
Keadaan kantor sudah lumayan ramai. Orang-orang mulai masuk ke dalam ruangan masing-masing dan menempati tempat kerja. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dinda dan Naya. Keduanya sedang bekerja saat ini. Mereka berjanji akan pergi makan siang bersama nanti.
Ditengah sibuknya Naya mencari ide-ide yang lain dalam novel barunya, Dinda melihat Naya begitu tenang. Tapi gadis itu tau, bahwa Naya sedang tidak baik-baik saja.
***
"Ceritain aja, siapa tau aku bisa bantu."
"Kamu pasti tau lah apa penyebabnya," kata Naya tenang. "Hal yang paling aku takutkan dari dulu,"
"Ya tapikan kamu udah nikah, berarti dia udah tau sebelumnya dong."
Naya menggeleng. "Kami nikahnya dadakan, dan dia tau aku gak virgin itu saat malam pertama."
"Ha?" Bengong Dinda, dia memang tau apa yang terjadi pada Naya saat masih berumur 9 tahun. Dia tahu persis bagaimana kejadian itu melalui raut ketakutan dari Naya. "Sabar ya Nay," ucapnya kemudian dengan hati serta wajah yang prihatin.
"Tapi itu kan bukan salah kamu, jelasin ke suami kamu dong."
"Huh, andai aja Mas Erik nanya ke aku, aku pasti lega. Tapi sekedar bertanya aja dia enggan." Curhatnya.
"Sabar ya Nay," Ulang Dinda lagi.
Naya menyuap nasi goreng yang dia pesan tadi. Pikirannya masih berkecamuk. Sesaat terdengar lagi ocehan dari Dinda yang terdengar lebih heboh.
"Eh, kamu udah tau belum?"
"Belum, kan belum dikasih tau."
"Aish! Belum berubah ternyata. Itu loh, Widya udah mau tunangan, kita datang ke acara dia gak?"
"Nggak ah, ada Josua di sana."
"Iya, ya." Balas Dinda. Mengingat nama Josua, Dinda jadi merasa bersalah. Dia pikir, ini saatnya untuk meluruskan semuanya agar tidak ada lagi yang mengganjal di hati.
"Nay,"
"Hem?"
"Dulu, sewaktu Josua dan Widya jadian..ak.."
"Aku udah lupa."
__ADS_1
"Dengerin dulu nyamuk, ini penting. Buat kamu ya udahlah udah lewat, nah aku yang ngelakuin kesalahan diteror terus sama penghuni hati kecilku." Celetuknya panjang kali lebar.
"Lancar amat ngomongnya. Kayak Reza Syahputra."
"Siapa tuh?"
"Penasaran? Swipe up.."
Dinda langsung mengumpat begitu saja. Dilihatnya Naya sudah cengengesan. Barulah ia berhenti mengomel saat Naya memberi tahu bahwa pria yang bernama Reza itu adalah orang yang lagi dekat dengan idolanya, Ria Ricis.
"Jadi Nay, kita itu sepakat gak kasih tau ke kamu, tapi Widya ngotot buat kasih tau, katanya biar Niel panas. Eh taunya si Niel nyambungin ke kamu."
Meski sudah lewat, tapi jiwa penasaran Naya masih berfungsi dengan baik saudara-saudara. "Terus?"
"Ya gitu, aku jadi gak enakan sama kamu. Ngerasa bersalah gitu. Sampai segan banget buat sekedar nyapa kamu. Lebih tepatnya takut," ucapnya lirih memandang ke arah Naya.
Naya tertegun beberapa saat. "Ya ampun anak dinosaurus, kalau tau salah tuh ya, samperin orangnya kasih tau semuanya, bukan menghindar karena bersalah ya Dinoemon!"
"Apaan Dinoemon?"
"Dinda Dinosaurus cucunya Doraemon!" Semburnya, "eh tapi kok Widya gak sama Josua lagi?"
Naya mengangguk saja. Biar sajalah semuanya berjalan sesukanya.
Ting!
Niel : Ikan hiu sambar gledek, apa kabar Dek?
Sontak Naya tersenyum. Sahabatnya yang satu ini cukup waras untuk menjadi teman dikala sedih. Diapun mengetikkan balasan.
Naya : Stroberi mangga apel, kenyang....
Niel : Gak nyambung, Bambang!
Naya terkekeh saja dan menyimpan kembali ponselnya. Dia tahu pria itu mengkhawatirkan dirinya. Dan bisa ditebak, pria itu mengirimkannya pesan karena suatu alasan. Ya, paling untuk mengajak dirinya pergi bersama ke acara tunangan Widya, secara Niel sudah dicap sebagai 'Sad Boy' wakil presiden dari ke jombloan.
