
"Naya," suara itu memanggilku. Suara yang begitu aku rindukan.
"Josua.." mataku sendu namun memanas. Sakit sekali jika diingat bagaimana selama ini aku tidak mau berkencan dengan pria lain karena mengingat janji pria ini. Tapi hanya selang setahun saja, semua berubah sirna. Dan dalam konteks hidup yang nyata, aku disahkan jadi orang bodoh. "Kamu jahat, kamu jahat!" Isakan ku begitu bergema di ruangan yang sudah di dekorasi khusus untuk acara ulang tahunnya. "Kenapa? Kenapa harus sahabatku?!"
Josua mendekat menangkap kedua tanganku setelah beberapa ku pukuli dada bidangnya. "Kau jahat," aku merintih lagi.
Kulihat dia tersenyum lebar, "di saat seperti ini kau masih tersenyum?"
"Hahaha, lihatlah ke belakang." Ucapnya.
"Eh?"
"PRANK!!! SURPRISE!!!"
Kulihat Widya, Dinda, Niel dan sahabat-sahabatku yang lain memberi kejutan tepat dibelakang ku.
"Nay," Josua meraih pundak ku hingga aku berbalik, "kejutan buat kamu, makasih udah nunggu."
"Nay,"
"Nay?"
"Naya!"
"Ah! Ha? Apaan?" Tanya Naya.
"Ngapain senyam-senyum sendiri? Nge-halu ya?" Tunjuk Widya padanya.
"Eh?"
"Udah ah, jangan nge-halu, turun yuk, udah nyampe." Widya menarik tangan Naya keluar dari mobil yang mereka sewa dari aplikasi tadi.
Halu? Ya amplop, se-halu itu ternyata. Dasar aku.
Mereka pun masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada Dinda, Harry dan Rey. Dan ada satu lagi, Naya belum mengenal dirinya, entahlah dia pun tidak terlalu ambil pusing.
Sekarang dipikiran gadis hanyalah, kenapa jadi begini? Dan lagi, dia melirik pada Dinda yang saat itu diam saja dan bisa dibilang 'diabaikan'.
Mereka semua tampak kompak, Naya jadi sedih. Hingga seseorang yang tadinya sempat tidak menarik perhatian Naya sama sekali, datang menghampirinya.
"Hai, kenalin, aku Rido."
"Hai," balas Naya. Pria bertubuh tinggi itu tersenyum pada Naya.
"Kamu anak baru ya di sini?"
Anak baru? Naya tidak mengerti sama sekali. Lantas diapun bertanya, "anak baru?"
__ADS_1
"Iya, kita semua yang ada di sini itu satu club'. Namanya generasi club'. Emang belum lama sih, masih sekitaran delapan bulan gitu." Jelas Rido.
Delapan bulan? Selama itu aku diabaikan?
Naya membalas dengan ber-oh ria saja. Dipandangnya Dinda yang disudut sana. Gadis itu berharap sekali bisa akrab lagi dengannya, namun nyatanya disapa saja sudah sangat tabu untuk dimasukkan ke dalam kategori berharap.
"Rido, aku pamit ke kamar mandi dulu ya.."
"Silakan manis.."
Naya menangis sejadi-jadinya di sana. Dibuka nya sedikit pintu kamar mandi yang menampakan pemandangan yang entah kenapa dia jadi benci. Terlihat mereka semua sedang bercanda ria, berlari ke sana kemari membuat sesak di dada kian menyesakkan.
"Apa salahku? Apah?!" Naya menumbuk dadanya sesekali hingga terbatuk-batuk.
Naya masih bertahan di sana hingga matahari tenggelam di tempatnya. Ruangan yang tadinya begitu polos begitu kelihatan sangat meriah karena pernak-pernik. Orang-orang di sana memang tak seberapa, tapi ini sudah cukup untuk membuat kejutan yang bisa dibilang wau.
"HAPPY BIRTHDAY!!!"
Iya, Naya juga ikut bersorak saat Josua datang dengan nafas terengah-engah, karena terakhir kali Naya mendengar rencana mereka untuk memberi informasi bahwasanya Widya sakit. Dan benar saja pemuda itu sepertinya memang sangat menghawatirkan kekasihnya.
"Ya ampun, kamu keringatan Bebi" Widya mendekat dan mengambil tisu beberapa lembar lalu mengelap keringat sang kekasih.
Ya, Tuhan, aku cemburu.
"Katanya kamu sakit," ucap Josua khawatir.
Udah pisau, belati, tombak, mau nusuk aku pakai apalagi sih.
Satu persatu mulai menyalami Josua serta merta memberi selamat. Sekarang adalah giliran Naya. Tapi dia enggan. Diliriknya Dinda tanda meminta suatu pendapat, nyatanya gadis bermata coklat itu memalingkan wajah dari Naya.
Huff.
"Selamat ulang tahun Jo," Naya mengulurkan tangannya. Widya tahu ada aura kecanggungan diantara Naya dan kekasihnya, dan dia tidak suka suasana seperti ini.
"Bebi, balas dong ucapan Naya."
Josua bergeming dan menyambut tangan Naya. "Makasih Nay,"
Naya tersenyum. Dilihatnya wajah Widya sudah mulai tak enak, ditariknya tangannya seraya berkata, "panjang umur ya, semoga kalian langgeng juga. Oh, iya, sekalian aku mau pamit sama kalian semua. Aku pergi, semoga kita berjumpa di waktu yang kata orang-orang beberapa tahun kemudian." Naya berbalik. Tanpa di sadari mereka yang ada di situ sedang mendengarkan Naya.
