Pemilik Halu

Pemilik Halu
Ulang Tahun


__ADS_3

"Uang, hp, ATM, sama KTP di dalam tas semua," Jawab gadis itu saat ditanyai barang apa saja yang hilang. Kini dirinya sedang berada di sebuah warung dan di kelilingi beberapa orang tua.


"Owh, merek hpnya apa Dek?" tanya seorang Pria paruh baya.


Mau nyebutin malu. Harga gak seberapa tapi hebohnya luar biasa.


"Merek Pokia Pak, memang gak mahal harganya, tapikan masih bisa di pakai." Jawabnya ragu.


"Makanya ya, kalau di jalan itu jangan main hp aja, jangan pamer!"


Bused nih Ibu-ibu. Udah dibilangin hpnya di dalam tas. Mau ngumpat, dosa!


"Kan tadi udah dibilang Bu, hp saya di dalam tas." Nadanya sedikit ditekan.


"Ya udah Dek, pulang aja. Lain kali hati-hati." Kata seorang yang lain.


Naya berdiri dan pamit dengan orang-orang di sana. Dipandangnya jalanan yang cukup ramai. Dilihatnya ke atas, terik matahari begitu sangat menyengat. Ia merogoh saku kemeja dan celananya, berharap ada uang dua ribuan di sana sekedar untuk ongkos. Nyatanya nihil.


"Sial banget! Stop. Jangan mengeluh."


Dan di sinilah dia, di tengah jalan yang penuh polusi. Naya terus mencoba untuk tidak mengumpat atau mengutuk orang yang telah menjambret barang-barang miliknya. Dia terus berjalan, berusaha mencicil jarak jauh yang akan dia tempuh. Kulit sawo matangnya kini berubah gelap seperti arang. Sakit mana lagi yang harus ku dusta kan?


***


Perjalanan pulang ke kampung halaman.


Sial, di dalam keadaan yang menyesakkan ini, tetap saja aku masih merindu. Betapa tidak tau dirinya hatiku Jo. -Naya.


Hobinya yang memang suka menulis dan terkadang senang menciptakan beberapa puisi, sampai-sampai di bus ini pun, ia tak pernah lepas dengan sang buku diary.


Banyak sekali yang sudah ia tulis di sana. Ada beberapa novel yang di tulis tangan sendiri, cerpen, quote dan tentunya lebih dominan puisi.


Seperti sekarang ini, jiwa imajinasinya sedang berkembang. Hal yang baru saja terjadi padanya, membuat ia geram dalam hati. Dan tentu saja hal itu hanya di tuang dalam secarik kertas di dalam buku.


Jalanku.


Pulang adalah jalanku.


Tidak, aku tidak mengeluh.


Karena aku masih menunggu, balasan berkah dari sang Pencipta.


Adalagi.


Jambret.


Teriakku kau abaikan


Tangis ku tiada arti bagimu


Itu milikku, tolong kembalikan!


Nyatanya, aku terluka sekarang.

__ADS_1


Dan keluh kesah lainnya ia tuang berulang kali di sana. Entahlah, sepertinya dirinya terlalu banyak membaca dan menulis. Jadi apapun yang di alaminya atau sekedar hanya di lihat, beberapa rangkaian kata tersusun begitu saja di benaknya.


Mungkinkah ini sebuah bakat untuk menjadi seorang penulis?


Naya terus saja menulis, hingga tak terasa waktu telah berlalu, ia sudah sampai di kampungnya. Orang yang pertama sekali ia jumpai adalah Abang kandungnya, pertama yang dipeluknya, pertama yang mengusap kepalanya dan sekaligus orang pertama yang mengolok dirinya.


"Yahh, korban jambret, hahaha" mengacak rambut Naya.


"Ck, Abang ih!"


"Katanya anak karate, jagoan, mana nih? Masa sih ngalahin dua orang aja gak bisa,"


"Ih, bayangin aja Bang, kita lagi santai, terus tiba-tiba leher kita sakit, ya pasti kita terdiam dulu," menjelaskan dengan kesal. "Bahkan berfikir buat teriak aja masih harus ngumpul nyawa dulu,"


"Lah, kan anak karate bisa terbang, ya gak usah lari, terbang aja."


"Ha? Terbang? Dikira orang yang belajar karate langsung jadi burung." Omelnya. "Ih, baru nyampe sih Bang, hobi banget buat aku kesal."


Faktanya, semua yang punya saudara mau itu sesama wanita atau sesama pria, tetap saja sangat sulit jika membiarkan mereka hidup tenang. Entah kenapa membuat saudara kita jadi kesal itu adalah salah satu hal terbahagia yang pernah ada.


"Ya udah, pulang yuk," Ajak sang Abang.


Naya mengangguk lemas, dia kelelahan di dalam bus, apalagi mereka harus kembali ke rumah menggunakan sepeda motor agar sampai ke rumah dari loket.


"Ibu.." Teriak Naya ketika sudah sampai di halaman rumah sederhana mereka.


"Eh, anak Ibu," Sang Ibu keluar dengan heboh, merangkul kemudian mencium putrinya dengan gemas. "Yang korban jambret harus dikasih perhatian lebih," ucap sang Ibu dan disambut tawa dari Naya.


"Adek mana Bu?" Tanya Naya pada Ibunya yang biasa dipanggil 'Bu Sila'.


"Lagi mandi, nanti aja kalau mau ngobrol sama dia."


"Oke."


