Pemilik Halu

Pemilik Halu
Bertemu Jiny


__ADS_3

Di Taman Suropati.


Sedari pagi Naya berada di sana. Duduk termenung memikirkan nasib kehidupan yang begitu menyesakkan. Ini hidup atau tumpukan sampah sih, kenapa berantakan sekali. Ladang satu-satunya yang dimiliki sang Ibu ternyata sudah di gadaikan, dirinya belum mendapat pekerjaan, oh ayolah, kesialan mana lagi yang harus di hadapi gadis berambut hitam nan tebal ini.


Tidak ada teman yang nyata, semuanya sudah berubah menjadi teman online. Karena jarak sudah memisahkan mereka semua. Rey dan Harry yang masih satu kota dengannya pun tentu tidak akan bisa bertemu dengannya lagi sebab mereka sudah mengurus kehidupan pribadi masing-masing.


Sudah. Semuanya sudah lewat. Impian untuk kuliah tahun ini sudah dirampas oleh sang waktu yang sia-sia. "Aku ikhlas," ucapnya tulus, sembari mengelus dada memberi kekuatan pada diri sendiri.


Kakinya diluruskan untuk meregangkan otot yang mulai keram. Sekarang ia sudah siap mencari yang lain, karena baginya sudah cukup mencucurkan air mata untuk tahun ini, saatnya mencari senyum yang lain.


Bersyukur pada semua keadaan. Hanya itu sikap yang dia pakai.


"Aduh!"


Sial! apa lagi ini.


Baru satu langkah, kenapa kesialan selalu datang dengan sangat menyebalkan?


"Maaf, aku tidak sengaja," gadis berambut panjang berwarna pirang menyengir dihadapan Naya.


Baiklah, jangan marah. Jiwa malaikatku harus berfungsi untuk keadaan ini.


"Tidak apa-apa."


"Tapi bajumu jadi basah karena minumanku."


"Tidak apa-apa," Naya kembali menekan suaranya, "lagian sudah mau pulang, tidak perlu merasa bersalah."


"Eh, tunggu,"


"Apalagi?" Naya berbalik karena lawan bicaranya menangkap lengan kanannya.


"Bagaimana kalau kau mampir ke kost ku sebentar, aku akan memasak untukmu sebagai permintaan maaf ku"


Naya menaik-turunkan matanya pada tubuh gadis dihadapannya. "Aku tidak berani terlalu dekat dengan orang asing." Jawab gadis itu sekenanya.


Terlihat wajah gadis itu cemberut, "padahal aku hanya ingin berkenalan denganmu. Aku kesepian, aku hanya ingin punya teman."

__ADS_1


Apalagi ini ya, Lord? Haruskah ku temani dia?


***


Jiny. Nama gadis yang sedang bersama Naya saat ini. Kini mereka sudah sampai di kost Jiny. Sesaat Naya mengerutkan kening, pemandangan macam apa ini.


"Ini kost bebas. Pria dan wanita bisa tinggal bersama, bisa beda kamar atau satu kamar."


Naya tidak menanggapi, dia sibuk memutar otak untuk mencari alasan agar bisa keluar dari sana. Tapi dia segan dengan Jiny, bagaimanapun dia sudah setuju untuk kemari.


"Psst, cewek.."


"Suit, suit, seksi.."


Rok hitam mini dan baju crop dengan lingkaran leher yang lumayan lebar, sangat jelas menampakan bagian tubuh Jiny. Ia pun melambai saat para pemuda di sepanjang lorong memanggil dan menggodanya.


Naya memasang tampang paling judes yang ia miliki pada setiap pria yang berusaha mendekati mereka.


Apa ini?


Naya terkejut saat Jiny tak keberatan bokongnya disentuh dengan bebas oleh pemuda berambut jingkrak dan berbehel.


Naya berulang kali mengumpat dalam hati. Dia tahu banyak tentang pergaulan bebas anak milenial jaman sekarang ini, tapi melihat dan menyaksikannya secara langsung, ya, baru kali ini.


"Singkirkan tanganmu jika masih ingin hidup," ketus Naya pada lelaki berambut jingkrak itu.


Pria itu menarik tangannya kembali saat tadi ia julur kan untuk berkenalan dengan Naya. "Wau, kau menarik sekali ternyata." Ia memalingkan wajah, "kasih tau harga gadis ini, aku yang akan pertama kali menikmatinya."