"Mau pergi kemana Nay?" Tanya Rey memberanikan diri.
Naya menoleh ke arah sumber suara, "kebetulan dua menit yang lalu ada pemberitahuan aku bakalan di karantina di suatu tempat. Novel aku lulus kontrak, jadi harus fokus dulu. Dan aku lagi kuliah dan kerja juga, maaf kalau gak akan pernah bisa kumpul sama kalian lagi."
Naya melangkah dan menoleh lagi pada Dinda. Gadis itu sudah melihat dirinya ternyata.
"Saya Pamit."
__ADS_1
***
"Naya!" Josua menghampiri bahkan menarik lengan Naya yang kala itu hendak berangkat menggunakan taksi. Koper-koper nya sudah dimasukkan terlebih dahulu ke bagasi. "Dengerin dulu penjelasan aku,"
Naya mengernyit, "penjelasan? Maksudnya?"
Nafasnya masih tersengal-sengal, "Aku sama Widya jadian karena ada sesuatu, tolong ngerti,"
Naya kembali membuka pintu taksi dan lagi dicegah pria itu. "Apa lagi sih?" Naya menarik tangannya kesal.
"Nay, dengerin dulu."
"Pak, maaf ya, teman saya mau ngobrol sebentar," pamit Naya pada supir taksi dan di balas ya. "Kamu mau bilang apa? Hn?"
Josua menatap Naya penuh arti. Setahun tidak bertemu, dia kira Naya masih sangat mudah untuk ditaklukkan. Karena setahunya Naya dari dulu sudah menyukainya. Tapi nyatanya, gadis yang bertambah cantik dan molek itu sudah memiliki aura yang memikat. Hingga Josua sendiri pun enggan untuk menolak. Tapi apalah daya, dirinya sudah menyakiti gadis ini. "Maaf,"
"Buat apa?"
"Segalanya."
Naya sudah mengerti maksud pria ini. Tangannya pun refleks terangkat ke udara dan berhenti dipundak pria itu, "baik-baik ya sama Widya, kalian bahagia, aku lebih bahagia." Ucap Naya tulus.
"Nay," lirih Josua. Naya tersenyum. Dan mengatakan dirinya baik-baik saja. "Widya ngancam bakalan bunuh diri kalau sampai Niel yang lebih dulu punya pacar, dia gak mau kalah saing." Naya diam menyimak, "makanya aku mau Nay, aku gak mau lihat dia celaka."
Naya tertawa. Apa hubungannya sih dengan dia. "Gini ya, standar aku yang udah sangat pantas diperebutkan, karena janji mu yang tidak seberapa itu," Naya tertawa lagi, "aku berani menolak semua pria yang jauh ada apanya dari dirimu yang bukan apa-apa."
Ya Lord, belajar les kesombongan dari mana aku ini. Persetan dengan itu, kali ini aku harus membalas.
"Ssstt, aku belum selesai ngomong," Naya memberi isyarat diam pada Josua yang hendak mengeluarkan suara, "udah cukup." Ucapnya serius. Sisi wanitanya kembali muncul, "sakit tau gak sih Jo?!" Dia memukul dada pria itu sambil menangis.
"Kau pikir selama ini aku hidup dengan mudah? Ha? Merindu tengah mati di malam hari saat pikiran ku gak bisa dilayangkan entah kemana selain kamu! Bahkan di tempat ramai, aku masih merindu berat! Setiap aku dekat dengan orang lain dan hampir sampai di tahap berpasangan, kamu datang dan mengusik mimpiku. Aku gak pernah tenang hidup kalau gak ingat kamu Jo!"
"Kau pernah terjepit pintu tapi hanya kulit tipis yang terluka? Sesakit itu hati aku." Naya terisak, "kau tau.. hiks, jika itu bukan sahabat ku, aku pasti bisa terima. Tapi kenapa harus Widya?" Naya membungkam mulutnya. "Kenapa?!"
"Maaf Nay," Josua menarik Naya hendak memberikan pelukan. Tapi kemudian ponselnya berdering, dan itu dari Widya.
Josua dilema antara menenangkan gadis yang sebenarnya dia puja atau mengangkat panggilan dari wanita yang berstatus sebagai kekasihnya.
"Aku harus gimana Nay?" tanyanya memelas.
Naya tidak peduli, dia berjalan ke arah taksi. "Kalau laki-laki sejati, kau pasti tau apa yang harus kau lakukan." Naya membuka pintu dan masuk ke dalam.
Lalu melajulah roda empat taksi itu membawa Naya ke tempat yang lumayan jauh dari sana. Ketempat dimana mimpinya akan mulai di wujudkan.
Dan tentang Josua, pria itu membuktikan dirinya bukanlah pria sejati.
Karena seorang pria sejati, tau bagaimana cara memperjuangkan cintanya. Bukan malah memilih yang lain untuk menyelesaikan masalah sepele lalu mengabaikan debaran hati yang sesungguhnya untuk siapa.
__ADS_1
Kepergian Naya sebagai pertanda akhir dari cerita tentang mereka berdua. Dan takdir di depan sana, tidak ada yang tahu. Apakah mereka akan bertemu lagi dan kemudian bersama, atau bertemu dikemudian hari dengan pasangan yang berbeda. Entahlah, jodoh dan takdir itu sifatnya sama, sama-sama tidak di ketahui dan selalu memberi kejutan.
Jika memang berjodoh, kita akan dipertemukan kembali diwaktu yang dewasa, dengan rasa dan debaran yang sama. -Naya-