
Banyak orang berpikir bahwa tamat dari sekolah adalah hal yang sangat menyenangkan. Bisa bebas ke sana kemari tanpa memikirkan tugas-tugas sekolah yang selalu menumpuk dan tentunya terlepas dari setiap ancaman guru yang tidak terlaksana. Misalnya selalu mengatakan remedial jika tugas tidak diselesaikan atau tinggal kelas jika tidak hadir beberapa kali. Kenyataannya saudara-saudari, kehidupan nyata dimulai saat kita tamat sekolah.
Beberapa Minggu kemudian...
Dan disinilah Naya sedang merenung memandangi dirinya di depan cermin. Ia sudah merencanakan untuk melamar pekerjaan hari ini. Pikirannya sudah melambung jauh memikirkan bahwa dirinya akan bekerja dan mendapatkan gaji. Selepas perpisahan beberapa Minggu lalu, ia dan teman sekelasnya menerima surat kelulusan. Dan hari itu pula terakhir mereka berjumpa.
"Huff, ngeri ya kalau udah tamat gini. Aku kira mereka semua punya waktu bebas dan bisa kumpul dengan leluasa. Tahunya gak bisa." Keluhnya di depan Cermin.
Kemeja putih dan celana hitam tampak cocok untuk gadis itu. Tampak rapi. Ia meraih beberapa amplop cokelat yang sudah ia isi dengan surat lamaran semalam dan bersiap untuk pergi mengadu nasib. "Semoga hari ini jadi hari baik." Ucapnya sebelum benar-benar keluar dari kamar kostnya.
Naya sudah menyusun beberapa daftar nama perusahaan yang akan didatanginya. Bulan ini adalah bulan Mei. Ia menargetkan harus punya kerja sebelum habis bulan. Karena gadis itu sudah menghitung sisa pegangannya hanya tinggal sedikit. Sebenarnya bisa saja meminta pada Ibunya yang dikampung, namun rasa malu menyelimuti hatinya.
Di dalam angkot menuju salah satu tempat tujuan, Naya mempraktekkan cara berbicara saat interview.
"Ehm, halo.. Aduh, kayak lagi nelpon lagi."
"Emm, saya Naya. Nama lengkap saya Naya.. Ah tidak-tidak! Terlalu bertele-tele."
Ia mencoba lagi.
"Selamat siang, nama saya Naya. Um.." Seketika ia lupa dengan apa yang harus di ucapkan, "disini aja aku gak bisa, gimana disana! Help me God!"
"Mbak, tolong ya, kalau mau latihan itu di rumah. Berisik!" Ucap salah satu penumpang dengan judes.
Mati! Kena semprot aku, hiks.
Naya hanya menunduk dan meminta maaf dengan suara kecil. Dalam tunduknya, ia menyadari satu hal. Dia kurang pandai dalam hal berkomunikasi.
Tuh kan jadi nyesel pas belajar ilmu komunikasi lari ke kantin.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ia tetap menggerutu. Tapi tetap ada hal optimis yang ia ciptakan. Tidak boleh pesimis meski tidak hari Kamis, semangat! Lagi-lagi mendapat tatap sinis dari penumpang lain karena sempat teriak.
Cukup Naya!๐
***
Naya tertunduk lesu di pinggir jalan. Keringat mulai bercucuran di area wajahnya, sudah tampak kusam. "Dunia orang dewasa kayak gini ya?" Ia bertanya-tanya seolah ada seseorang yang mendengar.
Gadis itu baru saja ditolak tiga perusahaan sekaligus. Alasan mereka hampir sama. Di perusahaan pertama, "maaf nona, anda kurang tinggi." Selanjutnya, "jawaban anda saat interview lumayan memuaskan, namun tinggi badan anda kurang." Ya, Naya tadinya sempat melihat cara interview yang benar melalui aplikasi YouTube. Jadi tidak terlalu gugup dalam menjawab pertanyaan. "Maaf, kami membutuhkan wanita minimal memiliki tinggi 165 cm. Anda masih 150, mohon cari di tempat lain saja."
"Huaaa..Huaa..." Seketika Naya jadi menangis. Alasan itu membuatnya hampir gila. Dan ia berjanji sepulang dari sini akan menarik dirinya dengan tali supaya bertambah tinggi.
