Pemilik Halu

Pemilik Halu
Nasihat


__ADS_3

Bau khas dari rumah sakit menjalar ke hidung orang-orang yang ada di sana. Termasuk keluarga Naya dan Erik. Dua keluarga yang kini telah menyatu menjadi satu bagian itu sama-sama sedang menatap cemas arah satu ruangan.


"Tenang Erik, gak usah salahkan diri sendiri terus," Anto sedikit menenangkan iparnya. Dia tau betul pria disampingnya ini sangat putus asa dan sedang menyalahkan diri. "Naya itu orangnya sulit jatuh sakit, tenang aja, bentar lagi dia siuman."


Erik mengangguk pasrah. Rasa bersalah masih terus menghantuinya. Apalagi saat dilihatnya Mami dan mertuanya yang terlihat begitu sedih memikirkan nasib rumah tangganya dengan Naya.


"Naya itu perempuan kuat kedua setelah Ibuku. Dia berjuang buat keluar dari kemiskinan dan bisa bawa kami ke kota ini."


Erik sepertinya mulai tertarik dengan cerita Anto. "Naya berjuang?"


"Iya, dia pernah dikontrak tiga bulan sama perusahaan penulis, tapi ada kesalahpahaman jadi dia langsung diputus kontrak begitu saja. Disaat itu semuanya terasa hampa. Naya tunggang langgang mencari uang di kota supaya bisa mencicil utang kami dikampung karena sudah diancam akan diusir."


"Terus?"


"Kalau cepat jatuh, bukan Naya namanya." Anto menatap serius ke arah Erik, "Dia terus menulis dan menulis. Jual kosmetik sana sini, mengolah online shop. Kuliah biaya sendiri. Sampai satu kali," Anto terdiam sebentar. Matanya menerawang ke arah lain membuat Erik semakin penasaran.


"Kenapa?"


Anto mendengus kecil, "Naya pernah bersujud untuk minta pinjaman pada Paman kami. Dia berani ambil resiko dan akhirnya dia berhasil dengan uang pinjaman itu. Dan kamu bisa lihat sekarangkan, tanpa kamu kasih nafkah pun, Naya bisa mengandalkan dirinya sendiri." Mengingat itu hati Anto seakan teriris, dia ingat sekali bagaimana adiknya menurunkan harga diri demi bisa meminjam uang untuk mencari kontrakan untuk mereka dan sisanya dipakai untuk mengedarkan naskah novelnya ke penerbit. "Meski dia sekuat itu, tapi aku tau, Naya itu sangat butuh kasih sayang."


Kegundahan pun kian menumpuk di hati Erik. Bagaimana dia bersikap tidak adil pada wanita yang begitu hebat. Dia semakin merasa bersalah.


"Gak mungkin lagi aku yang buat dia bahagia, sementara udah ada kamu." Anto menepuk pundak Erik, "jaga adik aku ya," lalu pergi ke kantin rumah sakit, memberikan sedikit ruang untuk Erik memikirkan semuanya.


"Oh ya, satu lagi. Dia gak pernah pacaran setelah tamat SMA. Dan ketemu kamu di waktu yang dewasa lalu menikah. Pikirkan masalah kalian baik-baik." Anto pun pergi.


Erik berdiri, menatap Naya dari kaca ruang rawat. Sebodoh itukah dirinya sampai tidak tahu siapa sebenarnya wanita kuat yang dia nikahi ini?


***


"Untunglah Naya gak kenapa-kenapa, kita bersyukur Naya bisa selamat."


Bu Sila mengangguk setuju. Beliau juga bersyukur Naya masih ada di sini. "Iya Bu Disa, terimakasih ya sudah memperhatikan Naya juga."


"Loh, Naya kan mantu saya, udah sewajarnya dong."


Erik mendekati dua wanita paruh baya itu dengan lemah. Dia benar-benar lemas sedari tadi. Apalagi dilihatnya Naya pingsan di hadapan para penjahat itu.


"Erik, kamu tenang ya, nanti kalau Naya sudah sadar bicara baik-baik sama dia. Jelaskan dia nggak apa-apa, Naya pasti trauma." Ujar Maminya.


"Iya, Mi."


"Naya itu dulunya bisa bela diri, mungkin karena sudah lama gak latihan ya jadinya gak bisa melawan. Karena udah ada kamu, jaga Naya ya, Erik." Pesan sang mertua.

__ADS_1


"Iya, maaf udah gak bisa jaga Naya selama ini." Erik benar-benar menyesali sikapnya yang memang sangat keterlaluan terhadap sang istri.