Setelah selesai makan, keduanya kembali berbincang-bincang ringan. Mengingat semua kenangan yang dulu pernah dilewati dan masa-masa suram selama beberapa tahun belakangan ini. Dan Naya baru sadar, Dinda juga kesepian selama lima tahun ini sama seperti dirinya, apalagi sejak ia tahu hubungannya tak baik dengan Harry, dia jadi iba.
***
Malam hari, Naya sudah sampai ke di depan rumah. Dia menatap rumahnya sebentar, ingin sekali rasanya dia tidur didalam sana, karena jika takut sendiri, dia akan menyelinap ke kamar sang Ibu atau kamar Dina. Tapi, dia adalah seorang istri saat ini. Dia pun melangkah ke arah rumah sang suami.
__ADS_1
Sampai di kamar, Naya langsung pergi kamar mandi untuk bersih-bersih. Dia pun keluar dengan piyama tidur. Diambilnya MacBook miliknya, kemudian menyalakannya.
Selain menulis dan dikontrak oleh perusahaan offline, Naya juga memilih untuk menulis di sebuah aplikasi online. Dengan menulis, dia pasti lebih disibukkan dengan pikiran, jadi akan sangat membantu untuk melupakan masalah yang sedang menimpa.
Jari lentiknya mulai menari dengan lincah di atas keyboard. Sesekali ia melirik kertas catatan yang sudah dicoret tentang beberapa potongan kata-kata yang dirangkainya beberapa hari yang lalu. Ia mulai menyambungkan satu persatu.
***
Tak terasa malam semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, itu tandanya dia harus segera menggeser badannya untuk berpindah ke sofa.
Jangan tanya kenapa, sudah pasti karena mereka tidak pernah tidur satu ranjang. Sebentar lagi pasti suaminya akan pulang, dia pun buru-buru menutup semua pekerjaan dan memilih langsung tidur. Dia malas bertengkar hari ini. Tak lupa ia mengirim naskah yang sudah dia ketik tadi, supaya direvisi oleh editor di aplikasi itu.
Naya mulai membaringkan tubuh mungilnya. Tak lupa juga wanita itu menggerai rambut hitamnya.
Tak lama kemudian Erik masuk ke dalam kamar dengan wajah tenang. Dia melangkah masuk sekilas melihat ke arah Naya yang sudah tertidur pulas. Ia pun melangkah masuk ke kamar mandi.
Setelah keluar dari sana, Erik naik ke atas ranjang. Ia membuka ponsel untuk mencari apa saja yang dapat membuatnya mengantuk. Insomnia yang dideritanya membuat pria ini tidak bisa tidur cepat. Dia setiap malam mengerang kesal karena tak bisa tidur.
Apa yang harus kulakukan? Batin Erik.
Dia mencoba menonton komedi, yang ada dirinya malah terus tertawa. Dia kembali membuka film thriller, yang ada dia jadi semakin penasaran dengan film itu. Akhirnya dia membuka berita, parahnya lagi, dia semakin antusias.
"Sial!"
Kini pria itu mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba keningnya mengerut, "kenapa tidak bisa tidur??!!" geramnya.
Erik menyerah. Dia duduk kembali membiarkan saja waktu lewat sesukanya.
Pada pukul satu dini hari, samar dia mendengar Naya mengigau. Dua menit setelah itu, terdengar isak tangis. Erik masih diam ditempatnya.
"Jangan... aku mohon, hiks, hiks," Naya semakin menangis dalam keadaan tertidur.
Erik penasaran, dia mendekat dan terkejut melihat wajah Naya yang sudah basah karena keringat.
Dia memperhatikan raut ketakutan tergambar jelas di wajah istrinya. "Dia kenapa?" tanyanya entah pada siapa
"Jangan..... Aku mohon jangan, jangan! Arrggghhhh!!! Huaaaa.... huaaa..." Tangisnya memecah sampai terbangun, dia terduduk lemas di sofa dan melanjutkan tangisannya di dunia nyata.
Masih dalam keadaan menangis tak menyadari sang suami ada dihadapannya.
"Hiks, hiks" Naya sesenggukan. Matanya merah dan sembab, wajahnya terlihat sedih sekali. Erik perlahan mendekat, pandangan mereka bertemu tanpa bersuara. Pria itu mulai berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ini?
__ADS_1