan doang😌


***


Malam puncak pun tiba, acara demi acara di isi dengan penuh tawa, tangis, dan haru. Banyak cuplikan video saat mereka belajar, ada siswa yang tertidur sampai air liurnya keluar, ada yang tertangkap basah saat makan di kantin padahal belum jam istirahat, dan masih banyak lagi.


Acara pun selesai hingga jam tiga pagi, suasana sudah sepi. Mungkin semuanya memilih untuk beristirahat karena besok mereka akan kembali pada keadaan dimana mereka harus hidup keras. Tak kerja tak makan.


Ting!


Josua : udah tidur?


Naya : belum, masih mau sikat gigi dulu.


Josua : ke balkon bentar, ada yang mau aku omongin.


"Jo?" Pemuda yang sedang menikmati langit gelap berbalik saat Naya sudah sampai ke tempat yang ia arahkan.


"Hai" Sapanya.


Demi apapun, Naya terlalu terburu dari kamar hingga lupa membawa jaket. Dingin. Sementara Josua memakai jaket yang begitu tebal nan besar. "Ada apa?" Gadis itu mendekat sembari berusaha tenang menahan terpaan angin.


Josua tersenyum melebarkan jaketnya dan memeluk Naya hingga masuk ke dekapannya. "Biar hangat."


"Cih! Kesempatan ini!"


"Ngapain coba keluar gak pakai jaket?"


"Buru-buru tadi." Jawabnya. Raut wajahnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Gadis itu sedang bersedih. Pemuda itu tahu penyebabnya.


"Cuma bentar. Nanti kalau udah sukses, aku balik kesini. Mau cari pengalaman diluar doang."


Naya mengangguk. "Jalani sesuai keinginan hati. Jangan keinginan orang."


"Soal rasa, gak usah di omongin lagi. Kita sama-sama tahu. Tunggu di waktu yang dewasa, jika Pencipta mengijinkan, percaya aja sayur dari pegunungan ketemu kok sama ikan yang dari laut di piring kita." Ia mengelus puncak kepala Naya. Kenangan ini akan sangat sulit dilupakan. Kenangan yang terlalu manis.

__ADS_1


__ADS_2