
Disetiap kelas, pasti selalu ada yang namanya persaingan. Baik dalam prestasi, kerapian, kecantikan, maupun kegantengan. Dan yang paling populer di kelas Naya adalah persaingan mencari gebetan terkeren.
Seperti saat ini Naya sedang merasa tersaingi oleh Lilis, seorang gadis modis berparas elok, tinggi, putih, rambut panjang. Siapapun yang melihat Lilis pasti bisa jatuh hati. Naya tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa Lilis dekat, tapi akhir-akhir ini gadis itu merasa terusik melihat kedekatan antara Josua dan Lilis.
"Jo." Panggil Lilis dengan lembut menghampiri pemuda itu yang sedang duduk di kursinya. Josua yang sedang menulis sesuatu mendongak.
"Ya, Lis?"
Lilis meraih lengan pemuda itu dan bergelayut manja. "Main games yuk."
Josua hanya mengangguk, ia tak tega menolak permintaan gadis. Lebih tepatnya tidak ada alasan untuk menolak.
Disebelah barisan meja Josua, ada Naya yang sedang berapi-api terbakar cemburu.
Nay, sadar! Cuma sahabatan doang, enggak lebih!
"Ummm, saya mencium ada aroma-aroma hati panggang."Lledek Niel sambil memperagakan seorang aktor yang sering muncul di TV.
Saat ini Niel duduk bersama Naya karena tadi dipaksa oleh Dinda karena gadis itu ingin duduk bersebelahan dengan Harry.
"Apaan sih."
Niel menarik kursinya agar lebih dekat dengan Naya. "Mau enggak jadi adek angkat aku?" Tawarnya.
Naya menoleh. "Setan apa yang merasukimu?"
Niel mendecak. "Aku tuh pengen banget punya adek, tapi emak sama bapak aku tuh udah enggak sanggup lagi katanya."
Naya mengernyit lalu tersenyum. "Kasih lima ratus dulu biar aku mau," Naya menengadahkan tangannya ke arah pemuda itu.
Niel dengan sigap meraba sakunya. "Boleh tawar enggak?"
"Ketularan jiwa emak-emak ini. "Ucap Naya cengengesan. "Boleh, Bang. Mau berapa?"
Niel mengeluarkan uang logam seribuan. "Seribu aja, nih. Buat adek kesayangan." Ucap pemuda itu sambil mengacak rambut Sang Adik yang baru saja Ia angkat secara dadakan.
Mata Naya langsung berbinar dan menumbuk-numbuk gemas badan pemuda itu. "Makasih Abang acu." Ucap gadis itu dengan bahasa milenial super lebay.
Momen tumbuk-tumbuk gemas ditangkap Josua sebagai pukul-pukul romantis yang membuat pemuda itu gerah seketika dan kemudian gencar meladeni Lilis yang saat ini di sampingnya.
"Mau main game apa Lilis cantik dan manis." Ucap pemuda itu dengan sengaja memperkuat volume suaranya agar Naya terusik. Dan ya, kalimat itu berhasil membuat Naya mengipaskan tangannya seperti sedang kepanasan, namun Niel mengambil buku untuk mengipasi gadis itu.
"Ngajak perang ya?" Gumam Josua dalam Hati.
__ADS_1
Dengan manja Lilis berkata. "Main games yang ada di Instagram aja, Jo. Ada yang lagi populer banget."
"Oke, sini hp kamu." Pintanya. Josua mulai mengotak-atik hp Lilis, "mau games yang mana?"
Lilis mendekatkan wajahnya ke layar hp dan membuat jarak keduanya hampir tak tersisa, dan terdengar dari seberang Naya yang sudah panas menendang asal mejanya.
"Yang ini aja Jo, main pernah-enggak." Lilis memberitahu cara bermain dengan games itu.
Josua mulai dengan membacakan pertanyaan satu demi satu yang ditampilkan dilayar hp. "Merasa tersaingi."
"Pernah,"
"Menunggu yang tak pasti"
"Pernah"
"Ditolak"
"Engga pernah, makanya kamu jangan nolak aku, Jo" Ucap Lilis dengan manja. Lagi, Naya jadi cemberut di seberang sana.
"Kesurupan"
Lilis tersenyum, "enggak pernah, kan dipikiran aku hanya ada kamu." Gombal gadis itu yang membuat Niel jadi tertawa terpingkal melihat ekspresi Naya yang siap menerkam, namun tetap dipasang biasa saja saat Josua melirik.
