Pemilik Halu

Pemilik Halu
Bertengkar


__ADS_3

"Udah pulang?"


"Hm? Iya, udah Mas."


"Udah siap mesra-mesraan sama laki-laki lain?"


"Apa sih." Balas Naya acuh tak acuh. Sebab dia merasa kelelahan setelah bernostalgia dengan Josua seharian. Dia mulai melepas high heel dan mengganti gaunnya.


Setelah selesai, Naya kemudian mengambil MacBook dan mulai bekerja.


Erik sudah tidak tahan diperlakukan seperti ini. "Naya."


"Iya, Mas Erik?" Naya mengangkat kepala untuk melihat wajah sang suami.


"Kalau mau ganjen, ganjen aja, aku gak peduli. Tapi selama kamu masih jadi istri sah aku, tolong, jangan lakuin itu."


Naya masih berusaha mencerna perkataan dari Erik. Dia belum bisa mensinkronkan kemana arah pembicaraan ini.


"Setidaknya tunggu kamu dan aku bercerai!" Nadanya meninggi.


"Apa sih Mas!" Balas Naya tak kalah panas, Naya menghampiri sang suami yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya. "Maksud kamu apa?"


"Cih, berlagak lupa kamu ya. Terlalu indah yang tadi sampai amnesia udah punya suami?!"


Naya tidak terlonjak ataupun kaget. Malah tersenyum miris.


"Ini kamu yang sebenarnya Mas. Selalu meringkas hal-hal bodoh tanpa mencari kebenarannya dulu. Tanpa minta penjelasan dan sekedar bertanya!"


"Mana aku tau kamu marah karena apa kalau kamu pun gak singgung pokok masalahnya!" Teriaknya lebih keras.


"Aku gak perawan, kamu tau karena apa? Nggak kan! Kamu marah dan kecewa padahal kamu gak tau penyebabnya!!" Air matanya keluar begitu saja dalam amukan.


"Aku tanya, kenapa kamu marah hari ini? Kenapa!!" Naya benar-benar habis kesabaran.


Tiga bulan hidup bersama pria yang awalnya hangat kini berubah menjadi dingin sangat mengusik damai dari kehidupan seorang Naya.


Erik menghela nafas, sebenarnya dia tidak menyangka akan bertengkar separah ini. Dan untuk pertama kalinya melihat Naya begitu emosional. "Aku lihat kamu berduaan di SMK Cadika. Sama Josua." Nadanya merendah.


Naya mendengus kesal. "Apa kamu tau apa yang terjadi pada kami berdua hari ini?"


Erik tak menyahut. "Aku sama Josua hanya saling mengenang masa lalu sewaktu sekolah. Itu permintaan terakhir dia sebagai sahabat aku, setelah itu dia janji gak akan ganggu kehidupan aku lagi. Hanya itu Mas."


Naya menjelaskan.


Erik tak bergeming. Mulai menyadari bahwa dia salah disini. Seharusnya dia datang dan menghampirinya sang istri dan bertanya.


"Aku capek Mas." Ucap Naya datar.

__ADS_1


Naya berjalan ke arah lemari, membukanya dan mengambil koper dari sana. Dia mulai menyusun beberapa pakaian dan kebutuhan lainnya.


"Kamu mau kemana?" Erik menahan tangan Naya untuk berhenti membereskan barang-barangnya.


"Bilang sama Ibu kalau aku tugas diluar Kota selama beberapa hari, selama itu juga urus surat perceraian kita." Naya menarik tangannya, "Kalau udah selesai kabari aku, secepatnya kita selesaikan." Ucapnya tegas dan tenang. Namun jauh dihatinya dia sudah menangis.


"Kamu gak bisa gini, Nay." Bantah Erik.


"Aku capek," air mata pun kembali lolos dengan lemah dari sudut mata wanita itu, "aku capek. Udah ya..." Bujuknya lemah.


"Nay,"


"Naya..."


"NAYA!!"


Naya tak menggubris, dia terus berjalan ke arah pintu dan bergegas secepatnya dari sana.


Naya melihat ke sekeliling kamar mereka. Sepi, itu tandanya dia aman untuk keluar.


Tanpa ada yang tau, di seberang kamar mereka ada ruang kerja Erik, Bu Disa sudah terduduk lemah. Wanita itu memegangi dadanya yang mulai sesak.


"Erik, Naya ..." rintihnya.


***


Naya tidak memedulikan Erik yang terus-menerus memanggil namanya hingga membuat keluarga Naya jadi keluar dari rumah.


Erik tak menjawab matanya memandang sang istri yang sudah pergi dengan taksi.


"Ada apa Erik?" tanya Anto tak kalah panik. "Kalian bertengkar?"


"Erik!"


