
"Kamu mau enggak jadi pacar aku?" Tanya Roy.
Naya jadi membisu, dari acara keseruan saling ngobrol tiba-tiba jadi sedikit canggung.
"Aku mau pulang." Ucapnya tiba-tiba.
Roy menurut dan membayar makanan mereka. Diperjalanan pulang pun keduanya masih membisu, Roy disibukkan dengan pikiran bagaimana harus meyakinkan Naya bahwa dia mampu menjaga dan membahagiakan gadis itu. Sementara di benak Naya hanyalah,
Rasanya ditembak begini doang, ah enggak seru.
Sampai di kost 21, Naya turun dari motor Roy.
"Makasih Roy, kasih aku waktu buat mikir ya."
Roy tersenyum mengangguk, "aku bakalan nunggu kamu."
Naya balas tersenyum dan pamit untuk masuk. Gadis itu bergegas ke kamar, mengambil ponselnya membuka obrolan grup chat,
Naya : aku ditembak Roy, gimana nih?
Widya : terima aja, lumayan pas jadian ditraktir hehehe.
Dinda : Josua gimana?
Naya : di kepala Widya cuma makanan doang, pantesan ulangan fisika dapat nol, goreng sana, makan tuh! Josua payah, Din.
Widya : makanan itu prioritas ya ***, kalau enggak ada Niel aku masih bisa hidup, coba kalau enggak ada makanan, mati aku nya.
Dinda : Dih, malah berantem enggak jelas. Kita tunggu tiga hari aja Nay, kalau Josua kasih tanda dia ada rasa sama kamu, berarti Roy harus kamu tolak.
Naya berpikir sejenak, "iya juga sih." Gumamnya. Untung masih ada satu orang yang waras di grup ini.
Coba aja kamu yang nembak aku Jo, mungkin aku akan merona dan menggebu. Andai aja aku cowok dan kamu cewek, pasti aku udah nyata-in perasaan aku. Masalahnya kita kebalik. Aku diposisi dimana seharusnya aku yang dikejar bukan mengejar. Tapi kamu enggak mau nangkap aku.
Rika yang baru pulang sekolah terlihat senyam-senyum, "kamu kenapa?" Tanya Naya.
"Ada yang baru jadian, nih." Jawabnya sambil memeluk Naya.
"Belum Dek. Eh, kamu kok tahu?"
"Hadeh, aku ini sepupunya Bang Roy enggak mungkin dong dia enggak kasih tahu. Satu kost ini juga udah tahu kali."
__ADS_1
"Ha?" Naya terbelalak, kemudian berpikir, "kalau aku tolak dia, pasti dia bakalan malu se-malunya secara dia udah kasih tahu semua orang."
"Lagian kenapa enggak langsung diterima aja Kak? Padahal Bang Roy baik loh. Meski masih sekolah, dia udah punya usaha sendiri sekolah aja biaya sendiri, padahal orang tuanya mampu kok biayain." Ucap Rika yang membuat Naya jadi melepaskan pelukan Rika.
"Usaha apa?" Tanyanya mulai penasaran.
"Usaha bengkel kecil-kecilan gitu sih Kak, tapi udah punya anggota. Orang yang kerja sama dia semuanya teman-temannya yang kurang mampu, dia bantu dengan buka lapangan kerja." Tutur Rika.
Naya jadi mengerjap menatap Rika mencari celah dusta disana, namun hanya kejujuran yang tampak. Gadis itu sedikit bangga dan terharu, ternyata masih ada orang muda yang baik kaya Roy.
"Kak Naya kenapa enggak terima aja sih?" Tanya Rika.
Naya menghela nafas, "aku suka Josua." ucapnya jujur. Rika tidak terkejut, karena sebenarnya Ia sudah tahu hal itu dari lama.
"Tapi kan Bang Jo enggak pernah bilang suka sama Kak Naya."
Naya mengangguk, "tahu Dek, makanya aku bingung."
"Coba aja jalanin sama Bang Roy Kak, tes satu bulan dulu. Kalau Kakak bisa lupain Bang Jo dan bisa bersikap biasa aja, berarti Kak Nay udah bisa pindah hati." Rika memberi saran.