"Bu Sila," Seseorang menyelonong masuk ke rumah mereka, "eh, ada nak Naya, Ibu kamu mana?" tanyanya yang tak sengaja melihat Naya sedang melipat kain.


"Di dapur Bu Rita, masuk aja," jawab Naya.


"Eh, Ibu Rita, ada apa?" Tanya Bu Sila yang baru saja datang dari dapur.


Bu Rita merogoh sakunya, "ini, saya mau kasih uang sayur yang semalam." Memberikan dua lembar uang lima ribuan. "Si Naya kok pulang kampung? Padahal yang seumuran dia lagi heboh-hebohnya mau berangkat ke negara sebelah. Mau jadi TKI katanya."


"KTP Naya hilang, jadi mau ngurus lagi makanya pulang," jawab Bu Sila.


"Oh, gitu. Ya udah, ngurusnya gampang kok Bu, kasih aja lima ratus ribu, seminggu udah keluar nanti, jemput ke suami saya aja."


Dari dulu ibu-ibu yang satu ini yang terlalu bising di telinga Naya, gadis itupun berkomentar, "Ibu Rita, kalau saya mau bekerja, mau nyarinya yang di dalam negeri, gak mau keluar. Dan kedua, mending saya langsung ke kantor lurah toh di sana gratis gak ada istilah uang suap tuh." Nadanya tampak kesal.


"Eh, biar tau ya, gaji di luar negeri itu mehong, tau mehong gak sih? Mahal! Jangan jadi orang bodoh mau dapat gaji kecil."


Naya mendecak, saat Ibunya memelototi dirinya. Iya, itu tandanya dia harus diam.


"Naya dari dulu emang gak mau ke sana Bu, dia gak bisa jauh dari saya. Itu alasan dia." Ibu Sila menjelaskan.

__ADS_1


"Ih, jangan sok harmonis gitu, di dunia ini butuh uang, selagi muda cari uang yang banyak biar gak tetap miskin kaya gini," Ucap tetangga Naya itu dengan membara. Otaknya sekarang sedang memikirkan kata-kata apa yang pas untuk dilontarkan pada wanita paruh baya yang menurutnya sangat menjengkelkan ini.


"Bu Rita," Naya menghela nafas, berusaha tenang, "terkadang hidup itu bukan hanya tentang uang dan uang, terkadang juga tentang kotoran yang lewat dari selokan."


Bicara apa sih si Naya?


"Naya!" Bentak Ibunya.


***


Sudah berhari-hari Naya di kampung. Dia merasa malas tiap kali keluar rumah, semua orang menyuruh dirinya untuk pergi ke luar negeri untuk mengumpulkan uang. Bukan mau egois atau apa, dia memang tidak suka pergi jauh untuk waktu yang lama. Seperti kata Ibunya beberapa hari yang lalu, ia tak bisa jauh.


"Pergi aja ke sana, kumpulin uang buat bayar utang piutang ibu kamu."


Kembali lagi ia mendengar kata-kata itu. Kalau dari sekedar tetangga biasa dia maklum, lah ini dari Tante kandungnya sendiri. Pening ya, Lord.


Naya pun jadi jadi malas kemana-mana. Akhirnya dia duduk termangu di kamar. Ketepatan hari ini adalah hari ulang tahun gadis itu yang ke-19. Tentu saja dia mengharapkan ucapan dari teman-temannya terutama sang pujaan.


Sampai-sampai dia rela menghabiskan uang pegangan untuk sekedar mengisi paket internet di ponsel sang Abang, nyatanya saat ia membuka aplikasi Facebook, sungguh malang deh pokoknya nasib gadis ini.


Bahkan teman-temannya melupakan tanggal kelahirannya. Sadis sekali. Pekiknya dalam hati. Jangankan teman-teman, Josua saja tidak ingat. Kalau sampai pemuda itu mengucapkan selamat ulang tahun padanya, maka Naya akan botak.


Dan sampai jam 12 malam ia tetap sabar menunggu. Akhirnya pertahanannya runtuh. Tanggal sudah berganti, tapi belum ada yang memberi selamat padanya. Sakit sekali. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis.


"Eh? Bu..." Panggil Naya, karena lampu di kamarnya tiba-tiba mati. "Lampu kita mati ya?" tanyanya dengan suara yang kuat.


Selamat ulang tahun..


Selamat ulang tahun..


Selamat ulang tahun Naya


Selamat ulang tahun


"Ah, aku kan terharu Bu... makasih.." Ia memeluk sang Ibu, lalu beralih pada sang Abang, "makasih Bang, Adek juga," berganti merangkul sang Adek yang nyatanya lebih tinggi darinya.


"Tiup dulu lilinnya Kak Nay, biar cepat kuenya dipotong, lapar nih," Seloroh Dina, Adik kandung Naya.


"Iya, bawel"


Hal yang tak pernah diduga dan disangka, hari ini dialami gadis berambut hitam pendek sebahu nan tebal itu.


Mereka melanjutkan acara dengan saling bercanda dan terbawa di tengah malam itu. Tidak ada mereka (teman dan sahabat) namun banyak sekali penutup luka.


Tahun ini mengajarkannya sesuatu, tidak perlu orang lain. Keluarga juga tak kalah asyik. Dan keluarga untuk tahun ini, menjadi surprise terbaik dalam hidupnya.


Aku hanyalah aku.


Aku dan teman, bisa memiliki ini dan itu.


Aku bersamamu, serasa dunia milik berdua.


Aku dengan keluarga, kebahagiaan mana lagi yang harus ku cari? -Naya, 8 September 2017.

__ADS_1


__ADS_2