"Pernahlah Bang, kan aku suka sama filmnya." Jawab gadis itu.
"Nah, aku paling suka tuh pas dia ngeluarin Rasengan." Sambil meniru Naruto yang menciptakan Rasengan.
Naya mengernyit. "Terus?"
"Nih udah Abang buatin Rasengan spesial buat ngalahin tuh cewek, tinggal lempar aja Dek." Pemuda itu memberikan Rasengan khayalan pada Naya, dan diterima dengan sangat polos oleh gadis itu.
"Ke kepala, leher atau punggung nih Bang?" Tanya gadis itu yang hampir tertawa karena tingkah konyol mereka berdua.
"Leher atau kepala aja Dek, kalau punggung seram, jadi sundel bolong entar." Jawabnya tertawa pelan.
"Rasengan!" Ucap gadis itu sambil melemparkan tangannya ke arah Lilis dan dengan cepat menariknya takut Josua melihat tingkahnya.
Niel tertawa puas. "Perang telepati ini mah."
Naya jadi tertawa juga. "Perang batin ya Bang?"
Niel mengangguk. "Iya, kalian lucu sama-sama buat panas padahal kan bisa kalian berdua yang main games dan bermesraan."
__ADS_1
"Auk akh, tuh cewek aja ganjen." Balas Naya ketus dan membuat Niel cekikikan.
"Cup cup, Adeknya abang panas hati ya? Ya udah, kalau nanti malam si Jo chat kamu, ajak baku hantam online aja."
Naya jadi tertawa. "Emang bisa Bang?"
"Bisalah, kan tinggal share lokasi, terus pilih, mau baku hantam langsung atau telepati kaya barusan." Naya menepuk pundak Niel sembari
tertawa.
Josua melihat betapa bahagianya dua orang yang dianggapnya sahabat itu seperti menusuk dirinya, tanpa ia sadari dirinya juga menusuk sahabat wanitanya. Ia sudah bosan dengan keadaan ini. Namun ia sadar, hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Jadi, memiliki hak untuk cemburu pun tidak pantas.
***
Pulang sekolah Naya masih cemberut walau diantar oleh Josua pulang ke kostnya.
"Senyum dong. "Ucap pemuda itu yang membuat Naya memaksakan senyumnya.
"Kamu kenapa?" Tanya pemuda itu, berharap gadis itu menjawab bahwa ia cemburu saat melihat dirinya bersama Lilis.
Belum sempat menjawab, seorang pemuda dari dalam kost Naya muncul. "Hai, kamu Naya kan? Aku Roy, sepupunya Rika." Pemuda tinggi yang wajahnya bisa dikatakan lumayan itu memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.
Naya sedikit ragu namun tetap menjabat tangan Roy. "Kamu tau dari mana namaku?"
"Dari Rika sama anak kostnya lainnya, aku sering kesini tapi kamu enggak pernah gabung, jadi kita belum pernah kenalan." Jelasnya.
Naya hanya mengangguk ria. "Oh iya, ini teman aku, Josua." Tunjuknya pada sang sahabat. Kedua pemuda itu saling membalas senyum.
"Kamu hari ini gabung sama kita ya di ruang tamu, jangan di kamar terus." Ucap Roy yang hendak masuk kedalam kost.
Naya tidak menanggapi, Ia menoleh pada Josua berharap ada raut cemburu disana. Namun Josua hanya bersikap biasa saja. Ternyata pemuda itu memainkan peran dengan sangat baik.
Akunya aja yang terlanjur baperan, padahal dia biasa aja. Keluh Naya.
Enggak si Niel, ini ada lagi entah nyamuk dari mana munculnya. Heran, ujian hidup banyak amat. Josua.
Cukup lama keduanya diam dalam pikiran masing-masing. Naya menendang-nendang batu kecil yang ada di kakinya dengan raut kesal, Josua pura-pura memainkan ponselnya.
Naya berdehem. "Pulang Jo, makasih ya, hati-hati." Ucap gadis itu memecah keheningan.
Josua hanya mengangguk kemudian pamit pada gadis itu. Setelah pemuda itu jauh, Naya menuliskan sesuatu di Diary yang ada di ponselnya,
Pengen deh suatu saat kita dipertemukan diwaktu yang dewasa dengan sebuah rasa yang sama. Bukan yang berbeda seperti saat ini.
__ADS_1
Izinkan aku memiliki mu walau hanya dalam halu ku, Jo.