Naya menatap tidak setuju. "Jahat dong akunya, masa harus ngorbanin perasaan Roy buat cari tahu perasaan aku yang sesungguhnya untuk orang lain."
"Apaan tuh?"
"Disaat kita udah makan banyak, tapi lambung masih kendor. Aku lapar lagi Kak, padahal udah makan." Ucapnya memelas.
Naya jadi tertawa. "Ya udah, mau makan batu rebus enggak?"
"Kenyang enggak, yang ada kerongkongan koyak."
***
Sudah seminggu lebih Naya belum ada komunikasi ke kampungnya, Tiba-tiba Ia merasa rindu dengan keluarganya. Gadis itu mencari kontak 'emak lope' di ponselnya.
"Hallo Naya, seminggu enggak ada kabar kemana aja? Udah sombong ya tinggal di kota." Ucap Ibu Naya di seberang telepon yang membuat Naya jadi tertawa.
"Bukan sombong Ibu, uang Naya tinggal duit enggak bisa beli pulsa."
"Loh, uang sama duit sekarang udah beda ya?" Tanya Ibunya.
"Udah, Bu. Kaya perasaan aku sama dia. Beda." jawab Naya cengengesan. Naya cukup akrab dengan Ibunya, apalagi jiwa Ibunya yang cukup menyenangkan dan selalu mengerti menurut Naya.
__ADS_1
Selain dua sahabatnya dan teman satu kostnya, teman curhat Naya yaitu Ibunya. Naya bangga punya Ibu yang bisa di ajak bercanda dan serius dalam momen yang pas.
"Bu, maafin Naya ya."
"Kok minta maaf?"
"Iya, soalnya Ibu udah capek banting tulang kerja bayar BPJS, eh Naya enggak pernah sakit. Durhaka aku, Bu."
Terdengar disebelah sana gelak tawa sang Ibu yang membuat hati Naya sejuk. Meski keluarga Naya bisa dibilang di tingkat kurang mampu, namun ada kebahagiaan di dalamnya yang membuat gadis itu jarang mengeluh tentang kehidupannya.
Ibu Naya seorang Janda beranak 4 yang harus membesarkan anak-anaknya dengan sendiri. Karena harus membiayai kebutuhan hidup dan sekolah, Ibu Naya jadi terlilit banyak hutang disana-sini. Naya sudah membuat tekad bahwa Ia harus bisa melunasinya dengan keringat sendiri suatu saat nanti.
"Ibu, yang sabar ya, Naya udah mau tamat kok. Nanti Naya bakalan bantu Ibu."
"Ibu enggak pernah nuntut anak-anak Ibu harus sukses dan bantu Ibu, yang Ibu mau kalian hidup dengan baik itu udah cukup."
Naya semakin mencintai Ibunya hari demi hari, karena Ia tahu banyak sekali keringat yang jatuh dari tubuh sang Ibu untuk memperjuangkan hidup mereka.
Dalam suasana yang sedikit terharu dan sedih, Naya berucap. "Kalau Ibu ada masalah ingat Naya ya, pasti makin hancur."
Terdengar lagi gelak tawa dari sang Ibu. "Ibu rindu kamu Nay, pengen curhat."
Kali ini Naya yang tergelak, "jangan rindu biar Dilan aja, dia mah kuat." Lagi Ibunya tertawa pelan, "curhat calon papi baru ya Bu?" Imbuhnya.
"Iya, hahaha."
Naya tahu Ibunya hanya bercanda, karena Ia pernah mendengar sendiri bahwa Ibunya mengatakan tidak akan menikah lagi.
"Aku ada puisi buat Ibu." Ucap Naya.
"Ibu mau dengar dong."
"Kain batik kain kebaya, kancil lari dekat rusa. Moga ibu selalu bahagia, selalu sehat ke akhir masa."
"Pantun itu mah."
Naya jadi terkekeh. ''Naya lupa Ibu pinter, sehat-sehat ya Bu."
"Iya, kamu juga harus sehat dan makan yang banyak. Biar kuat hadapi kenyataan."
Entah sudah berapa kali Ibu dan anak yang sedang mengobrol melalui ponsel itu tertawa bersama. Bagi Naya, Ibunya adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya.
__ADS_1