
Hanya tinggal menghitung hari, Naya dan teman-temannya akan sah menjadi alumni dari sekolah mereka. Menuntut ilmu jenjang atas sepertinya sudah cukup sebagai bekal mereka untuk bersaing di dunia orang dewasa. Naya menghembuskan nafasnya ketika hendak melangkah keluar dari kostnya, "semoga hari ini lebih baik dari sebelumnya, dan semoga ujiannya enggak payah, amin." dirinya merapal doa karena hari ini adalah hari pertama UN berbasis komputer.
Satu hal yang ia senangi dalam ujian terakhirnya ini, berhubung berbasis komputer kemungkinan siswa menyontek akan minim. Gadis itu tidak suka yang curang, tapi bukan berarti ia tak pernah menyontek. Pernah, tapi ramai-ramai.🤣
Josua sudah membunyikan klakson, Naya berlari kecil. "Hai." Sapa pemuda itu.
Naya tersenyum membalas, "aku ujiannya pasti enggak fokus."
"Kenapa?"
"Inisial nama kita itu dekat, J dan M. Kemungkinan tempat duduk kita juga pasti enggak jauh-jauh."
"Terus?"
"Ih, aku tuh gagal fokus kalau ada kamu. Dipikiran aku tuh ada kamu, takutnya pas ujian aku ketik nama kamu semua."
Josua dengan gemas mengacak rambut gadis itu. "Ada-ada aja. Yuk, ah." Setelah Naya mengangguk, mereka pun berangkat.
"Kalau udah tamat, kamu mau lanjut kemana?" Tanya Naya saat motor Josua sudah melaju.
"Lanjut-in hidup." Jawabnya asal yang mendapat pukulan di bahu. "Belum tahu, belum diskusi juga sama orang tua. Kalau kamu?"
"Aku sih pengennya kuliah. Tapi takut Ibu enggak sanggup."
Josua menoleh sekilas ke arah belakang mendapati gadis itu terlihat sedikit murung. "Kalau kerja sambil kuliah aku dukung kamu, tapi kalau cuma kuliah aja dalam situasi keluarga kamu yang bisa dibilang kurang, kayanya kamu harus pikirin lagi deh."
Naya menimang-nimang, kedua sahabatnya memang sedih jika harus merelakan dirinya berangkat ke luar kota untuk menuntut ilmu, namun mereka tetap mendukung untuk kuliah di universitas XX itu. Sementara Ibunya berkata terserah. Ampun, dah! Bingung yang sebenarnya itu ya sekarang ini, setelah merasa bosan sekolah dan akhirnya lulus, tapi tidak tahu mau melanjut kemana.
Naya menghela nafas, menjatuhkan keningnya di punggung Josua. "Aku bingung."
***
Tepat seperti dugaan, kini posisi Naya dan Josua memang dekat saat ujian, Josua pas sekali berada di depan gadis itu. Naya menghentak-hentakkan kakinya dibawah, sebenarnya ia sangat senang. "Nanti kalau lagi mumet mikirin jawaban, lihat muka dia aja, pasti fresh." Gumamnya cengengesan.
Setiap meja sudah ada satu unit komputer lengkap dengan headphone yang akan dipakai saat listening dalam ujian bahasa Inggris. Sebentar lagi ujian akan dimulai, ada beberapa siswa yang terlihat biasa saja, ada yang melihat-lihat kartu ujian menilai foto yang ada di kertas itu, ada lagi fokus mengotak-atik komputer yang akhirnya eror sebelum ujian dimulai dan pengawas pun kewalahan memburu waktu yang tipis.
Sementara Naya mulai melipat tangannya, memejamkan mata dan menunduk beberapa saat. "Aku boleh berencana, tapi kehendak-Mu yang terjadi, semua atas seizin mu wahai Penciptaku." Ia membuka mata dan mendapati Josua sedang melakukan hal yang sama dengannya. Ia menarik garis senyum.
__ADS_1
Gadis itu mengedarkan pandangannya, nanti kalau sudah tamat dan keluar dari sekolah ini mereka pada kemana ya, kerja dimana? kuliah dimana? Satu lagi yang membuat gadis itu memiringkan kepalanya berpikir, aku penasaran, nanti teman-teman aku nikah sama siapa ya? Adakah yang berjodoh di kelas ini? Naya memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri saat pengawas datang dan memberi isyarat bahwa ujian sudah dimulai.