"Eh, iya, nggak. Eh.. nggak kok. Aku hanya.. gak mau dia pergi keluar kota karena urusan pekerjaan. Mari kita masuk." Erik memberi alasan. Mendekat pada sang mertua dan merangkulnya. Menuntun untuk masuk ke dalam rumahnya.


***


Di dalam taksi Naya terus menangis. Tak peduli dengan supir taksi yang sedang mengemudi. Dia membuka ponsel dan melihat wallpaper yang menampakan senyum bahagia dari dua pengantin.


Dia semakin terisak lagi, bayangan masa lalu bercampur aduk dengan perlakuan Erik di malam pertama pernikahan mereka. Belum lagi kemunculan para sahabat lamanya, semua semakin kacau hampir tak terkendali.


Naya mengatur deru nafasnya yang kian memburu. Mencoba untuk lebih tenang.


Sementara dilain tempat, Erik terduduk lemah diantara dua wanita paruh baya. Dia tidak bisa mengelak lagi karena Bu Disa tau kebenarannya.


"Ya, ampun, tadi kamu bilang Naya mau kerja ke luar kota, ternyata kalian berantem?"

__ADS_1


"Maaf, Bu." Sesal Erik pada sang Mertua.


"Mami, maaf." Ucapnya lemah.


Bu Sila dan Bu Disa hanya menggeleng. Untung saja penyakit orang tua tidak kambuh saat ini, Erik merasa sedikit lebih lega.


"Kalau nyatanya kalian gak baik-baik aja selama ini, kenapa harus ditutup-tutupi? Justru kalau dikasih tau, kita para orang tua pasti bantu." Bu Sila memberitahu.


"Menikah itu bukan bicara tentang dua insan saja. Tapi dua keluarga. Kalau ada masalah, dua keluarga juga harus terlibat." Bu Disa menimpali.


Erik mengangguk lemah. Merasa bersalah dengan perlakuannya selama ini. Sejenak dia tertegun memikirkannya kata-kata Naya yang terlontar amat sadis beberapa menit yang lalu. Iya-iya, kenapa aku tidak bertanya lebih dulu. Batinnya.


Naya, maaf. Pulanglah.


***


"Maaf Pak, sepertinya ini bukan jalan menuju ke tempat tujuan."


"Pak.."


"Pak." Tegur Naya, suaranya sedikit lebih keras.


Disaat sedang kacau begini bisa-bisanya ada musibah lain yang menanti dirinya. Naya siap siaga, mengambil ponsel miliknya dan menaruhnya di saku. Disaat itu pula Erik mencoba mengiriminya pesan yang berisi bahwa dia sangat minta maaf.


"Mau ngerampok ya?" Tanya wanita itu dengan tenang, namun sebenarnya dia sangat takut. Sangat. Karena bagaimanapun ilmu beladiri nya sudah berkurang sangat jauh.


"Jangan macam-macam!" Ancam Naya.


Cittt!


Taksi yang dinaikinya tiba-tiba berhenti di jalanan sepi. Drtt! Drrtt! Ponselnya terus bergetar, Naya sempat mematikan bunyi notif dan menggantinya dengan getar agar aman di saku piyamanya.


Terlihat supir itu turun dan pergi entah kemana. Naya mulai merinding, suasana begitu remang. Naya dengan cepat mengambil ponsel, nama yang pertama kali muncul di layarnya adalah Erik. Pikirannya sudah buyar, Naya secepat mungkin share lokasi. Dilihatnya keluar ada tiga pria misterius mendekat ke arah taksi. Dengan cepat Naya menyembunyikan ponselnya lagi mencari apa saja untuk melawan.


Brakk!


Pintu terbuka. Tas Naya ditarik paksa oleh pria-pria itu. Naya sudah menduga hal itu akan terjadi. Tapi dia tidak pernah menduga akan hal ini,


"Ayo, uangnya lumayan banyak, cukup buat kita happy malam ini."


"Eh, tunggu, dia cantik." Itu pujian, tapi sekaligus mantera yang akan lebih menghancurkan kehidupan wanita itu.


Naya memilih tak menampilkan wajah takut, tangannya yang mulai dingin harus dipaksa untuk kompromi. Naya mengulas senyum licik.


Naya berhasil keluar dengan menendang salah satu dari mereka, berikutnya seorang lagi menarik pakaian Naya hingga memperlihatkan bagian pundak gadis itu. Naya tidak segan mencabik mata orang itu dengan kuku spektakuler miliknya, tak lupa menusukkan mata pena ke dada pria itu.


Naya sendiri sangat terkejut dengan apa yang dilakukannya. Dilihatnya darah mulai bercucuran, karena terlalu terkejut hingga tak sadar dua pria misterius masih ada di sana.

__ADS_1


Bukk!


Sesuatu yang keras menghantam tengkuk leher Naya. Pandangannya buram, kepalanya terasa pusing dan berat. Dia pun jatuh pingsan.


__ADS_2