Tangan Naya di tangkap oleh Jiny, "jangan begitu Tono, dia gadis baik-baik." Jiny mengedipkan mata. Seperti memberi isyarat. Entah menyuruh untuk pergi atau menunggu untuk membujuk Naya agar sama seperti dirinya.


Tono mengangkat tangan, "baiklah. Kalian boleh pergi girls"


"Para pemuda yang berkumpul di sana tinggal di kost ini juga?"


Jiny mengangguk mengiyakan, "sepertinya kau memang belum pernah bergaul dengan bebas."


Naya diam saja. Hal semacam ini yang sedari dulu yang tak ingin ia hadapi, tapi kenapa hari ini harus terjadi? Sial!

__ADS_1


"Kau sudah terbiasa seperti itu?"


Pertanyaan Naya menjurus ke beberapa hal yang belum bisa diartikan oleh Jiny. Dia pun bertanya, "seperti apa?" tanyanya balik, sembari memberi minuman dingin yang baru saja diambilnya dari kulkas.


Naya meraih botol minuman itu, meneguknya sedikit, "disentuh dan diraba secara bebas?"


"Hahaha, kau ini! Hal seperti hanya bercandaan. Hanya menggelikan saja." Jiny duduk dan berhadapan dengan Naya, "yang begitu sudah bosan ku hadapi. Lebih enak main di club' malam, di sana kalau kita disentuh bayarannya mahal."


Naya terdiam sejenak, bahunya tiba-tiba bergetar, ia tertawa garing, "kau suka bercanda Jiny."


"Hey, aku hidup di kost yang lumayan mahal ini kau pikir di biayai orang tuaku? Aku menghasilkan uang sendiri. Bahkan utang orang tuaku sudah ku lunasi, asal kau tau."


"..."


"Aku ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, aku kesini tujuannya hanya sekolah. Dua tahun lalu aku lulus masih Universitas Negeri melalui jalur undangan, tapi apa gunanya pintar jika tidak punya uang?" Ia menarik botol minuman dari tangan Naya, meneguknya sekali, Naya melihat netra gadis yang baru saja dikenalnya itu terlihat sedih, "aku bekerja apa saja setelah itu, berjualan online, mencoba segala segala yang aku bisa, yang aku dapat tidak sebanding dengan pekerjaan ku."


Naya tidak mau berkomentar, lebih baik mendengar saja dulu. Begitu pikirnya.


"Kau tau? Saat itu, aku sangat frustasi. Aku ingin bunuh diri di jalan, tapi orang yang hendak menabrak ku itu mendekati ku, dia bahkan tidak marah." Suaranya tercekat, "malah dia membawaku ke tempat mewah."


Naya berdeham, "Lalu?" Jiwa penasarannya bergejolak.


Jiny terdengar tertawa sumbang, "esoknya aku bangun sudah tidak berpakaian lagi, yang kutemukan di samping ku hanyalah sejumlah uang yang kurasa cukup membayar setengah dari utang orang tua ku."


"Ck, ck, ck, setelah itu kau terjun ke dalam dunia yang nikmatnya sesaat?" tanya Naya sinis.


"Mau bagaimana lagi? Aku sudah rusak. Sekali rusak ya rusak sajalah. Tidak usah munafik."


Aku juga sudah rusak. Haruskah aku melakukan hal bodoh itu juga supaya bisa melunasi hutang Ibu?


"Hey, kenapa kau diam?" tegur Jiny.


"Aku bisa gila mendengar ceritamu. Aku pergi dulu."


Jiny termangu. Tawaran yang diberikan bosnya sangat tinggi jika dia berhasil membawa orang baru masuk dalam club' gelap yang sedang gelutinya.


Tapi ada rasa tidak tega jika harus mengajak gadis berambut hitam ini untuk rusak bersamanya. Ada rasa sayang yang tak bisa ia ungkapkan pada Naya. Entah kenapa ia bisa dengan leluasa bercerita masa lalu pada gadis yang baru saja di kenalnya.

__ADS_1


"Naya," panggilnya.


Naya berbalik dengan malas, "lima puluh juta menunggumu jika kau bersedia bergabung bersama ku nanti malam."


__ADS_2