"Semua yang udah terjadi itu namanya pengalaman. Pengalaman itu adalah guru yang baik. Jangan mengulangi kesalahan yang sama."


"Suami istri itu setelah disahkan, harus bisa menutupi kekurangan, harus bisa juga mengimbangi kelebihan."


"Gak perlu buru-buru, semuanya punya proses. Kamu juga belum tentu sempurna, mungkin Naya punya masa lalu yang buruk, tapi kalau kamu tau cerita yang sebenarnya, mungkin kamu akan menyesal."


Erik mulai memahami tentang arti pernikahan dari Mami dan Mertuanya. Nasihat mereka begitu mengguncang batin pria itu.


Bahkan sekarang dia tidak bisa menolak gejolak hatinya yang menunggu sang istri untuk segera bangun. Dia benar-benar ingin segera minta maaf.


"Ya udah, temenin Naya di dalam ruangan sana. Kita nunggu di luar saja." Ucap Bu Sila.


"Iya Bu." Jawabnya dan berjalan ke dalam ruang rawat Naya.


***


Erik membuka pintu ruang rawat dan menutupnya kembali. Dia mematung sebentar memperhatikan Naya lekat. Lalu berjalan mendekat, duduk di samping ranjang Naya.


Dia dengan sabar menunggu wanita itu sadar, hingga kantuk pun melanda dia berusaha tetap membuka mata.


Pukul 1 dini hari, Naya mulai menggeliat. Matanya mulai terbuka perlahan. Berusaha tetap membuka mata dan mengenali sekeliling.


"Kamu udah sadar?" Pertanyaan itu membuat Naya menoleh ke arah sumber suara.


Kejadian yang menimpa Naya mulai menghampiri ingatannya. Bayang-bayang pria jahat yang sungguh menakutkan.


Bahunya bergetar begitu saja, Naya mulai menangis.


"Hei, tenang.." Erik mulai menenangkan. "Kamu nggak apa-apa, mereka belum sempat berbuat jahat, Mas sama Bang Anto langsung selamatkan kamu kok. Jangan khawatir."


Naya terus saja menangis, memaksa dirinya untuk duduk.


"Jangan bangun,"


Naya menggeleng, dia terus saja menangis tanpa suara.


"Hei," Suaru Erik begitu lembut ditelinga Naya.


Naya sudah duduk di ranjang, sementara Erik berdiri disampingnya, takut sang istri pergi.


"Aku takut, hiks."

__ADS_1


Akhirnya Naya bersuara lagi. Erik mendekat, mencoba mengelus puncak kepala wanita itu seperti memberi ketenangan.


"Aku takut." Ulangnya lagi dengan lemah.


"Iya, aku tahu. Sekarang jangan takut lagi, ada Mas disini."


Erik tak segan menarik Naya ke dalam pelukannya. Mendekapnya serta memberikan kehangatan dari dada bidangnya.


Naya masih saja menangis. Kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu sungguh mengganggu batin dan mentalnya.


"Maaf Naya." Ucapan itu berulang kali dilontarkan oleh Erik. "Maaf."


"Aku takut, hiks."


"Maaf,"


"Aku takut, Mas Erik."


"Iya, maaf."


"Maaf,"


"Maaf..."


***


Hingga Naya sudah merasa lelah lagi, sampai tertidur kembali di dada Erik. Pria itu diam saja tak berani membangunkan sang istri.


Sesekali masih terdengar sesenggukan yang lagi-lagi meluluhkan lantahkan perasaan bersalah dari Erik.


"Maaf, Nay. Setelah ini aku janji gak akan membiarkan siapapun sentuh kamu." Ucapnya sungguh-sungguh.


Sepanjang malam pun pria itu tak lagi melepaskan Naya dari dekapannya. Begitulah awal rumah tangga mereka mulai membaik.


Erik tak sabar menunggu esok pagi supaya bisa meluruskan semuanya. Bahkan tentang ke virgin-an pun mungkin dia sudah lupa.


Biarlah semuanya berjalan sesuai takdir. Boleh kita lawan, tapi ingat, apa yang seharusnya untuk kita tidak bisa ditolak. Belajar dan belajar untuk menerima. Hanya itu.


***


Halo semuanya para pembaca yang setia nan budimanšŸ¤—


Aku Maya Sofina mengucapkan banyak terimakasih buat kalian. Siapapun yang udah mampir dukung aku ya, dengan cara like, komen dan rate.

__ADS_1


Novel Pemilik Halu ini sudah dikontrak oleh Noveltoon, dan aku sangat bersyukur. Terimakasih itu semua karena kalian, salam luvā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2