Sesi pertama usai, sesi dua juga hampir usai. Hanya menunggu sesi tiga, banyak siswa penasaran bagaimana rasanya ujian tapi mendengarkan dari headphone. Hingga ada kubu yang bersorak kampungan pada bagian yang penasaran.
Tibalah sesi tiga, Naya panik angkat tangan, ia tidak fokus mendengar karena ada siswa disampingnya selalu bertanya ini dan itu. Ia hampir menangis, ingin marah tiada guna. Ya, ampun. Setelah menjawab bagian pilihan berganda dan esay, ia kembali murung. Kembali dibukanya jawaban listening, ia menggaruk wajahnya dan mengalihkan tatapannya pada sang pujaan.
Josua mengangkat dagunya tanda bertanya. "Kenapa?" Tanyanya tanpa bersuara. Naya berucap tidak siap tanpa suara juga. Pemuda tersenyum kecil kemudian memberi tahu jawabannya. Meski hanya di hantu dua jawaban, namun Naya sangat senang. Ah, penolongku.
Coret-coretan!!!
Begitulah sorak gembira para siswa-siswi yang baru saja selesai ujian. Semua memekik senang, padahal hasil ujian belum tentu memuaskan dan pastinya belum tentu lulus. Ya, amplop.
Naya dan kedua sahabatnya lebih memilih untuk berdiam di sekolah. Hanya meminta sedikit tanda tangan dengan spidol pada orang-orang dekat. "cih, orang-orang sok lugu!" beberapa siswi mencibir saat melihat kelakuan Naya yang tidak terlalu mau heboh.
"Eh kentang rebus!" Ucap Widya yang sudah panas, namun ditahan oleh Dinda dan Naya.
"Biarin aja, yang penting laki kita disini." Naya menunjuk kearah kumpulan Josua dan teman-temannya yang tampak sama tidak ikut coret-coretan. "Si Niel patuh sama kamu kayaknya Wid, semalam diancam pakai apa?"
"Kalau berani coret-coretan aku sunat, aku bilang gitu doang kok."
"Dih, takut dia." Ejek Dinda.
Harry mengangguk setuju. "Banyak juga nih yang pada ngisi, tiga bulan lagi minta pertanggungjawaban."
Lain dengan kedua sahabatnya yang mengerti, Naya mengernyit sendiri. "Maksudnya?"
"Adek-adek enggak bakalan ngerti." Dcap Dinda yang membuat Naya semakin mengerutkan keningnya.
"Jo?"
"Maksudnya Nay." Jawab Josua namun terhenti saat melihat ekspresi Naya yang sangat antusias ingin tahu, "aku enggak mau kasih tahu ah."
Naya berdecih, "jauh-jauh sana, jangan dekat-dekat." Ucapnya namun dirinya yang pergi menjauh dari situ.
Josua jadi cengengesan dan akhirnya menyusul. Kini mereka ada di bawah salah satu pohon di sekolah itu, Naya memalingkan wajahnya. "Dih, gitu aja cemberut. Ya udah maaf."
Naya menoleh. "Dih." ucapnya lagi. "Kasih tahu dulu."
__ADS_1
"Gini ya, di jaman sekarang banyak orang salah mengartikan segala sesuatu. Misal waktu kita tamat gini, banyak orang beranggapan kalau kita udah bebas, bahkan pikiran bebasnya itu kelewatan."
"Ha? apa sih aku enggak ngerti." Wajah Naya jadi memelas.
"Bebas untuk melakukan hal sesuka hati, bebas buat keributan di jalan, bebas melakukan ..." Ia menelan ludah ragu untuk melanjutkan.
"Melakukan?"
"Ya, ya, bebas untuk yang itu. Eh, anu." ia menggaruk tengkuknya. "Berhubungan seperti layaknya suami-istri."
Naya mengangguk. "Emang banyak ya yang kaya gitu."
"Enggak juga, hanya mereka-mereka yang sudah pasrah dan," jeda. "Bodoh saja yang melakukannya."
Naya mengangguk. "Rusaknya parah ini, lebih parah dari rusaknya lingkungan."
.
.
.
.
.
.
.
.
Buat kamu-kamu yang udah lulusan tapi tetap menjaga kehormatan, salam lope' dari achuuu ya.
E tapi kayaknya buat tahun ini yang coret-coretan pasti ga banyak, karena sistem di rumah aja.
Buat yang lulus jalur covid, rebahan aja dulu ya, anggap sebagai masa pengangkatan PNS. (Pengangguran Naso Suman).
__ADS_1
yang ga tau artinya tanya sama orang Batak😂