"Nyesel aku tuh, dikasih les renang gratis di sekolah masih ngumpul gak jelas sama teman, huaaa"
Setelah lelah dengan drama yang ia ciptakan sendiri, Naya berusaha berdiri. Tiba-tiba ia mendapat pesan dari Dinda.
*Josua udah pergi Nay. Sabar ya..
Sabar๐
Naya tahu, segila apapun ia menanggapi hari ini, tidak akan ada artinya. Karena apa? Karena tidak ada yang peduli. Widya sahabatnya sudah berangkat bersama Niel seminggu yang lalu. Mereka pergi ke luar kota untuk mengadu nasib bersama. Sungguh romantis. Dinda juga pergi keluar kota untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Sedangkan Rey dan Harry masih menetap di kota yang sama dengan Naya.
"Oh, ini toh yang namanya dunia orang dewasa! Aku tidak takut! Dan kau Josua! Pergilah, aku akan menunggumu."
Sesaat ia terbayang lagi ucapan penolakan dirinya, Josua terlalu tinggi buat aku yang sekecil ini. Ah, maafkan aku Tuhan yang tidak bersyukur ini. Ya sudah Jo, kalau mau pergi ya pergi, aku ini siapalah untuk dirimu. Hanya kaleng kosong kan? Atau supaya lebih menyakitkan, hanya kaleng-kaleng saja kan? Hiks. Ditendang masuk parit, dibiarkan berkarat.
***
Di kamar.
__ADS_1
Setelah menyadari kekurangannya, ia mulai mencari situs lowongan kerja yang sesuai dengan kriteria. Mengandalkan sosial media, mencari kontak keluarga atau teman yang sudah bekerja. Rata-rata jawaban lagi-lagi membuatnya mengerang kecewa.
"Kalau mau masuk kerja disini, harus bayar admistrasi, Dek."
"Harus ada orang yang kamu kenal di dalam kantor."
"Bayar aja, biar cepat proses masuknya."
Naya membelalakkan mata membaca beberapa balasan chat dari seniornya. Ia tercengang tidak percaya. "Dunia orang dewasa begini kah? Aku harus menyuap? Gitu? Ah! Sial.."
Keuangan Naya tidak perlu diragukan lagi. Selalu kurang. Ingin rasanya mengadu pada sang Ibu, tapi ia harus tahan. Sudah resiko jadi orang dewasa menanggung sakit sendiri.
Belum saatnya mengatakan aku lelah atau menyerah. Ini permulaan.
Beberapa keluarga sudah ia hubungi. Ia sedikit melanggar prioritas dirinya untuk tidak meminta bantuan kepada kaum keluarga, ia pernah berjanji tidak mau merepotkan orang lain. Tapi sayangnya, keadaan memaksa Naya harus menurunkan ego kali ini.
Naya melirik buku diary yang terletak sembarang disampingnya. Diraihnya buku itu dan memeluknya sebentar. Kemudian mulai meluapkan isi hatinya yang sedang hancur lebur.
*Dear Diary...
Jika tak bisa berkata menyerah, bolehkan aku mengeluh sedikit saja?
Dunia orang dewasa menakutkan Diary! Kau tahu? Bahkan takdir dan nasib sangat mengerikan bagiku.
Hari ini aku ditolak tiga perusahaan, lalu dapat kabar Pujaan ku sudah pergi.
Dan tiga hari lagi, hari terakhir untuk daftar ulang di Universitas XX. Aku tahu, aku sudah tidak bisa kesana karena itu adalah hal yang paling mustahil. Kemana aku harus melangkah Diary?
Ibu, bolehkah aku egois sekali ini saja? Aku hanya ingin kuliah! Persetan dengan kerja! Aku hampir gila!
__ADS_1
Naya menutup kasar buku kesayangannya itu. Pundaknya yang hendak bergetar ditahannya dengan kuat. Ia takut menangis.
"Aku pikir setelah tamat, kuliah, kerja, beberapa tahun kemudian sukses. Cih! Ternyata sangat jauh dari ekspektasi ku. Baiklah. Mari kita mulai lagi dari awal."